Sunggal, BONARINEWS – Keluhan petani soal sulitnya akses air di Kecamatan Sunggal langsung direspons cepat Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan. Saat menanam cabai merah bersama Kelompok Tani Mekar Tani di Desa Sei Mencirim, Rabu (20/5/2026), Bupati langsung menginstruksikan pengerukan sedimen saluran irigasi sepanjang tiga kilometer mulai besok.
Langkah cepat itu diambil setelah para petani mengeluhkan pendangkalan parit dan saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air dari Sei Krio. Akibat sedimentasi, distribusi air ke lahan pertanian terganggu dan petani terpaksa mengandalkan sumur bor untuk bertahan.
“Pengorekan sedimen dari Pintu 1 sampai ke lokasi ini, sekitar tiga kilometer, besok akan langsung dikerjakan. Fokus kita sekarang adalah air. Kalau distribusi air selesai, persoalan pertanian di sini juga akan lebih mudah diselesaikan,” tegas Asri Ludin Tambunan.
Pengerukan saluran air tersebut diharapkan mampu mendukung optimalisasi lahan pertanian, termasuk area tanam cabai merah seluas 1,3 hektare yang baru ditanam bersama petani.
Lahan cabai tersebut ditargetkan menghasilkan hingga 14 ton per hektare dengan masa panen diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang atau sekitar 80 hari setelah tanam.
Tak hanya fokus pada produksi, Pemkab Deli Serdang juga mulai menyiapkan strategi menjaga harga cabai agar tetap stabil saat musim panen tiba. Salah satu langkah yang disiapkan adalah pembelian hasil panen langsung dari petani melalui BUMD untuk kemudian didistribusikan kepada pedagang.
Skema ini diharapkan mampu memotong rantai distribusi yang selama ini dinilai merugikan petani sekaligus mencegah anjloknya harga di pasaran.
“Cabai yang telah dipanen sebelumnya akan kita beli melalui BUMD. Begitupun dengan yang nantinya akan dipanen. Lebih bagus untung stabil terus-menerus daripada untung besar sekali lalu rugi setelahnya. Pemerintah akan berupaya menjaga stabilitas harga tersebut,” ujarnya.
Selain itu, Pemkab Deli Serdang juga terus mendorong modernisasi pertanian melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), mulai dari traktor roda dua hingga roda empat.
Alsintan tersebut ditempatkan di Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian di setiap kecamatan agar mudah diakses petani. Para petani bahkan dapat meminjam alat secara gratis dan hanya menanggung biaya bahan bakar, sementara biaya servis dan perawatan ditanggung pemerintah daerah.
“Kita ingin mempercepat penggunaan teknologi pertanian. Jadi alat-alat ini kita siapkan di UPT supaya petani tidak perlu menunggu bantuan terlalu lama,” kata Asri.
Di sisi lain, potensi pertanian di Kecamatan Sunggal kini juga diarahkan untuk mendukung rantai pasok program Makan Bergizi Gratis melalui dapur SPPG yang mulai berkembang di wilayah tersebut.
Penulis: Dedy Hu