Hari Ketika Umur Bertambah, tetapi Waktu Berkurang

Bagikan Artikel

Oleh: Devilaria Damanik

Hari ini beberapa orang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Ada teman, ada kantor, ada pula organisasi yang mengirimkan doa panjang melalui WhatsApp.

Aku membacanya satu per satu, lalu tersenyum.

Salah satu bank milik pemerintah bahkan berjanji akan selalu hadir mewujudkan harapanku. Semoga sehat, bahagia, sukses. Begitu kira-kira isinya.

Aku tahu, janji semacam itu tidak bisa sepenuhnya kutagih seperti utang yang harus dibayar. Mana mungkin harapanku untuk kaya dan sejahtera diserahkan kepada bank? Kecuali aku pewaris. Misalnya keluarga Cendana.

Aku tertawa sendiri.

Lalu sebuah organisasi mengirimkan doa yang lebih serius: sampai masa tua dan rambut memutih, Tuhan akan menggendong, memikul, dan menyelamatkan.

Aku membaca kalimat itu lebih lama.

Rambut memutih.

Masa tua.

Tiba-tiba aku teringat sebuah foto.

Di foto itu aku masih balita. Aku berdiri bersama bapakku di depan sebuah rumah sekolah. Foto itu begitu kusukai sampai kemudian kupesan kepada seorang teman untuk dilukis. Setelah selesai, lukisan itu kuantar ke rumah orang tuaku. Bahkan gambarnya kusablon di kaus.

Setiap melihat foto itu, aku seperti sedang melihat seseorang yang pernah menjadi diriku.

Aku terhenyak.

Anak kecil itu ternyata sudah tumbuh menjadi perempuan dewasa.

Wajah kanak-kanaknya telah hilang. Digantikan wajah yang dibentuk oleh tahun-tahun, pengalaman, kesalahan, kegembiraan, kehilangan, dan pilihan-pilihan yang pernah dibuat.

Aku merasa tua.

Dan anehnya, juga lelah.

Belum pernah kubayangkan bahwa suatu hari aku akan menjadi lebih tua daripada waktu-waktu yang pernah kulewati.

Teman-teman sering mengatakan wajahku tidak terlihat setua umur. Katanya aku awet muda.

Kujawab saja: mungkin Semesta masih berpihak kepadaku.

Aku anak milenial yang berbaur dengan gen Z. Sulit menebak umurku dari wajah.

Atau mungkin karena aku tidak suka rambut panjang. Begitu rambut mulai menyentuh bahu, segera kupikirkan untuk memangkasnya. Rambut panjang membutuhkan perawatan. Dan aku tidak ingin terlalu banyak berkompromi dengan kemudaan.

Tetapi hari ini aku sadar, tidak ada potongan rambut yang bisa menyembunyikan waktu.

Waktu tetap berjalan.

Sejak kecil, sekolah adalah lingkungan yang akrab bagiku. Kakek dari pihak bapak seorang abdi negara. Bapakku juga. Aku tumbuh di sekitar sekolah dan orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Namun, anehnya, aku tidak pernah bercita-cita menjadi pendidik.

Aku kuliah lebih karena memenuhi keinginan orang tua. Aku tidak mau dicap sebagai anak durhaka.

Sesungguhnya, ketika itu aku hanya ingin hidup dengan sederhana: bepergian, makan enak, tidur pulas, dan punya cukup uang untuk membeli apa yang kuinginkan.

Status dan gelar bukan sesuatu yang terlalu kukejar.

Tetapi dunia mahasiswa memberiku banyak hal.

Barangkali yang tidak kusadari ketika itu, hidup sedang mengajariku sesuatu yang baru kupahami bertahun-tahun kemudian.

Hari ini aku mulai bertanya kepada diri sendiri: selama ini aku hidup untuk apa?

Pertanyaan itu tidak nyaman.

Sebab jawabannya belum jelas.

Aku seperti menghabiskan banyak waktu hanya untuk melakukan apa yang membuatku senang. Bangun, bernapas, makan, tidur, berbicara dengan orang lain, lalu memikirkan keinginan-keinginan kecil yang segera selesai setelah dipenuhi.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar kukejar.

Tidak ada arah yang jelas.

Dan ketika seseorang tidak memiliki arah, hari-hari akan terasa seperti pengulangan.

Di situlah kegelisahan datang.

Aku merasa telah tua, tetapi belum melakukan banyak hal.

Waktu-waktu yang telah lewat terasa tergesa-gesa. Sebagian bahkan seperti sia-sia di tanganku.

Aku malu kepada diriku sendiri.

Juga kepada Tuhan.

Namun, mungkin justru rasa malu itu yang akhirnya menyadarkanku.

Hari ini bukan hanya tentang hari ini.

Hari ini juga berarti esok, lusa, dan hari-hari yang belum datang.

Karena itu, aku tidak bisa lagi hanya menyediakan harapan untuk hari depan. Harapan tanpa rencana hanyalah keinginan yang menunggu keajaiban.

Aku membutuhkan rencana.

Jika ingin kaya, aku harus belajar bagaimana menjadi kaya dan mengerjakan bagian yang menjadi tanggung jawabku.

Jika ingin menjadi penulis, aku harus menulis.

Bukan hanya mengatakan ingin menjadi penulis.

Ada perbedaan besar antara menginginkan sesuatu dan mengerjakan sesuatu menuju keinginan itu.

Kesadaran ini mungkin datang terlambat.

Tetapi mungkin belum terlalu terlambat.

Aku kembali mengingat masa kecil. Aku sering ikut kakek dan bapak ke sekolah. Awalnya hanya anak bawang, kemudian menjadi murid betulan.

Entah karena kecerdasan otakku atau karena kakekku.

Who knows.

Ada pula bagian masa lalu yang hari ini kuingat dengan senyum: data usiaku pernah disesuaikan dengan ijazah. Kartu tanda penduduk dan kartu keluarga kemudian mengikuti.

Aku bahkan teringat pada Gibran. Ada kesamaan kecil yang membuatku tersenyum: soal usia dan syarat.

Tetapi semakin tua, semakin aku mengerti bahwa hidup tidak seharusnya terus-menerus mencari celah dari aturan.

Kalau suatu hari aku memiliki posisi dan kewenangan, aku tidak ingin mengubah data anakku atau mengubah aturan demi anakku.

Biarlah ia berjalan dengan namanya sendiri.

Dengan usianya sendiri.

Dengan kemampuannya sendiri.

Dan dengan kesempatan yang juga dimiliki orang lain.

Mungkin itu salah satu bentuk pertanggungjawaban yang sederhana kepada waktu.

Sebab akhirnya aku mengerti, ulang tahun bukan sekadar tentang umur yang bertambah.

Ulang tahun adalah pengingat bahwa jatah waktu justru berkurang.

Semakin banyak angka yang kita tambahkan pada usia, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk sekadar berkata, “Nanti.”

Maka hari ini aku tidak ingin hanya mengaminkan ucapan selamat.

Aku ingin mengaminkan sebuah keputusan.

Bahwa tahun-tahun berikutnya harus diisi dengan lebih sadar.

Lebih banyak bekerja.

Lebih banyak belajar.

Lebih berani membuat rencana.

Dan lebih sedikit membuang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu.

Foto balita itu masih kusimpan.

Anak kecil dalam foto itu tidak tahu akan menjadi siapa dirinya kelak.

Aku yang sekarang sudah tahu satu hal:

aku tidak bisa kembali menjadi anak kecil itu.

Tetapi aku masih bisa menentukan akan menjadi siapa perempuan di dalam foto berikutnya.

Selamat ulang tahun untukku.

Semoga bertambahnya umur tidak hanya membuatku lebih tua.

Semoga ia membuatku lebih tahu untuk apa hidup ini dijalani. (*)

Catatan: Sebenarnya aku lahir di bulan Desember. Tulisan ini hanya refleksi yang kebetulan saya lakukan bulan ini. Jadi hari saya merayakan ulang tahun semestinya adalah akhir tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *