Marelan, Bonarinews.com — Kepala UPT SD Negeri 064006 Medan Marelan, Oni Roswita Dalimunthe, membagikan cerita praktik baik pengelolaan sampah berbasis sekolah di hadapan para kepala sekolah dalam kegiatan diskusi dan penguatan komitmen pengelolaan sampah sekolah wilayah Medan Belawan dan Medan Marelan.
Kegiatan yang diinisiasi Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP itu digelar di Foresthree Kafe, Kamis (9/4/2026). Sedikitnya 50 peserta yang didominasi kepala sekolah hadir untuk mendengar.
Dalam paparannya, Oni menekankan, perubahan perilaku siswa terhadap sampah tidak lahir dari program besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Ia mencontohkan perubahan sederhana yang kini mulai terlihat di sekolahnya, salah satunya melalui perilaku siswa yang dengan kesadaran sendiri memungut dan membuang sampah pada tempatnya tanpa harus diingatkan.
“Anak-anak sekarang sudah mulai terbiasa. Kami tidak perlu lagi menyuruh terus-menerus. Mereka sudah tahu harus ke mana membuang sampah,” ujar Oni.
Menurutnya, pembiasaan tersebut dibangun melalui integrasi pengelolaan sampah ke dalam kegiatan belajar, mulai dari pengenalan jenis sampah, pemilahan, hingga pemanfaatan kembali sampah menjadi karya.
Di UPT SDN 064006 Medan Marelan, sampah tidak hanya dikelola sebagai urusan kebersihan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Siswa memanfaatkan botol plastik, kardus, dan kertas bekas menjadi kerajinan yang dipamerkan dalam kegiatan sekolah.
Selain itu, sekolah juga menjalankan sistem bank sampah dengan skema tabungan per kelas. Sampah yang telah dipilah ditimbang dan dicatat, lalu hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan siswa, seperti pameran dan pentas seni.
Oni juga menyoroti pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung keberlanjutan program. Salah satu upaya yang pernah dilakukan adalah pelatihan pembuatan eco enzyme yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua.
“Anak-anak belajar di sekolah, tapi kebiasaan itu harus berlanjut di rumah,” katanya.
Dalam forum tersebut, turut dibagikan praktik baik dari sekolah lain di wilayah Marelan yang juga menjalankan program serupa dengan pendekatan berbeda.
Di SDS IT Raudatus Sakinah Marelan, pengelolaan sampah dikembangkan menjadi kegiatan kreatif. Sampah plastik dan kertas diolah menjadi busana daur ulang yang bahkan pernah ditampilkan dalam program televisi nasional.
Sekolah tersebut juga telah membentuk bank sampah yang aktif sejak awal 2026, dengan kegiatan pemilahan rutin setiap pekan serta pengiriman sampah ke bank sampah induk setelah terkumpul dalam jumlah tertentu.
Sementara itu, SDS IT Salsabilah Marelan menunjukkan praktik kebangkitan bank sampah sekolah yang sempat vakum. Melalui pendampingan GNI Medan CDP, sekolah kembali mengaktifkan sistem pengelolaan sampah berbasis siswa, meski masih menghadapi tantangan keterbatasan sarana dan kondisi lingkungan pesisir yang rawan banjir rob.
Meski demikian, pembiasaan terus dilakukan secara konsisten, mulai dari kegiatan pemilahan rutin hingga penguatan disiplin kebersihan di kelas.
Cerita lain datang dari SDN 065004 Marelan yang disampaikan oleh Ketua Bank Sampah Sekolah, Rizki Simanullang. Ia menjelaskan, bank sampah di sekolahnya kini telah aktif beroperasi sejak dibentuk pada 31 Januari 2026, setelah Surat Keputusan ditandatangani Kepala Sekolah, Arjuni Karyati Harahap.
Menurut Rizki, dari hasil pemilahan sampah yang dilakukan siswa di lingkungan sekolah, bank sampah telah melakukan penjualan perdana sebanyak 33 kilogram sampah anorganik dengan nilai Rp66 ribu.
“Ini hasil kerja anak-anak. Mereka yang memilah, mengumpulkan, sampai ikut dalam proses penimbangan,” katanya.
Ia menambahkan, bank sampah tersebut tidak hanya menjadi tempat pengumpulan, tetapi juga ruang belajar bagi siswa. Sampah yang dikelola berasal dari lingkungan sekolah dan juga dibawa dari rumah, menandakan mulai tumbuhnya kesadaran lingkungan di kalangan siswa.
Aktivitas pengumpulan sampah berlangsung setiap hari, terutama saat jam istirahat. Siswa secara aktif mengumpulkan sampah, sementara guru kelas mendampingi agar proses berjalan tertib dan edukatif.
Penimbangan dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa dan Jumat, dengan melibatkan siswa sebagai petugas. Keterlibatan ini menjadi bagian dari pembelajaran langsung tentang tanggung jawab, disiplin, serta nilai ekonomi dari sampah.
Dalam kesempatan yang sama, Fasilitator Project GNI Medan CDP, Nelli Lumbanbatu, menjelaskan bahwa program pengelolaan sampah berbasis sekolah yang dijalankan telah menjangkau ratusan sekolah.
Ia menyebut, dari sekitar 120 sekolah (melibatkan 600 Guru) yang menjadi target, sebanyak 5.671 siswa telah mendapatkan sosialisasi terkait pengelolaan sampah.
Menurutnya, edukasi ini penting untuk mengubah pola pikir sejak dini, karena anak-anak dinilai lebih mudah menerima dan menerapkan kebiasaan baru.
“Kita mau mengubah pola pikir, karena mereka adalah agen perubahan. Anak-anak lebih mudah untuk diajari,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengakui masih ada sejumlah sekolah yang belum melaksanakan sosialisasi secara optimal.
Karena itu, GNI Medan CDP mendorong agar pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah dapat dibawa pulang dan diterapkan di lingkungan keluarga, termasuk membiasakan pemilahan sampah di rumah.
“Kami berharap, sekolah-sekolah di Medan Belawan dan Medan Marelan ini menjadi contoh bagi kecamatan lain tentang pengelolaan sampah berbasis sekolah. Semacam sekolah percontohan,” kata Nelli.
Tak hanya itu, GNI Medan CDP juga menghadirkan Andri Samudra, Koordinator Bank Sampah Berkah Belawan, untuk berbagi pengalaman teknis kepada para kepala sekolah.
Dalam sesi tersebut, Andri menjelaskan jenis-jenis sampah yang memiliki nilai jual serta mekanisme penjemputan sampah dari sekolah ke bank sampah induk. Ia menekankan pentingnya pemilahan yang tepat sejak dari sumber agar sampah memiliki nilai ekonomi yang optimal.
Ia juga menegaskan bahwa peran Bank Sampah Berkah Belawan sangat krusial dalam rantai pengelolaan sampah sekolah. Sebab, jika proses penjemputan terlambat, sampah yang sudah dipilah berpotensi menumpuk di lingkungan sekolah dan dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar.
Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus penguatan komitmen bagi para kepala sekolah untuk mengembangkan pengelolaan sampah berbasis sekolah secara berkelanjutan.
Melalui berbagai praktik baik tersebut, GNI Medan CDP mendorong sekolah tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan budaya lingkungan di kalangan siswa.
Penulis: Dedy Hu