Oleh: Devilaria Damanik
Lebih dari tiga dekade aku hidup tanpa pernah merasakan infus. Ada kebanggaan tersendiri—seolah tubuhku selalu bisa berdamai dengan pikiranku. Saat lelah, aku cukup tidur, lalu bangun dengan energi yang kembali utuh. Imun tubuhku seperti sahabat setia yang diam-diam bekerja, memulihkan tanpa banyak drama.
Namun, belakangan semuanya berubah. Tubuhku mulai “memberontak”. Ia memberi tanda, pelan tapi pasti, bahwa aku terlalu sering mengabaikannya. Aku terbiasa makan apa saja yang kusuka—manis, cokelat, es krim, daging—tanpa berpikir panjang. Sampai akhirnya dokter berkata tegas: cukup.
Aku bukan tipe yang mudah patuh. Barangkali seperti perokok yang tahu risikonya, tapi tetap saja melanjutkan. Bedanya, aku penakut. Aku takut sakit.
Hari itu, bertepatan dengan Hari Buruh, aku justru menjadi “buruh” bagi tubuhku sendiri. Diantar teman, aku datang ke rumah sakit. Belum sempat mendaftar, aku langsung diarahkan ke IGD. Dokter memeriksa dan mengatakan aku bisa rawat jalan. Tapi aku bersikeras ingin diinfus—mungkin karena penasaran, mungkin juga karena ingin benar-benar merasa “sakit”.
Aku tidak pernah menyukai rumah sakit. Bau obat, bayangan orang-orang lemah, semuanya terasa menekan. Tapi kali ini rasa ingin tahuku mengalahkan ketidaksukaan itu. Kamar BPJS penuh, aku ditempatkan di ruang observasi. Hanya aku, beberapa boks bayi, dan petugas medis yang sesekali datang memeriksa.
Anehnya, aku tetap makan lahap. Aku banyak berbaring, punggung terasa pegal. Infus di tanganku sesekali “protes” ketika aku terlalu banyak bergerak. Aku bahkan sempat enggan duduk di kursi roda, merasa masih mampu berjalan sendiri. Tapi aturan tetap aturan.
Dua malam di rumah sakit perlahan mengubah cara pandangku. Tempat ini bukan ruang penuh kesedihan seperti yang kubayangkan. Tidak ada suasana mencekam, tidak ada ketakutan yang selama ini kupikirkan. Semuanya berjalan biasa saja—tenang, bahkan menenangkan.
Sehari sebelum itu, aku baru saja turun dari pedalaman menuju kota. Perjalanan dini hari, jalanan berlubang dan tanjakan curam, dibonceng motor menuju titik truk. Dalam gelap dan dingin, aku sempat bertanya pada pengendara, “Pernah lihat hantu?” Ia hanya menjawab singkat, “Tidak.”
Aku ingin melanjutkan pertanyaan, tapi tiba-tiba syal di leherku tersangkut rantai motor. Seketika aku tercekik. Kami berhenti, tertawa setelah semuanya aman. Tapi kejadian itu seperti pesan kecil—hidup ini rapuh, bisa berubah dalam sekejap.
Di rumah sakit, aku bertemu cerita lain. Tentang seorang dokter yang satu marga denganku. Ingatanku melayang ke masa kuliah, saat praktik lapangan dan bertemu seorang “kakek” yang bukan keluarga, tapi memperlakukanku seperti cucu. Kami tertawa, berfoto, dan berpisah dengan hangat. Kenangan itu kembali menguatkan satu hal: kebahagiaan adalah obat.
Kini aku mengerti, sakit bukan sekadar musibah. Ia bisa menjadi jeda. Cara tubuh berbicara ketika kita terlalu sibuk mengabaikannya. Dari pikiran, penyakit bisa tumbuh. Dari hati yang gembira, pemulihan bisa dimulai.
Sakit membuatku mengenal diriku lebih dalam. Bahwa aku tidak sekuat yang kubayangkan. Bahwa aku butuh istirahat. Butuh orang lain. Butuh Tuhan.
Dan mungkin, sesekali, butuh sakit… agar kembali ‘benar-benar’ hidup.
Kak, ngakak kali baca di bagian “pernah lihat hantu” dan syal itu. Bisa kubayangkan ekspresi dan teriakannmu 😅😂.
Tapi keren sih ini.