SAMOSIR, BONARINEWS — Pagi di Samosir selalu dimulai dengan pemandangan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata indah. Danau Toba membentang tenang, pegunungan berdiri mengitari perairan, sementara kehidupan masyarakat bergerak di antara tradisi, pertanian, perdagangan, pariwisata, dan kerajinan.
Tetapi di balik keindahan itu, ada pertanyaan yang lebih penting: bagaimana masyarakat yang hidup di tengah kekayaan alam dan budaya dapat terus tumbuh tanpa kehilangan akar yang membentuk identitasnya?
Pertanyaan itulah yang perlahan terjawab ketika saya bersama para peserta Relawan Bakti BUMN 2026 berinteraksi dengan masyarakat Samosir selama beberapa hari.
Kami datang membawa program. Tetapi setelah bertemu masyarakat, saya menyadari bahwa yang lebih penting bukan apa yang kami bawa, melainkan apa yang kami temukan.
Samosir ternyata tidak kekurangan potensi.
Yang dibutuhkan adalah jembatan.
Jembatan antara potensi dan pengetahuan. Antara karya dan pasar. Antara persoalan lingkungan dan peluang ekonomi. Antara tradisi dan teknologi. Antara kesehatan hari ini dan kualitas generasi yang akan datang.
Dari Danau Toba, Energi Itu Mengalir
Ada ironi yang menarik ketika berbicara tentang energi di Samosir.

Danau Toba selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari perjalanan energi dan industri melalui aliran airnya menuju Sungai Asahan. Air yang berasal dari danau menggerakkan turbin dan menjadi bagian dari proses produksi energi.
Namun, energi dari Danau Toba sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar energi listrik.
Ia dapat menjadi energi pengetahuan.
Energi perubahan.
Energi yang membuat masyarakat melihat sesuatu yang selama ini dianggap masalah menjadi peluang.
Itulah semangat yang terasa ketika Program Relawan Bakti BUMN 2026 hadir di Samosir dengan tema Mengalirkan Energi bagi Masa Depan Bangsa.
Bagi saya, energi tersebut tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seorang ibu yang memahami pentingnya seribu hari pertama kehidupan anaknya, seorang pengrajin yang mulai belajar memasarkan produknya melalui telepon seluler, atau seorang warga yang melihat eceng gondok bukan lagi semata sebagai gulma.
Dari Gulma Menjadi Pupuk
Di kawasan Danau Toba, eceng gondok selama ini lebih sering dipandang sebagai persoalan lingkungan. Pertumbuhannya yang cepat dapat mengganggu ekosistem perairan.
Namun, ketika masyarakat diajak melihatnya dari sudut yang berbeda, tanaman tersebut memiliki kemungkinan lain.
Eceng gondok dapat diolah menjadi pupuk cair maupun pupuk padat.
Dalam pelatihan yang berlangsung di Tuktuk Siadong, masyarakat tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai aktivator dan fermentasi. Mereka mempraktikkan langsung bagaimana tanaman yang sebelumnya dianggap mengganggu dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna.
Ada sesuatu yang menarik dari proses tersebut.
Persoalan lingkungan dan persoalan ekonomi ternyata dapat bertemu pada satu titik.
Ketika eceng gondok diangkat dari air, dicacah, diolah, difermentasi, dan dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di pekarangan, masyarakat tidak hanya sedang membuat pupuk. Mereka sedang belajar mengubah cara pandang.
Sesuatu yang dianggap limbah belum tentu tidak bernilai.
Bantuan berupa mesin pencacah, blender, drum, terpal, dan peralatan pendukung lainnya menjadi penting bukan hanya karena membuat pekerjaan lebih mudah, tetapi karena memberi masyarakat kesempatan untuk meneruskan pengetahuan setelah pelatihan berakhir.
Dari Eceng Gondok Menjadi Produk Kreatif
Cerita tentang eceng gondok ternyata tidak berhenti pada pupuk.
Di tangan pengrajin, tanaman tersebut dapat berubah menjadi tas, tempat tisu, sandal, topi, gantungan kunci, dekorasi rumah, hingga hampers.
Di sini saya melihat sebuah pelajaran penting tentang ekonomi kreatif.
Nilai sebuah benda tidak selalu terletak pada bahan dasarnya. Nilai dapat lahir dari kreativitas, keterampilan, cerita, desain, dan cara produk tersebut diperkenalkan.
Persoalannya, produk yang bagus belum tentu menemukan pembeli.
Karena itu, pengrajin juga perlu memahami dunia pemasaran digital. Telepon seluler yang selama ini digunakan untuk berkomunikasi dapat berubah menjadi kamera produk, etalase, alat membuat konten, bahkan pintu menuju pasar yang jauh dari Samosir.
Peserta pelatihan belajar memotret produk, membuat deskripsi, menyusun materi promosi, hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan sebagai alat bantu membuat visual dan konten.
Teknologi tidak dimaksudkan menggantikan tangan pengrajin.
Justru sebaliknya.
Tangan pengrajin tetap menjadi sumber karya. Teknologi menjadi jembatan agar karya itu dapat ditemukan oleh lebih banyak orang.
Bagi saya, inilah salah satu tantangan terbesar UMKM di daerah: bukan sekadar membuat produk, tetapi membuat dunia tahu bahwa produk itu ada.
Dari Karya ke Pasar
Persoalan kemudian berkembang.
Bagaimana jika produk sudah bagus tetapi uang usaha masih bercampur dengan uang keluarga?
Bagaimana menentukan modal dan keuntungan jika transaksi tidak dicatat?
Bagaimana sebuah usaha dapat tumbuh jika keuntungan hari ini langsung habis untuk kebutuhan sehari-hari?
Dalam percakapan dengan para pengrajin, persoalan tersebut muncul sebagai bagian dari realitas usaha kecil.
Karena itu, literasi keuangan menjadi sama pentingnya dengan keterampilan produksi.
Memisahkan uang usaha dan uang rumah tangga, mencatat transaksi, menghitung modal, mengetahui keuntungan, serta menyisihkan dana untuk investasi adalah langkah sederhana yang dapat menentukan masa depan sebuah usaha.
Digitalisasi transaksi melalui QRIS juga dapat menjadi pintu masuk menuju pencatatan yang lebih tertib.
Dari sana, pengrajin dapat mulai mengetahui produk mana yang paling banyak diminati, kapan penjualan meningkat, berapa nilai transaksi, dan bagaimana usaha dapat dikembangkan.
Saya semakin memahami bahwa naik kelas bagi UMKM bukan selalu berarti menjadi perusahaan besar.
Naik kelas dapat dimulai dari kemampuan memahami angka-angka sederhana dalam usaha sendiri.
Gorga dan Penjaga Ingatan
Namun, di tengah pembicaraan tentang teknologi dan pasar, Samosir mengingatkan saya bahwa ada sesuatu yang tidak boleh hilang.
Budaya.
Di sebuah ruang kerajinan, saya bertemu dengan seorang pengukir yang telah menghabiskan sekitar empat puluh tahun hidupnya untuk mengukir Gorga Batak.
Bapak Silalahi bukan sekadar pengrajin.
Ia adalah penjaga ingatan.
Selama puluhan tahun, tangannya bersentuhan dengan kayu, pahat, motif, dan cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ia menceritakan Gorga Singa-singa yang memiliki makna kewibawaan, kekuatan, keberanian, dan perlindungan.
Di titik itu saya menyadari bahwa sebuah Gorga tidak pernah hanya menjadi benda.
Ada cerita di dalamnya.
Ada pandangan hidup.
Ada identitas.
Ada pengetahuan yang tidak selalu tertulis.
Namun, warisan tersebut menghadapi persoalan serius. Menurut penuturan Bapak Silalahi, pengukir yang masih aktif di lingkungan sekitarnya kini tinggal sekitar lima orang. Minat generasi muda untuk meneruskan profesi tersebut juga semakin terbatas.
Persoalannya bukan hanya pasar.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah regenerasi.
Sebuah bangsa dapat kehilangan warisan budaya bukan karena masyarakat tidak lagi menyukai bentuknya, tetapi karena tidak ada lagi orang yang mengetahui cara membuatnya.
Karena itu, pelestarian Gorga tidak cukup dengan menjadikannya pajangan.
Gorga harus tetap dibuat.
Harus dipelajari.
Harus diceritakan.
Dan harus memiliki masa depan ekonomi agar orang-orang yang mengerjakannya dapat terus bertahan.
Dari pahat dan kayu, percakapan kemudian kembali kepada pasar.
Sebuah karya yang dikerjakan selama berjam-jam membutuhkan harga yang pantas. Produk yang memiliki nilai budaya membutuhkan konsumen yang memahami cerita di baliknya.
Di sinilah pemasaran kembali menjadi penting.
Tradisi dan teknologi ternyata bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.
Pahat berada di tangan pengrajin.
Kamera berada di tangan generasi muda.
Cerita berada di media sosial.
Pasar berada di ruang digital.
Semua dapat bertemu tanpa harus menghilangkan identitas.
Menjaga Anak, Menjaga Masa Depan
Tetapi ada satu hal lain yang membuat saya berpikir lebih jauh: semua pembicaraan mengenai ekonomi dan budaya pada akhirnya akan kembali kepada manusia.
Karena itu, kesehatan menjadi bagian penting dari cerita Samosir.
Edukasi mengenai pencegahan stunting dan pentingnya seribu hari pertama kehidupan mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang bagaimana masyarakat memperoleh pendapatan, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat.
Seribu hari pertama kehidupan bukan sekadar angka.
Di dalamnya terdapat masa yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, sejak kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupannya.
Pengetahuan mengenai gizi, pola asuh, kebersihan, dan pemenuhan kebutuhan anak sejak dini menjadi investasi yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat.
Tetapi justru di sanalah masa depan dibentuk.
Ketika berbicara dengan para ibu, saya kembali melihat bahwa pembangunan sering kali dimulai dari ruang yang paling kecil: rumah.
Dari dapur.
Dari piring makanan anak.
Dari kebiasaan mencuci tangan.
Dari perhatian seorang ibu terhadap pertumbuhan anaknya.
Jika kita ingin berbicara tentang masa depan Samosir, kita tidak dapat hanya berbicara mengenai pariwisata, UMKM, atau infrastruktur.
Kita juga harus berbicara mengenai anak-anak yang akan mewarisi Samosir.
Anak adalah Kekayaan
Dalam salah satu percakapan mengenai pendidikan dan masa depan generasi, muncul filosofi Batak Anakkoki do Hamoraon di Ahu.
Anak adalah kekayaan.
Filosofi itu terasa semakin relevan ketika melihat anak-anak Samosir mengikuti berbagai kegiatan.
Ada sesuatu yang tidak dapat diukur dengan angka ketika melihat anak-anak berlari, tertawa, mengikuti perlombaan, belajar, dan menari.
Di tengah rangkaian kegiatan kemerdekaan di Simanindo, anak-anak membawa bendera Merah Putih, mengikuti Martumba, dan berlomba dalam permainan khas 17 Agustus.
Pemandangan itu sederhana.
Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa penting.
Ada Merah Putih sepanjang 81 meter.
Ada irama marching band.
Ada gerakan Martumba.
Ada anak-anak yang tertawa ketika mengikuti lomba makan kerupuk, memindahkan air dengan spons, bermain kelereng, atau mengikuti permainan sederhana lainnya.
Dalam suasana seperti itu, pengabdian terasa berbeda.
Kami tidak sedang berdiri di depan masyarakat sebagai orang yang datang untuk mengajari.
Kami berdiri di tengah mereka.
Menari bersama.
Tertawa bersama.
Belajar bersama.
Dan perlahan memahami bahwa masyarakat bukan objek dari sebuah program.
Masyarakat adalah mitra.
Dalihan Na Tolu dan Cara Hadir
Mungkin inilah salah satu pelajaran paling penting yang saya bawa pulang dari Samosir.
Kita sering berbicara tentang program pemberdayaan dengan istilah yang besar: peningkatan kapasitas, transformasi digital, penguatan ekonomi, keberlanjutan, dan pembangunan manusia.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan: cara kita hadir.
Masyarakat memiliki pengetahuan sendiri.
Mereka memiliki tradisi sendiri.
Mereka memiliki pengalaman yang tidak selalu dapat ditemukan dalam modul pelatihan.
Karena itu, datang ke sebuah daerah seharusnya bukan dengan perasaan paling tahu.
Kita datang untuk mendengar.
Untuk memahami.
Untuk bertukar pengetahuan.
Dalam konteks masyarakat Batak, nilai Dalihan Na Tolu mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan melalui Somba Marhula-hula, Elek Marboru, dan Manat Mardongan Tubu.
Bagi saya, nilai tersebut bukan sekadar filosofi yang indah untuk dibicarakan.
Ia dapat menjadi cara untuk menjalankan program.
Menghormati masyarakat.
Menjaga hubungan.
Mendengarkan sebelum berbicara.
Dan membangun sesuatu bersama.
Sepuluh relawan mungkin hanya hadir beberapa hari.
Tetapi masyarakat Samosir akan terus menjalani kehidupannya setelah kami pergi.
Karena itu, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa banyak kegiatan yang dapat dilakukan dalam beberapa hari.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah kami pergi, ada sesuatu yang masih dapat diteruskan.
Mesin pencacah yang tetap digunakan.
Pengrajin yang terus mencatat keuangan.
Produk eceng gondok yang semakin dikenal.
Gorga yang tetap dipahat.
Ibu yang semakin memahami pentingnya seribu hari pertama kehidupan.
Anak yang tumbuh sehat dan mengenal budayanya.
Itulah keberlanjutan.
Energi yang Tidak Berhenti
Pada akhirnya, perjalanan di Samosir membuat saya melihat Danau Toba dengan cara yang berbeda.
Dari kejauhan, danau itu tampak seperti hamparan air yang tenang.
Tetapi di dalam dan di sekelilingnya terdapat energi yang terus bergerak.
Air mengalir.
Masyarakat bekerja.
Pengrajin memahat.
Ibu merawat anak.
Anak-anak belajar dan bermain.
Petani mengolah tanah.
Pengrajin mengubah eceng gondok menjadi produk.
Pelaku UMKM belajar memotret dan memasarkan produknya.
Semua bergerak dalam satu ruang kehidupan.
Energi itu tidak selalu terlihat.
Tetapi ia ada.
Dan tugas sebuah program pemberdayaan bukan menciptakan energi tersebut dari nol. Masyarakat sudah memilikinya.
Tugasnya adalah membantu membuka jalan agar energi itu dapat mengalir lebih jauh.
Eceng gondok yang semula menjadi gulma dapat menjadi pupuk.
Kemudian menjadi produk kreatif.
Produk yang baik dapat masuk ke pasar digital.
Pengrajin yang terampil dapat memperoleh nilai ekonomi yang lebih layak.
Gorga yang diwariskan selama puluhan tahun dapat menemukan generasi baru.
Anak-anak yang tumbuh sehat dapat menjadi penerus.
Budaya yang dirawat dapat menjadi kekuatan, bukan sekadar kenangan.
Dari sana saya belajar bahwa pembangunan yang paling berarti bukan selalu pembangunan yang paling besar.
Kadang ia dimulai dari sesuatu yang kecil.
Dari sepotong kayu.
Dari tanaman yang mengapung di permukaan danau.
Dari sebuah telepon seluler.
Dari catatan keuangan sederhana.
Dari piring makanan seorang anak.
Dari gerakan Martumba.
Dari tangan seorang pengukir yang telah memegang pahat selama empat puluh tahun.
Semuanya terlihat terpisah.
Namun sesungguhnya terhubung oleh satu hal: manusia yang ingin menjaga kehidupan agar tetap berjalan ke masa depan.
Samosir mengajarkan saya bahwa kekayaan sebuah daerah tidak hanya terletak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada kemampuan masyarakat mengolah apa yang dimiliki menjadi sesuatu yang memberi kehidupan.
Dan mungkin, itulah makna energi yang sesungguhnya.
Bukan sekadar energi yang menggerakkan turbin.
Melainkan energi yang menggerakkan manusia.
Energi yang membuat masyarakat berani mencoba.
Energi yang membuat tradisi bertahan.
Energi yang membuat anak-anak tumbuh.
Energi yang membuat karya menemukan pasar.
Energi yang membuat lingkungan dijaga.
Dan energi yang membuat kita percaya bahwa masa depan dapat dibangun tanpa harus meninggalkan akar.
Dari Danau Toba, air mengalir menuju Asahan.
Dari tangan masyarakat, pengetahuan mengalir menuju generasi berikutnya.
Dan dari Samosir, semoga energi perubahan itu terus mengalir jauh melampaui batas pulau, membawa serta satu pesan sederhana: bahwa ketika potensi, pengetahuan, budaya, dan manusia bergerak bersama, sebuah daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu menatap masa depannya dengan percaya diri.
Penulis adalah Pretty Luci Lumbanraja, salah satu peserta Relawan Bakti BUMN 2026 untuk Samosir.