Bangun Pagi Cari Tuhan atau Cari Handphone?

Bagikan Artikel

Oleh: Mardi Panjaitan

Di era digital saat ini, ada satu kebiasaan yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Ketika bangun tidur, hal pertama yang dicari sering kali bukan Tuhan, melainkan handphone.

Mata belum sepenuhnya terbuka, tetapi tangan sudah sibuk membuka media sosial, membaca notifikasi, membalas pesan, atau scrolling tanpa tujuan. Tanpa disadari, pikiran lebih dulu dipenuhi dunia sebelum hati diisi dengan hadirat Tuhan.

Padahal sebagai orang percaya, ketika membuka mata di pagi hari, hal pertama yang seharusnya dicari adalah Tuhan melalui doa dan firman-Nya.

Doa bukan sekadar rutinitas agama, melainkan sarana komunikasi yang intim dengan Allah. Doa adalah nafas kehidupan orang percaya. Sama seperti manusia tidak dapat hidup tanpa bernafas, demikian pula kehidupan rohani akan melemah tanpa doa.

Namun kenyataannya, banyak orang baru mencari Tuhan ketika menghadapi masalah. Saat sakit, gagal, kecewa, atau mengalami pergumulan hidup, barulah manusia datang berdoa dengan sungguh-sungguh. Tetapi ketika hidup terasa nyaman, usaha lancar, jabatan tinggi, dan keadaan baik-baik saja, doa perlahan mulai ditinggalkan.

Padahal harta, jabatan, dan semua yang ada di dunia hanyalah sementara. Semua dapat berubah sewaktu-waktu. Tetapi kasih Tuhan tetap kekal selama-lamanya.

Karena itu, jangan jadikan doa hanya sebagai “jalan darurat” saat hidup sedang sulit. Jadikan doa sebagai kebutuhan setiap hari.

Doa juga bukan monolog, melainkan dialog. Kita berbicara kepada Tuhan, tetapi kita juga belajar mendengar suara Tuhan melalui firman-Nya dan tuntunan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari.

Saat seseorang hidup dalam doa, akan terjalin hubungan yang erat dengan Tuhan. Hatinya menjadi lebih tenang, pikirannya lebih jernih, dan hidupnya lebih terarah.

Hari ini banyak orang lebih takut kehilangan notifikasi dibanding kehilangan waktu teduh bersama Tuhan. Padahal handphone mungkin memberi informasi, tetapi firman Tuhan memberi arah hidup. Media sosial mungkin memberi hiburan sementara, tetapi hadirat Tuhan memberikan damai sejahtera yang kekal.

Bayangkan jika setiap pagi sebelum memegang handphone, kita terlebih dahulu melipat tangan untuk berdoa:

  1. Mengucap syukur atas kehidupan,
  2. Meminta hikmat menjalani hari,
  3. Membaca firman Tuhan,
  4. Menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan.

Pagi yang dimulai bersama Tuhan akan memberikan kekuatan baru untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan.

Selain itu, rumah tangga orang percaya juga harus menjadi mezbah doa. Rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat keluarga membangun hubungan dengan Tuhan. Rumah yang dipenuhi doa akan dipenuhi damai sejahtera. Keluarga yang hidup dalam doa akan dikuatkan menghadapi persoalan hidup.

Tuhan Yesus berkata dalam Alkitab, Matius 7:7:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Ayat ini mengingatkan agar kita terus mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jangan lelah berdoa. Jangan hanya mencari Tuhan saat badai datang, tetapi carilah Tuhan setiap hari selama masih diberi kesempatan hidup.

Karena orang yang dekat dengan Tuhan akan memiliki:

  1. Hati yang tenang,
  2. Iman yang kuat,
  3. Pengharapan yang teguh,
  4. Damai sejahtera dalam hidupnya.

Jadi setiap pagi, tanyakan kepada diri sendiri:
Bangun pagi cari handphone?
Atau bangun pagi cari Tuhan?

Sebab apa yang pertama kita cari setiap pagi sering kali menunjukkan siapa yang paling penting dalam hidup kita.

Penulis: Seorang Guru di Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *