20 Menit di Luar Ruangan: Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Berada di Alam?

Bagikan Artikel

Oleh: Ahmad Amri Falah

Menghabiskan waktu di luar ruangan, terutama di ruang hijau, tidak harus selalu dilakukan melalui olahraga berat atau perjalanan jauh. Berjalan santai selama sekitar 20 menit di taman, duduk di bawah pepohonan, atau sekadar menikmati suasana alam dapat menjadi bagian sederhana dari rutinitas sehari-hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap lingkungan alami berkaitan dengan perubahan pada respons stres, tekanan darah, suasana hati, dan kesejahteraan psikologis. Namun, besarnya manfaat dapat berbeda pada setiap orang dan tidak berarti bahwa 20 menit berada di alam merupakan durasi khusus yang pasti memberikan hasil yang sama bagi semua orang.

Lalu, apa yang sebenarnya mungkin terjadi ketika kita meluangkan waktu sejenak di ruang hijau?

Sistem Saraf dan Tekanan Darah

Ketika seseorang berada dalam kondisi stres, tubuh dapat berada dalam keadaan lebih waspada. Denyut jantung dan tekanan darah dapat meningkat sebagai bagian dari respons tubuh terhadap tekanan.

Lingkungan alami yang tenang dapat membantu sebagian orang merasa lebih rileks. Sejumlah penelitian mengenai paparan ruang hijau menunjukkan adanya hubungan dengan penurunan tekanan darah, perubahan denyut jantung, dan respons fisiologis yang berkaitan dengan relaksasi.

Profesor Kathy Willis dari University of Oxford, misalnya, banyak membahas hubungan antara lingkungan alam dan kesehatan manusia. Temuan dari penelitian berskala besar di Inggris juga menunjukkan bahwa orang yang menghabiskan setidaknya sekitar 120 menit per minggu di alam melaporkan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak memiliki paparan alam tersebut.

Angka 120 menit tersebut tidak berarti seseorang harus menghabiskan waktu dua jam sekaligus di alam. Waktu tersebut dapat terbagi dalam beberapa kunjungan sepanjang minggu.

Dengan demikian, berjalan kaki selama 20 menit di taman dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk mulai memasukkan waktu di alam ke dalam rutinitas.

Respons Tubuh terhadap Stres

Berada di lingkungan yang menenangkan juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap stres.

Kortisol merupakan salah satu hormon yang berkaitan dengan respons stres. Sejumlah penelitian menemukan bahwa aktivitas atau paparan terhadap lingkungan alam dapat berkaitan dengan perubahan kadar kortisol dan indikator fisiologis lainnya.

Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam dan dipengaruhi oleh kondisi peserta, jenis lingkungan, durasi paparan, serta metode penelitian.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa berada di alam berpotensi membantu tubuh memasuki kondisi yang lebih rileks daripada menyatakan bahwa 20 menit di taman pasti menurunkan hormon stres pada setiap orang.

Aroma Alam dan Respons Indra

Alam juga memberikan rangsangan melalui indra penciuman.

Pepohonan dan tumbuhan melepaskan berbagai senyawa volatil yang dapat terhirup ketika seseorang berada di lingkungan berhutan. Salah satu kelompok senyawa yang banyak diteliti adalah senyawa aromatik dari tumbuhan.

Penelitian mengenai senyawa yang berasal dari pohon tertentu, termasuk hinoki, menunjukkan adanya kemungkinan pengaruh terhadap respons fisiologis dan psikologis. Namun, penelitian mengenai aroma tertentu tidak dapat secara langsung disamakan dengan semua jenis ruang hijau.

Dengan kata lain, aroma hutan mungkin menjadi salah satu bagian dari pengalaman berada di alam, tetapi manfaatnya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu jenis tanaman atau satu senyawa.

Yang lebih sederhana adalah menikmati lingkungan alami dengan berbagai rangsangan indra: warna pepohonan, suara burung, udara terbuka, aroma tanah, dan perubahan suhu.

Semua pengalaman tersebut dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian sejenak dari rutinitas dan memberi kesempatan untuk beristirahat secara mental.

Bagaimana dengan Sistem Kekebalan Tubuh?

Hubungan antara alam dan sistem kekebalan tubuh merupakan bidang penelitian yang menarik, tetapi banyak klaim populer mengenai hal ini perlu dibaca dengan hati-hati.

Beberapa penelitian mengenai paparan terhadap lingkungan hutan dan senyawa yang dilepaskan tumbuhan, yang sering disebut fitonsida, menemukan perubahan pada sejumlah penanda fungsi kekebalan tubuh. Penelitian mengenai aktivitas sel natural killer juga pernah menunjukkan hasil yang menarik.

Namun, penelitian tersebut tidak berarti bahwa berjalan 20 menit di taman akan meningkatkan kekebalan tubuh selama berminggu-minggu atau mencegah seseorang terkena penyakit.

Begitu pula dengan mikroorganisme lingkungan. Kontak dengan alam memang dapat memperkenalkan manusia pada beragam mikroorganisme, tetapi bukan berarti semakin banyak paparan terhadap bakteri dari tanah otomatis membuat sistem kekebalan tubuh menjadi lebih kuat.

Hubungan antara lingkungan alami, mikrobioma manusia, dan kesehatan masih terus diteliti.

Karena itu, manfaat berada di alam sebaiknya tidak dipahami sebagai terapi pengganti untuk menjaga kesehatan, melainkan sebagai salah satu kebiasaan yang dapat mendukung gaya hidup sehat.

Mengapa 20 Menit?

Dua puluh menit bukan angka ajaib.

Durasi tersebut lebih tepat dipandang sebagai target praktis yang mudah dimasukkan ke dalam rutinitas sehari-hari. Seseorang dapat menggunakannya sebagai kesempatan untuk berjalan santai, duduk di taman, atau melakukan aktivitas ringan di lingkungan terbuka.

Jika memiliki waktu lebih lama, tentu tidak masalah. Jika hanya memiliki waktu 10 atau 15 menit, waktu tersebut pun tetap dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat dan bergerak.

Yang penting adalah konsistensi.

Daripada menunggu waktu luang berjam-jam untuk pergi ke tempat wisata alam, taman kota atau ruang terbuka hijau di sekitar tempat tinggal dapat menjadi pilihan yang lebih realistis.

Berjalan, Bukan Sekadar Duduk

Jika kondisi tubuh memungkinkan, berjalan kaki di ruang hijau dapat memberikan manfaat tambahan karena menggabungkan paparan alam dengan aktivitas fisik.

Aktivitas fisik secara rutin diketahui memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan jantung, metabolisme, kesehatan mental, dan kebugaran secara umum.

Karena itu, berjalan santai selama 20 menit di taman dapat menjadi kebiasaan sederhana yang menggabungkan beberapa hal sekaligus: bergerak, keluar dari ruangan, mendapatkan paparan cahaya alami, dan menikmati lingkungan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari.

Namun, orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh dan anjuran tenaga kesehatan.

Jadikan Alam Bagian dari Rutinitas

Tidak perlu menunggu liburan untuk menikmati alam.

Luangkan waktu saat istirahat makan siang untuk berjalan di taman. Pilih rute pulang yang memungkinkan Anda melewati ruang terbuka. Duduk beberapa menit di bawah pepohonan. Atau, jika memiliki akses ke halaman rumah, gunakan sebagian waktu untuk berada di luar ruangan tanpa terus-menerus melihat layar.

Tujuannya bukan mengejar angka tertentu, melainkan memberikan tubuh dan pikiran kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Penelitian mengenai hubungan alam dan kesehatan memang terus berkembang. Bukti yang ada menunjukkan bahwa paparan terhadap ruang hijau berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan dan kesejahteraan, tetapi manfaat tersebut tidak boleh dipandang sebagai efek medis yang pasti atau pengganti pengobatan.

Pada akhirnya, 20 menit di luar ruangan mungkin terlihat seperti waktu yang sangat singkat.

Namun, jika dilakukan secara rutin, kebiasaan sederhana itu dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih aktif, lebih seimbang, dan lebih dekat dengan lingkungan sekitar.

Kadang-kadang, tubuh tidak membutuhkan perubahan besar.

Ia hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak, bernapas, bergerak, dan kembali merasakan dunia di luar ruangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *