KATHMANDU, BONARINEWS — Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 162 orang. Sebanyak 403 orang dari berbagai negara dilaporkan masih hilang dalam bencana yang disebut sebagai salah satu yang terparah di Nepal sejak gempa bumi 2015.
Bencana terjadi di sejumlah distrik di kawasan hilir sepanjang perbatasan Nepal dan China. Banjir serta longsor menghantam permukiman dan kawasan di sekitar perbatasan Nepal-Tibet, menimbulkan korban jiwa dan kerusakan besar.
Jumlah kerugian material belum dapat dipastikan. Tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap warga yang hilang dan mengevakuasi para penyintas dari wilayah terdampak.
Kesaksian warga menggambarkan dahsyatnya bencana tersebut. Kalpana Malla, warga Distrik Nuwakot, mengatakan sejumlah anggota keluarganya tersapu banjir dan longsor di depan matanya.
Ayah, ibu, saudara perempuan, serta anak-anak saudara perempuannya menjadi korban. Kalpana bersama putranya selamat setelah memanjat atap rumah.
Bencana juga merenggut istri Keshav Prasad Baral, 68 tahun. Keshav mengatakan banjir di kawasan perbatasan Nepal-Tibet datang seperti semburan lumpur besar.
Keshav sempat berusaha meraih tangan istrinya ketika air dan material longsor menerjang. Namun istrinya tersapu arus. Beberapa jam kemudian Keshav dievakuasi menggunakan helikopter, sementara istrinya masih tertimbun lumpur.
Warga Negara Indonesia Dipastikan Tidak Terdampak
Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat 45 warga negara Indonesia tinggal di Kathmandu, Nepal. Sebagian besar bekerja di sektor perhotelan.
Hingga informasi tersebut diterbitkan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Dhaka dan Beijing belum menerima laporan mengenai WNI yang menjadi korban banjir dan longsor.
Otoritas Indonesia juga masih memastikan keberadaan WNI yang kemungkinan sedang melakukan pendakian di kawasan Nepal.
Selain WNI, sejumlah warga negara asing dilaporkan belum ditemukan. Badan pariwisata Nepal mencatat 100 warga India, 54 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris masih dalam pencarian. Kementerian Luar Negeri Ukraina juga menyebut 53 warganya berada di kawasan perbatasan Nepal-Tibet.
Gletser Diduga Memicu Banjir Bandang
Penyebab bencana sempat dikaitkan dengan aktivitas gempa bumi. Namun, analisis terbaru Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menunjukkan tidak terdapat gempa di sekitar Nepal yang dapat menjelaskan peristiwa tersebut.
USGS menyebut aktivitas seismik yang tercatat justru berkaitan dengan tanah longsor.
Pejabat Departemen Meteorologi dan Hidrologi Nepal mengatakan sejumlah gambar yang mereka periksa menunjukkan bongkahan es besar, yang diduga bagian dari gletser, runtuh dari pegunungan di sisi Tibet. Material tersebut kemudian membawa batu dan sedimen dalam jumlah besar.
Runtuhan batu dan es diduga membentuk semacam bendungan alami di Sungai Lhende. Bendungan itu sempat menahan aliran air sebelum akhirnya jebol dan menghasilkan aliran banjir bandang.
Gesekan antara material batuan dan es saat runtuh juga diduga menghasilkan tambahan volume air yang memperbesar dampak banjir.
Hingga kini, pencarian korban masih berlangsung. Otoritas Nepal menghadapi medan yang sulit di kawasan Himalaya, sementara skala kerusakan dan jumlah korban masih berpotensi berubah seiring proses evakuasi dan pencarian terus dilakukan.
Penulis: Redaksi