REMBANG, BONARINEWS — Lebih dari 750 siswa dan guru SMAN 1 Lasem, Kabupaten Rembang, mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Banyaknya warga sekolah yang mengeluhkan sakit membuat kegiatan belajar mengajar pada Kamis (3/9/2026) dihentikan lebih awal.
Data sementara mencatat, 777 orang yang mengalami keluhan terdiri dari 752 siswa dan 25 guru. Gejala yang dilaporkan antara lain diare, mual dan muntah.
Keluhan mulai muncul pada Kamis pagi saat proses pembelajaran berlangsung. Jumlah siswa yang mengalami diare bahkan membuat fasilitas toilet sekolah kewalahan.
Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan terhadap siswa yang mengalami gangguan kesehatan. Karena jumlah yang terdampak cukup banyak, siswa akhirnya dipulangkan lebih awal untuk mendapatkan penanganan dan pemantauan kondisi kesehatan.
Di tengah kejadian tersebut, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem menyampaikan permintaan maaf kepada pihak sekolah, siswa dan orang tua.
Kepala SPPG Soditan Lasem, Achmad Sholeh Syarifudin, mengatakan pihaknya memprioritaskan penanganan terhadap warga sekolah yang mengalami gangguan kesehatan.
SPPG juga menyatakan akan menanggung biaya perawatan bagi korban yang membutuhkan penanganan medis.
Achmad mengatakan kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG. Evaluasi tidak hanya menyasar makanan yang dikonsumsi, tetapi seluruh rangkaian proses mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan hingga distribusi makanan ke sekolah.
Langkah evaluasi tersebut penting untuk memastikan standar keamanan pangan dalam penyediaan makanan bagi peserta didik tetap terpenuhi.
Sementara itu, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga sekolah tersebut masih dalam pemeriksaan. Dinas Kesehatan bersama petugas terkait telah melakukan pemeriksaan untuk mencari sumber penyebab kejadian.
Salah satu komponen makanan yang mendapat perhatian adalah potongan semangka dalam paket MBG. Sejumlah siswa sebelumnya mengeluhkan rasa buah tersebut. Namun, keluhan mengenai semangka belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab gangguan kesehatan.
Petugas telah mengambil sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Paket MBG yang dibagikan sehari sebelum kejadian terdiri atas nasi, ayam bakar, tempe, lalapan, sambal teri goreng dan potongan semangka.
Kasus tersebut menjadi perhatian karena program MBG menyasar peserta didik dalam jumlah besar sehingga aspek keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Pengawasan terhadap bahan baku, proses memasak, penyimpanan dan distribusi perlu dilakukan secara konsisten agar makanan yang sampai ke sekolah tetap aman dikonsumsi.
Pihak sekolah, Dinas Kesehatan dan SPPG masih memantau kondisi siswa serta guru yang mengalami keluhan. Hingga hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh, kejadian tersebut masih berstatus dugaan dan belum dapat dipastikan sebagai keracunan akibat makanan tertentu.
Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab gangguan kesehatan sekaligus menjadi dasar perbaikan prosedur pelaksanaan MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Penulis: Dedy Hutajulu