SAMOSIR, BONARINEWS — Di balik setiap pahatan kayu, tersimpan cerita tentang ketekunan, identitas, dan warisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi masyarakat Batak, Gorga bukan sekadar ornamen penghias rumah, melainkan bagian dari kekayaan budaya yang mengandung makna dan filosofi kehidupan.
Namun, di tengah perubahan zaman dan selera pasar, keberlangsungan seni ukir tradisional menghadapi tantangan yang semakin nyata. Generasi muda yang tertarik menekuni profesi sebagai pengukir semakin terbatas, sementara pasar untuk produk ukiran tradisional juga menghadapi perubahan.
Gambaran tersebut terlihat ketika para Relawan Bakti BUMN 2026 untuk Samosir mengunjungi Central Handicraft dan berbincang langsung dengan salah seorang pengukir, Bapak Silalahi. Selama kurang lebih 40 tahun, ia telah menggeluti dunia seni ukir Batak Gorga. Puluhan tahun kehidupannya dihabiskan untuk mengukir kayu, mempertahankan bentuk-bentuk tradisional, sekaligus menjaga cerita yang terkandung di balik setiap motif.
Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Di tangan Bapak Silalahi, kayu tidak hanya berubah menjadi benda bernilai estetis, tetapi juga menjadi media untuk mempertahankan ingatan tentang budaya Batak.
Namun, perjalanan panjang tersebut tidak selalu mudah. Menurut penuturannya, minat pembeli terhadap seni ukir Batak semakin menurun. Kondisi tersebut turut berdampak pada pendapatan yang diperoleh. Dalam setahun, omzet dari usaha ukir yang dijalankannya disebut berkisar Rp20 juta.
Persoalan yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya mengenai pasar, melainkan keberlanjutan generasi pengukir. Sepengetahuan Bapak Silalahi, di lingkungan sekitarnya kini hanya tersisa sekitar lima orang pengukir yang masih aktif. Sementara itu, minat generasi muda untuk mempelajari dan menjadikan seni ukir sebagai profesi semakin berkurang.
Kondisi tersebut membuat keberadaan para pengukir seperti Bapak Silalahi menjadi semakin penting. Mereka bukan hanya pekerja seni, tetapi juga penjaga pengetahuan budaya yang tidak seluruhnya dapat ditemukan di dalam buku.
Bagi Bapak Silalahi, setiap ukiran memiliki cerita yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Batak. Salah satunya adalah Gorga Singa-singa, yang menurut penuturannya memiliki makna simbolis berupa kewibawaan, kekuatan, keberanian, dan perlindungan.
Gorga Singa-singa bukan ditempatkan sembarangan. Biasanya ditempatkan di bagian depan rumah untuk memperkuat kesan wibawa dan penjagaan rumah, tutur Bapak Silalahi.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa sebuah ukiran tidak hanya dinilai dari bentuk dan keindahannya. Di balik garis, pahatan, dan motifnya terdapat nilai budaya yang diwariskan oleh leluhur. Ketika sebuah Gorga dibuat, sesungguhnya pengukir tidak hanya sedang membentuk kayu menjadi karya seni, tetapi juga sedang menjaga sebuah cerita agar tetap hidup.
Ketika Ukiran Tua Justru Memiliki Cerita
Menariknya, nilai sebuah karya tidak selalu ditentukan oleh seberapa baru produk tersebut. Bapak Silalahi menjelaskan bahwa terdapat pembeli yang justru menyukai ornamen dengan warna yang mulai memudar karena dianggap memiliki karakter dan kekhasan tersendiri.
Bagi sebagian pembeli, perubahan warna pada kayu dan ukiran bukan semata-mata tanda usia, melainkan bagian dari perjalanan sebuah karya. Kesan tersebut memperlihatkan bahwa seni ukir tradisional memiliki karakter yang berbeda dengan produk dekorasi modern yang selalu dituntut tampil baru dan sempurna.
Bapak Silalahi juga menjelaskan bahwa bahan kayu yang digunakan dalam pembuatan ukiran yang ditunjukkan kepada para relawan adalah kayu jati, yang dikenal kuat dan tahan lama. Karakter kayu tersebut membutuhkan keterampilan dan teknik pengukiran yang baik. Untuk menghasilkan satu motif Gorga Singa-singa, ia dapat menghabiskan waktu sekitar tiga hingga empat jam dalam proses pengerjaan.
Karya tersebut memiliki kisaran harga sekitar Rp1 juta, tergantung pada produk dan tingkat pengerjaannya.
Di tengah pembicaraan mengenai harga, salah seorang relawan kemudian mengajukan pertanyaan yang menarik.
Pak, sejauh-jauhnya barang ini ditawar, Bapak berani memberi berapa persen penurunan harganya?
Bapak Silalahi menjelaskan bahwa harga tidak semestinya ditekan terlalu rendah hanya karena sebuah produk telah lama dipajang. Menurutnya, lama tersimpan tidak otomatis berarti sebuah karya kehilangan nilai.
Meskipun lama terpajang bukan berarti barang itu memiliki nilai jual yang rendah, tambahnya.
Ia juga menceritakan bahwa produk-produk ukiran yang telah lama dipajang terkadang justru diminati oleh wisatawan mancanegara. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat segmen pasar yang menghargai keunikan, usia, proses pengerjaan, dan nilai budaya sebuah karya.
Tantangan Baru: Membawa Gorga ke Pasar yang Lebih Luas
Di tengah perubahan selera konsumen, produk berukuran kecil seperti gantungan kunci dan suvenir kini lebih banyak diminati wisatawan. Produk tersebut dianggap praktis untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari Samosir.
Namun, tantangan yang dihadapi para pengukir bukan hanya bagaimana menghasilkan karya, tetapi juga bagaimana memperkenalkannya kepada pasar yang lebih luas.
Bapak Silalahi menyampaikan bahwa promosi dan pemasaran menjadi salah satu kendala yang masih dihadapi para pengukir. Padahal, ia dan para pengukir lainnya memiliki kemampuan untuk menerima pesanan seni ukir Batak Gorga dari berbagai daerah, bahkan lintas pulau.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan seni ukir tradisional membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan mengukir. Para pengrajin juga membutuhkan kemampuan membangun pasar, memanfaatkan teknologi, mengemas produk, serta memperkenalkan cerita di balik karya kepada konsumen.
Di sinilah workshop yang dilaksanakan dalam rangkaian Program Relawan Bakti BUMN 2026 menjadi penting. Pertemuan antara relawan dan para pengukir bukan hanya menjadi ruang untuk memberikan pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk mendengar langsung persoalan yang dihadapi oleh pelaku seni tradisional.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan aktivitas para pengukir, Mind ID dan Inalum memberikan bantuan berupa 15 set alat ukir, satu paket Mini Studio Box, dan papan nama workshop. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses produksi sekaligus membantu para pengrajin menghasilkan dokumentasi produk yang lebih baik untuk kebutuhan promosi.
Para relawan juga membagikan sejumlah suvenir yang dibawa dari instansi masing-masing kepada masyarakat yang aktif mengikuti diskusi dan menyampaikan pertanyaan maupun aspirasi selama kegiatan berlangsung.
Lebih jauh, perjumpaan dengan Bapak Silalahi memberikan sebuah pelajaran bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpan atau mempertontonkan sebuah karya. Warisan budaya akan tetap hidup apabila ada orang yang bersedia mempelajarinya, membuatnya, menceritakannya, dan menemukan cara agar karya tersebut tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Empat puluh tahun perjalanan Bapak Silalahi menjadi pengingat bahwa seorang pengukir dapat menyimpan begitu banyak pengetahuan tentang budaya. Namun, agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada satu generasi, diperlukan ruang bagi anak-anak muda untuk mengenal, belajar, dan menemukan kembali kebanggaan terhadap seni tradisional.
Gorga bukan hanya tentang bagaimana kayu dipahat menjadi indah. Gorga adalah tentang bagaimana sebuah cerita tetap hidup melalui tangan pengukirnya.
Melalui kisah para pengukir di Samosir, Program Relawan Bakti BUMN 2026 diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan budaya, kreativitas, teknologi, dan peluang ekonomi. Sebab, melestarikan seni tradisional bukan berarti harus membiarkannya berjalan seperti masa lalu, tetapi memberikan ruang agar warisan tersebut dapat tumbuh dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari tangan pengukir, Gorga diwariskan. Dari generasi muda, Gorga diteruskan. Dan melalui kreativitas serta pemasaran yang tepat, warisan budaya itu dapat kembali memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat Samosir.
Penulis adalah Pretty Luci Lumbanraja, salah satu Relawan Bakti BUMN untuk Samosir Tahun 2026.