Medan, BONARINEWS.com – Antusiasme siswa dalam mendaur ulang sampah dan menjaga lingkungan tampak nyata dalam ajang Pengumuman Pemenang Lomba Bank Sampah dan Pameran Karya Daur Ulang Sampah yang digagas Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP di halaman SD Brigjend Katamso, Marelan, Rabu (29/4/2026).
Acara yang dirangkai dengan fashion show busana berbahan limbah plastik dan kertas, pameran hasil karya siswa, hingga pengumuman juara lomba bank sampah itu menjadi bukti bahwa edukasi lingkungan kini mulai tumbuh kuat di kalangan pelajar sekolah dasar.
Salah satu peserta fashion show, Hafiza, siswi kelas 5 SD Negeri 067777 Marelan, mengaku bangga bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, acara itu mengajarkan anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memanfaatkan sampah menjadi barang bernilai.
“Saya sangat senang bisa tampil di fashion show. Kita jadi ikut menjaga lingkungan, mengurangi sampah plastik, dan dari sekolah kita bisa membuat desain busana dari sampah plastik atau kertas,” ujar Hafiza.
Ia mengatakan kebiasaan memilah sampah kini juga mulai diterapkannya di rumah setelah mendapat pembelajaran dari guru di sekolah.
“Kalau di rumah, saya juga sudah mulai memilah sampah karena diajarkan guru di sekolah,” katanya.
Hal senada diungkapkan Zaira, siswi kelas 1 SD Negeri 066406 Magelang, yang tampil mengenakan gaun unik dari botol plastik bekas.
“Saya senang bisa tampil,” kata Zaira polos.
Busana yang dikenakan Zaira dibuat dari botol plastik bekas minuman, kawat, tali rafia, serta tutup botol yang dicat warna-warni. Proses pengerjaannya memakan waktu dua hari.
Guru pendamping Zaira, Tio, mengatakan ide membuat busana dari limbah itu berawal dari inisiatif guru untuk mengajak siswa melihat sampah dari sudut pandang kreatif.
“Kami mengajak guru lain dan siswa untuk mengumpulkan bahan-bahan seperti botol plastik, kawat, tali rafia, dan tutup botol. Dua hari kami mengerjakannya,” ujar Tio.
Sementara itu, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Medan, Syaiful Riza, menegaskan program bank sampah bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman yang membentuk karakter siswa.
Menurutnya, melalui kegiatan ini siswa belajar tentang lingkungan, daur ulang, gotong royong, hingga berpikir kritis sesuai implementasi kurikulum sekolah dasar.
“Bank sampah bukan hanya tempat mengelola sampah, tapi laboratorium kehidupan bagi siswa untuk belajar langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan,” kata Syaiful Riza.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat diperluas ke seluruh sekolah di Kota Medan dan menjadi budaya, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.
Fasilitator Program GNI Medan CDP, Nelli Lumbanbatu, menjelaskan penilaian lomba dilakukan objektif sejak Januari 2026 melalui empat indikator, yakni sosialisasi program, keberadaan SK dan struktur bank sampah, modul pembelajaran berbasis lingkungan, serta keaktifan sekolah dalam menampung dan memilah sampah selama empat bulan.
“Kalau ada nilai yang sama, penentunya adalah jumlah tonase sampah yang dikumpulkan sekolah selama empat bulan,” jelas Nelli.
Kepala SD Swasta Anugerah Harapan Bangsa Marelan, Lina, mengaku program bank sampah membawa dampak besar terhadap kebersihan dan kreativitas siswa di sekolahnya.
Menurut Lina, pihak sekolah rutin mengajak siswa memilah sampah organik dan anorganik setiap Sabtu. Sampah-sampah yang terkumpul kemudian dijadikan bahan prakarya maupun dijual ke bank sampah.
“Daripada dibuang sia-sia, lebih bagus dikumpulkan untuk membuat prakarya seperti ini,” ujarnya usai acara.
Ia mengungkapkan, sekolahnya juga membuat lomba antar kelas untuk mengumpulkan sampah terbanyak agar siswa semakin termotivasi.
“Awalnya memang ada yang merasa program ini rumit, tapi lama-lama semua menerima. Dampaknya sekarang siswa lebih aware dan sekolah makin bersih. Dengan adanya bank sampah, sekolah kami jadi yang terbaiklah,” kata Lina.
Dalam ajang tersebut, SD Swasta Anugerah Harapan Bangsa berhasil meraih Juara II kategori Pameran Karya Daur Ulang Sampah dan Juara Harapan I kategori Bank Sampah Sekolah.
Melalui kegiatan ini, semangat peduli lingkungan tak hanya tumbuh di sekolah, tetapi juga mulai terbawa ke rumah dan lingkungan sekitar siswa. Edukasi tentang memilah dan mendaur ulang sampah kini tak lagi sebatas teori di kelas, melainkan telah menjadi aksi nyata generasi muda Kota Medan.
Penulis: Dedy Hu