Kepala BRIN Resmi Lantik 40 Pegawai Baru — Dorong Lompatan Besar Riset & Inovasi Indonesia!

Bagikan Artikel

Jakarta, BonariNews.com – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria melantik sebanyak 40 pegawai dalam upacara hybrid pada Selasa (2/3). Pelantikan ini mencakup 2 Pejabat Tinggi Madya (PTM), 2 Kepala Pusat Riset, serta 36 pejabat fungsional yang akan memperkuat arah kebijakan dan kinerja riset nasional.

Dalam sambutannya, Arif mengatakan, jabatan yang diemban para pejabat baru memiliki peran strategis untuk memastikan Indonesia mampu merespons dinamika global melalui riset yang kuat, kebijakan berbasis sains, dan inovasi yang selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

Dorong Kebijakan Sains yang Lebih Kuat dan Kolaboratif

Kepada Deputi Kebijakan Pembangunan, Arif meminta agar kolaborasi dengan kementerian/lembaga—termasuk Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bappenas, serta sektor lainnya—semakin diperkuat. Ia juga menekankan pentingnya kehadiran BRIN di tingkat internasional melalui kerja sama dengan IAEA, UNESCO, dan berbagai forum global.

“BRIN harus menjadi institusi yang cepat merespons kebutuhan kementerian melalui penyediaan naskah akademis dan rekomendasi kebijakan,” ujar Arif.

Penguatan Infrastruktur Riset dan Kemitraan Internasional

Kepada Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi, Arif meminta adanya percepatan transformasi proses bisnis laboratorium, fasilitas riset, serta kawasan inovasi. Ia juga mendorong penguatan kemitraan riset baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Apresiasi untuk Pejabat Sebelumnya

Arif turut menyampaikan apresiasi kepada pejabat yang telah purnatugas, termasuk Iman Hidayat, Anugrah Medianto, dan Kriswanto atas dedikasi dan kontribusi mereka.

Kepala Pusat Riset dan Pejabat Fungsional Didorong Hadirkan Dampak Nyata

Pelantikan kepala pusat riset disebut sebagai bentuk penguatan kepercayaan institusi agar riset di Indonesia tidak berhenti pada publikasi semata, tetapi mampu menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Untuk pejabat fungsional, Arif menegaskan, kontribusi mereka diukur dari nilai tambah untuk ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebijakan publik—bukan sekadar capaian administratif.

Ia juga mengajak seluruh pegawai BRIN membangun budaya kerja yang kolaboratif, adaptif, dan berbasis pembelajaran berkelanjutan demi menjaga reputasi BRIN sebagai institusi riset berkelas dunia. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *