Tangis Haru! Zakiyuddin Harahap Turun Tangan Salurkan Bantuan Rumah untuk Korban Siklon Senyar di Medan — Banyak Warga Kehilangan Tempat Tinggal

Bagikan Artikel

MEDAN, Bonarinews.com — Suasana haru menyelimuti Gedung PKK Medan, Selasa (3/3/2026), ketika Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap menyerahkan bantuan perbaikan rumah untuk warga korban Siklon Senyar. Bantuan ini merupakan bagian dari percepatan pemulihan yang digencarkan pemerintah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Program tahap II ini menyasar 50 kepala keluarga dengan total anggaran lebih dari Rp1 miliar.

  • 27 keluarga rusak ringan menerima Rp15 juta.
  • 23 keluarga rusak sedang menerima Rp30 juta.
    Langkah ini menjadi titik awal pemulihan bagi warga Medan yang masih berjuang bangkit setelah banjir besar akhir 2025.

Kisah Pilu Warga: Rumah Hanyut, Stroke 14 Tahun, dan Penghasilan Tersisa Rp900 Ribu

Salah satu cerita paling menyentuh datang dari Nurhaida Manurung dan suaminya Maju Simangunsong, warga Jalan Starban, Polonia. Dua bangunan milik mereka—dapur dan rumah sewa yang dibangun dari pinjaman modal—hanyut dalam hitungan menit saat air naik setinggi dua meter.

Nurhaida harus dievakuasi dengan perahu karet, sementara suaminya yang sudah 14 tahun menderita stroke terpaksa dipindahkan ke rumah anak mereka.

Dalam kepanikan, Nurhaida terjatuh dari tangga hingga kakinya cedera. “Semua habis. Rumah sewa itu sumber harapan kami. Sekarang tinggal gaji pensiun sekitar Rp900 ribu setelah dipotong cicilan bangunan yang sudah hanyut,” ucapnya lirih.

Ia menyebut bantuan pemerintah sebagai “mukjizat kecil” yang datang di tengah kondisi sulit.

Banjir Bandang dari Sungai Belawan: Tembok Jebol, Rumah Rata, Warga Mengungsi

Di kawasan bantaran Sungai Belawan, duka juga menyelimuti ratusan warga. Hujan ekstrem pada akhir November menyebabkan luapan besar yang merusak rumah-rumah di Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia.

Mardian Habibie Gultom, ayah empat anak, sempat bertahan di lantai dua sebelum akhirnya mengungsi. “Anak-anak ketakutan. Arus terus naik,” katanya.

Tetangganya, Sunarto, juga mengalami kerusakan parah. Tembok dan atap rumahnya runtuh diterjang arus kuat. “Air datang sangat cepat. Tiba-tiba tembok jebol,” ujarnya.

Ketinggian air mencapai 1,2–2 meter. Banyak warga tak sempat menyelamatkan perabotan, kendaraan, bahkan dokumen penting. Mereka sempat mengungsi ke SMP Negeri 40 Medan, meski sekolah itu juga terendam.

Harapan Baru bagi Korban Banjir

Kini, setelah menerima bantuan Tahap II, banyak warga merasa sedikit lega.
Mardian menyebut perhatian pemerintah membuatnya tidak merasa sendiri.
Sementara Sunarto berharap rumahnya bisa segera diperbaiki agar keluarganya cepat kembali tinggal dengan aman.

Program bantuan ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan harapan, martabat, dan kehidupan warga yang kehilangan hampir segalanya akibat bencana. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *