SVD Ende Buka Suara! Sengketa Lahan Jalan Irian Jaya Memanas, Ini Fakta Versi Gereja

Bagikan Artikel

Flores, BONARINEWS.com – Polemik penggusuran dan sengketa lahan di kawasan Jalan Irian Jaya kembali memanas setelah pihak Serikat Sabda Allah (SVD) akhirnya angkat bicara dan memberikan penjelasan resmi kepada publik.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Superior Provincialis SVD Ende, Eman Embu, sebagai respons atas konflik yang terjadi antara pihak gereja dan pemerintah daerah terkait klaim kepemilikan tanah.

Dalam penjelasannya, SVD menyebut telah melakukan pendampingan terhadap keluarga yang terdampak penggusuran, termasuk dua kali pertemuan dengan pihak terkait pada Februari dan Mei 2026. SVD juga mengirimkan dua imam untuk melakukan pendampingan langsung serta mendorong upaya dialog di lokasi kejadian.

Namun, upaya penundaan penggusuran tidak berhasil karena Pemerintah Daerah Kabupaten Ende tetap melaksanakan eksekusi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

SVD juga mengungkap bahwa konflik ini berakar dari perbedaan dokumen kepemilikan tanah. Di satu sisi terdapat klaim berdasarkan sejarah misi dan dokumen lama berupa Gambar Situasi sejak 1924 dan 1927, serta surat hibah tahun 2016. Namun di sisi lain, terdapat sertifikat tanah yang telah terbit atas nama pemerintah daerah sejak 2002.

Selain itu, pihak SVD menyebut sebagian lahan yang disengketakan merupakan bagian dari tanah misi yang memiliki status berbeda, termasuk area yang telah dibatasi sejak masa pelayanan misionaris sebelumnya.

SVD menilai bahwa persoalan ini sebenarnya dapat diselesaikan melalui dialog terbuka antara semua pihak, tanpa perlu memperlebar konflik di lapangan. Mereka menekankan pentingnya komunikasi yang jujur dan konstruktif agar tidak terjadi eskalasi lebih lanjut.

Di akhir pernyataannya, SVD juga menyinggung aset lain di lokasi berbeda yang menurut mereka belum mendapat kejelasan status dari pihak pemerintah, dan berharap ada klarifikasi resmi untuk menghindari kesalahpahaman di kemudian hari.

Pihak SVD menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog demi mencari solusi yang adil, manusiawi, dan tidak merugikan masyarakat maupun pihak mana pun.

Penulis: Faidin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *