Warga Girsang Sipanganbolon Keluhkan Jalan, Pariwisata, Transportasi hingga Konflik Lahan

Bagikan Artikel

PARAPAT, BONARINEWS — Warga Girsang Sipanganbolon, Kabupaten Simalungun, menyampaikan sejumlah persoalan dalam pertemuan reses bersama Dasa Sinaga di halaman Gedung Harungguan Bolon atau Konferensi Hall Parapat, Rabu, 23 September 2026. Keluhan mencakup akses jalan dan penerangan, pengembangan pariwisata, transportasi wisata dan terminal, hingga sengketa lahan yang menurut warga telah berlangsung bertahun-tahun.

Pertemuan berlangsung pukul 11.00 hingga 12.30 WIB. Warga berharap aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi diteruskan kepada pemerintah dan instansi yang memiliki kewenangan.

Jalan dan Penerangan

Tono Sinaga, pengelola tempat wisata dan kegiatan camping di Desa Bonan Dolok, mengatakan sejumlah tamu mengeluhkan kondisi jalan menuju kawasan wisata. Menurut Tono, kondisi jalan yang pernah lebih baik kini menjadi kendala bagi pengembangan usaha.

Ia juga menyampaikan keluhan mengenai minimnya penerangan ketika wisatawan tiba pada malam atau dini hari. Menurut dia, kondisi itu membuat sebagian tamu merasa khawatir menuju lokasi.

Warga mengusulkan perbaikan akses dan penerangan di kawasan tersebut.

Dasa Sinaga meminta titik-titik persoalan infrastruktur dicatat secara rinci untuk mengetahui kewenangan pemerintah kabupaten, provinsi, atau pemerintah desa dan kelurahan. Dalam pertemuan itu belum ada keputusan mengenai ruas jalan, anggaran, ataupun waktu perbaikan.

Pariwisata dan Potensi Lokal

Sejumlah warga menilai Parapat dan sekitarnya masih lebih banyak menjadi tempat persinggahan wisatawan. Mereka mengusulkan pengembangan atraksi yang membuat wisatawan tinggal lebih lama, antara lain desa wisata, seni dan budaya, kegiatan kreatif, olahraga petualangan, dan camping.

Warga juga menyebut Bangun Dolok pernah memiliki kegiatan paralayang, motocross, dan camping.

Dasa Sinaga meminta masyarakat Bangun Dolok menjelaskan lebih rinci kegiatan yang telah dilakukan serta kebutuhan pengembangannya. Permintaan tersebut menjadi bagian dari penjaringan aspirasi dan belum merupakan keputusan mengenai program atau anggaran.

Transportasi Wisata dan Terminal

Pelaku transportasi, Martin Sinaga, mempertanyakan pengaturan bus wisata yang masuk ke Parapat. Menurut Martin, kepadatan kendaraan kerap terjadi pada akhir pekan. Ia mengatakan masyarakat telah memasang spanduk dan berupaya mengarahkan bus agar tidak parkir sembarangan.

Pelaku transportasi mengusulkan koordinasi antara pemerintah, pengelola terminal, pelaku transportasi lokal, dan pihak yang membawa wisatawan. Mereka juga mengusulkan optimalisasi terminal saat periode liburan agar bus wisata lebih tertata dan transportasi lokal tetap mendapat ruang.

Martin berharap kebijakan mengenai arus bus wisata dibicarakan bersama pelaku lokal karena berkaitan dengan mata pencaharian mereka.

Dalam pertemuan tersebut belum ada keputusan mengenai pola pengelolaan terminal ataupun pengaturan bus wisata.

Konflik Lahan

Seorang warga Desa Sipanganbolon Mekar bermarga Sinaga mengaku telah mengusahakan lahan sejak 1989 dan pernah mengajukan permohonan pada 1991 serta 2000.

Menurut kesaksiannya, tanaman yang mereka usahakan kemudian dirusak oleh pihak yang disebut mengaku sebagai pewaris atau pemilik lahan. Ia mengatakan masyarakat telah menyampaikan keberatan dan pengaduan kepada sejumlah instansi, termasuk kepolisian, tetapi belum memperoleh penyelesaian yang diharapkan.

Oloan Sinaga juga mengatakan konflik tersebut telah berlangsung lama dan pernah terjadi benturan di lapangan. Menurut dia, tanaman petani masih mengalami kerusakan. Ia juga menyebut adanya penebangan kayu dan pembukaan lahan yang dipersoalkan warga.

Keterangan mengenai konflik lahan dan aktivitas tersebut merupakan kesaksian warga. Pihak yang disebut sebagai pemilik atau pengelola lahan maupun instansi yang diadukan tidak memberikan keterangan dalam pertemuan.

Warga meminta agar aktivitas yang mereka persoalkan dapat dihentikan sementara sampai status lahan dan sengketa memperoleh kejelasan.

Dasa Sinaga menampung persoalan tersebut sebagai bagian dari aspirasi reses. Tidak ada keputusan dalam pertemuan mengenai status lahan ataupun penghentian aktivitas di lokasi.

Infrastruktur dan Desa Wisata

Warga Tiga Raja menyampaikan kebutuhan jalan setapak, akses di sejumlah titik, serta fasilitas pendukung kegiatan masyarakat dan pariwisata.

Sementara pengurus Kampung Warna-Warni meminta dukungan terhadap keberlanjutan pengembangan desa wisata. Menurut pengurus tersebut, kawasan mereka memiliki potensi wisata, tetapi masih membutuhkan dukungan fasilitas dan pengelolaan.

Dasa Sinaga meminta lokasi dan kebutuhan infrastruktur dicatat lebih rinci agar dapat dipetakan berdasarkan kewenangan. Berbagai aspirasi mengenai desa wisata juga ditampung sebagai bahan reses. Belum ada keputusan mengenai proyek, anggaran, atau program baru.

Tindak Lanjut

Sejumlah warga turut mengeluhkan komunikasi dan tindak lanjut pengaduan. Menurut mereka, ada pengaduan yang terkendala persoalan lokasi dan ada laporan yang belum memperoleh perkembangan seperti yang diharapkan.

Keterangan tersebut merupakan pengalaman warga dan belum disertai penjelasan dari institusi yang dimaksud.

Dasa Sinaga mengatakan hasil reses akan dicatat dan dapat diteruskan melalui jalur legislatif maupun komunikasi dengan pemerintah serta instansi terkait. Ia menyebut kemungkinan koordinasi dengan pemerintah kabupaten, kecamatan, pemerintah provinsi, dan instansi lain sesuai kewenangan.

Untuk sementara, reses tersebut menghasilkan catatan aspirasi dan rencana koordinasi. Belum ada keputusan final mengenai perbaikan jalan, pengelolaan terminal, penyelesaian sengketa lahan, ataupun program pengembangan wisata.

Penulis: Yanti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *