Prof. Kusbianto Dorong GMNI Sumut Bumikan Marhaenisme Lewat Pengabdian kepada Rakyat

Bagikan Artikel

MEDAN, BONARINEWS – Konsolidasi organisasi mahasiswa tidak cukup berhenti pada penguatan struktur dan penyatuan gerak kader. Keberlanjutan perjuangan juga ditentukan oleh kemampuan organisasi menjaga pemahaman ideologi dan menerjemahkannya menjadi pengabdian nyata kepada masyarakat.

Pandangan itu disampaikan Direktur Pascasarjana Universitas Dharmawangsa sekaligus alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Prof. Dr. Kusbianto, S.H., M.Hum., dalam menyikapi pelaksanaan Konsolidasi Daerah (Konsolda) DPD GMNI Sumatera Utara Tahun 2026.

Ia mendukung forum konsolidasi tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kesinambungan perjuangan organisasi sekaligus membumikan Marhaenisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Marhaenisme harus terus dipelajari, dipahami, dan diaktualisasikan agar tidak berhenti sebagai wacana ideologis, tetapi menjadi landasan berpikir dan bertindak dalam memperjuangkan kepentingan rakyat,” ujar Kusbianto.

Menurut dia, konsolidasi memiliki arti strategis karena menjadi ruang untuk menyatukan orientasi gerakan, memperkuat kesadaran ideologis, dan meneguhkan tanggung jawab kader. Penguatan organisasi, dalam pandangannya, perlu berjalan seiring dengan pemahaman ideologi dan keterlibatan dalam persoalan masyarakat.

Marhaenisme, sebagai landasan pemikiran GMNI, perlu hadir dalam cara kader memahami dan merespons persoalan rakyat. Karena itu, keberhasilan konsolidasi tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya forum atau terbentuknya kesepakatan organisasi, tetapi juga dari kesinambungan gerakan setelah forum berakhir.

Sebagai alumni, Kusbianto menilai keterlibatan para senior dan alumni penting untuk menjaga kesinambungan nilai serta cita-cita perjuangan organisasi. Hubungan antara alumni dan kader aktif diharapkan terpelihara melalui pertukaran gagasan, penguatan kapasitas intelektual, dan komitmen bersama terhadap nilai-nilai perjuangan.

Konsolda DPD GMNI Sumatera Utara berlangsung pada 5–6 Oktober 2026 di Grand Impression Hotel Medan. Forum tersebut dihadiri sembilan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Konsolidasi itu menjadi bagian dari upaya memperkuat organisasi dan mendorong aktivasi gerakan di kabupaten dan kota. Agenda tersebut juga sejalan dengan komitmen Ketua DPD GMNI Sumatera Utara, Diga Pinem, untuk mengaktifkan seluruh cabang dan memperkuat kehadiran kader di tengah persoalan masyarakat.

Bagi Kusbianto, upaya memperluas aktivitas organisasi perlu disertai konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai ideologi. Kaderisasi dan penguatan struktur akan lebih bermakna apabila mampu melahirkan kader yang tidak hanya memahami gagasan perjuangan, tetapi juga bersedia terlibat dalam kehidupan sosial.

“Konsolidasi harus memberikan makna bagi keberlanjutan perjuangan. Penguatan organisasi dan pembumian Marhaenisme merupakan proses yang membutuhkan konsistensi, kesadaran ideologis, serta keterlibatan seluruh elemen GMNI, baik kader maupun alumni,” katanya.

Ia berharap hasil Konsolda menjadi pijakan bagi GMNI Sumatera Utara untuk menjaga kesinambungan perjuangan lintas generasi. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan hasil konsolidasi menjadi program dan kerja organisasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, pembumian Marhaenisme bukan sekadar upaya mempertahankan warisan pemikiran organisasi, melainkan juga menguji relevansinya melalui keberpihakan dan pengabdian kepada rakyat.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *