Dugaan Keracunan MBG Berulang di Sejumlah Daerah, Ratusan Penerima Manfaat Terdampak

Bagikan Artikel

JAKARTA, BONARINEWS — Dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali muncul di sejumlah daerah sepanjang 13–25 Juli 2026. Kasus dilaporkan terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, hingga Lampung, dengan jumlah penerima manfaat yang mengalami keluhan mencapai ratusan orang.

Rentetan kejadian tersebut terjadi dalam waktu berdekatan. Keluhan yang dilaporkan umumnya berupa mual, muntah, sakit perut, pusing, diare, demam, hingga lemas. Sejumlah korban harus mendapatkan penanganan di puskesmas dan rumah sakit.

Namun, dugaan keterkaitan antara keluhan kesehatan tersebut dan makanan MBG belum otomatis menunjukkan penyebab keracunan. Di sejumlah daerah, sampel makanan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium dan pemerintah daerah masih melakukan penyelidikan.

Berikut sejumlah laporan dugaan gangguan kesehatan yang muncul dalam periode tersebut:

  1. Jember, Jawa Timur

Pada 15–16 Juli 2026, puluhan penerima MBG di Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, dilaporkan mengalami diare dan gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan sehari sebelumnya.

Pemerintah Kabupaten Jember kemudian melakukan investigasi dan memastikan biaya perawatan korban ditanggung pemerintah. Sejumlah korban dirawat di Puskesmas Sukorejo, Puskesmas Paleran, Rumah Sakit Balung, dan sejumlah fasilitas kesehatan lain. Data sementara yang disampaikan Satgas MBG Jember pada 16 Juli mencatat sedikitnya 27 pasien telah mendapatkan penanganan.

  1. Blora, Jawa Tengah

Pada 20 Juli, sebanyak 19 siswa SDN Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, mengalami mual dan sakit perut setelah mengonsumsi menu MBG.

Para siswa dibawa ke Puskesmas Ngawen. Keluhan muncul tidak lama setelah mereka mengonsumsi makanan yang antara lain dilengkapi susu kemasan. Dinas Kesehatan Blora mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium dan belum menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut.

  1. Kulon Progo, DI Yogyakarta

Kasus dengan jumlah terdampak lebih besar dilaporkan di Kulon Progo pada 20–22 Juli. Dinas Kesehatan setempat mencatat 105 orang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Karangwuni.

Dari jumlah tersebut, 98 merupakan siswa, empat tenaga pendidik, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui. Penerima manfaat dari kelompok ibu hamil dan menyusui dilayani oleh SPPG yang sama dengan siswa.

  1. Malang, Jawa Timur

Di Kota Malang, sejumlah siswa SDN Kauman 1 dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG pada 21–22 Juli.

Keluhan yang muncul antara lain sakit perut, mual, muntah, diare, dan demam. Pada laporan awal, jumlah siswa yang mengalami gejala disebut belasan orang. Perkembangan berikutnya menyebut sekitar 33 siswa mengalami keluhan dan sampel makanan diperiksa di laboratorium.

  1. Pasuruan, Jawa Timur

Pada 22 Juli, siswa SMAN 1 Pandaan mengalami sejumlah keluhan setelah menyantap menu MBG. Laporan awal dari sekolah menyebut 14 siswa mengalami gejala seperti mual, muntah, gatal-gatal, hingga sesak napas. Sembilan siswa mendapat penanganan di IGD Puskesmas Pandaan, sedangkan lainnya ditangani di UKS.

Ada laporan lain yang menyebut jumlah siswa terdampak mencapai 22 orang. Perbedaan angka tersebut menunjukkan pendataan korban masih berkembang pada saat kejadian berlangsung. Operasional SPPG Sumbergedang kemudian dihentikan sementara dan sampel makanan dibawa untuk pemeriksaan.

  1. Garut, Jawa Barat

Dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG juga terjadi di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Pada 21–23 Juli, lebih dari 100 pelajar dan santri dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, dan diare.

Korban antara lain berasal dari sejumlah sekolah dan Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah. Pada tahap awal, 31 santri pesantren tersebut mendapatkan penanganan di Puskesmas Cibatu. Jumlah korban kemudian dilaporkan melampaui 100 orang. Pemkab Garut menghentikan sementara operasional dapur penyedia MBG untuk pemeriksaan dan evaluasi.

  1. Tanggamus, Lampung

Di Kabupaten Tanggamus, Lampung, dugaan gangguan kesehatan terjadi setelah siswa SMPN 1 Talang Padang mengonsumsi menu MBG pada 22 Juli.

Pada laporan awal, delapan siswa mengalami mual, muntah, pusing, sakit kepala, dan sebagian diare. Sehari berikutnya, jumlah siswa yang dilaporkan mengalami keluhan bertambah menjadi 23 orang. Petugas kesehatan membuka pos pemantauan di sekolah, sementara sampel makanan dari SPPG Sinar Betung diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

  1. Pesawaran, Lampung

Kasus berikutnya dilaporkan di SDN 22 Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, pada 24 Juli. Sebanyak 32 siswa dan seorang guru mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap menu MBG.

Mereka antara lain mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, badan panas, hingga menggigil. Seluruh korban sempat mendapatkan penanganan di Puskesmas Trimulyo. Polisi kemudian mengambil sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium dan meminta keterangan sejumlah saksi.

Rentetan kejadian tersebut menunjukkan adanya sejumlah insiden gangguan kesehatan yang dilaporkan setelah penerima manfaat menyantap menu MBG dalam rentang waktu yang berdekatan. Akan tetapi, angka korban dan penyebab pada setiap daerah tidak seragam serta masih dapat berubah seiring proses pendataan dan pemeriksaan.

Karena itu, setiap kasus perlu dilihat berdasarkan hasil investigasi masing-masing daerah. Dugaan bahwa makanan MBG menjadi penyebab tidak dapat disamakan dengan kesimpulan bahwa makanan tersebut telah terbukti menyebabkan keracunan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan selesai.

Di sisi lain, penghentian sementara sejumlah dapur SPPG, pengambilan sampel makanan, pemeriksaan rantai distribusi, serta pemantauan terhadap korban menjadi bagian dari langkah penanganan yang dilakukan pemerintah daerah dan pihak terkait.

Penulis: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *