SAMOSIR, BONARINEWS — Upaya mencegah stunting tidak selalu dimulai dari langkah besar. Memperhatikan makanan yang dikonsumsi anak, memantau pertumbuhan secara rutin, menjaga kebersihan, serta memberikan pola asuh yang tepat merupakan bagian dari langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga sejak awal kehidupan anak.
Pesan tersebut menjadi salah satu fokus dalam rangkaian Program Relawan Bakti BUMN (RBB) 2026 di Samosir melalui kegiatan Edukasi Pencegahan Stunting di Puskesmas Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Kegiatan bertema **“Cegah Stunting, Wujudkan Generasi Samosir yang Sehat, Cerdas, dan Berprestasi”** tersebut mempertemukan para relawan dengan ibu hamil dan ibu yang memiliki anak balita. Edukasi diarahkan untuk memperkuat pemahaman keluarga mengenai pentingnya gizi, kesehatan, pola asuh, serta pemantauan tumbuh kembang anak, terutama selama **1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)**.
Periode 1.000 HPK merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi dan perhatian terhadap kesehatan anak perlu dilakukan sejak masa kehamilan hingga tahun-tahun awal kehidupan.
Dalam materi kegiatan, relawan menggunakan data **Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021** sebagai salah satu gambaran mengenai tantangan stunting di wilayah tersebut. Pada 2021, prevalensi balita *stunted* di Sumatera Utara tercatat 25,8 persen, sementara Kabupaten Samosir berada pada angka 28,4 persen.
Data tersebut menjadi konteks penting bagi perlunya penguatan edukasi masyarakat. Namun, angka tersebut merupakan data tahun 2021 dan tidak dapat secara langsung dianggap sebagai prevalensi Samosir pada 2026.
### Meluruskan Mitos tentang Stunting
Salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta adalah pembahasan mengenai mitos dan fakta seputar stunting.
Para ibu diajak memahami bahwa anak bertubuh pendek tidak otomatis berarti mengalami stunting. Sebaliknya, anak yang memiliki nafsu makan besar juga tidak serta-merta dapat disebut sehat apabila makanan yang dikonsumsi tidak memenuhi kebutuhan gizinya.
Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Karena itu, orang tua perlu melihat lebih dari sekadar ukuran tubuh atau jumlah makanan yang dikonsumsi.
“Yang penting bukan hanya seberapa banyak anak makan, tetapi apa yang dimakan, seberapa beragam menunya, apakah gizinya seimbang, dan bagaimana pertumbuhannya sesuai dengan usianya,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam edukasi tersebut.
Pemantauan pertumbuhan secara berkala juga menjadi bagian penting dalam pencegahan. Para relawan mengingatkan orang tua untuk membawa anak ke Posyandu dan memantau tinggi serta berat badan secara rutin.
“Karena itu, anak perlu dipantau tinggi dan berat badannya secara rutin di Posyandu, tidak cukup dinilai dari bentuk tubuhnya saja,” ujar salah satu relawan.
Pemantauan tersebut memungkinkan adanya perhatian lebih dini ketika ditemukan masalah pertumbuhan sehingga keluarga dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan memperoleh penanganan yang sesuai.
### Pangan Lokal untuk Gizi Anak
Edukasi juga menyentuh persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari keluarga, yakni anggapan bahwa makanan bergizi harus mahal.
Para peserta diperkenalkan pada berbagai pilihan pangan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti ikan, telur, tempe, tahu, sayuran hijau, dan buah-buahan.
“Untuk memberikan makanan bergizi kepada anak tidak harus menggunakan bahan pangan yang mahal atau impor. Banyak pangan lokal yang terjangkau dan memiliki kandungan gizi yang baik,” pesan salah seorang relawan.
Pesan tersebut penting bagi keluarga karena pemenuhan gizi anak pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli makanan mahal, tetapi juga pengetahuan dalam memilih dan mengolah bahan pangan yang tersedia.
Dengan memanfaatkan sumber pangan lokal secara beragam dan memperhatikan kebutuhan gizi anak, keluarga dapat mengambil peran langsung dalam upaya pencegahan stunting dari rumah.
### Pencegahan Membutuhkan Peran Bersama
Pencegahan stunting tidak berhenti pada edukasi kepada ibu. Peran keluarga, tenaga kesehatan, Posyandu, serta masyarakat juga diperlukan agar pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan anak dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, para relawan mendorong para ibu untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan persoalan terkait pertumbuhan maupun kesehatan anak.
Mind ID dan Inalum turut memberikan bantuan kepada sejumlah ibu penerima manfaat melalui Kepala Puskesmas Simanindo. Dukungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sekaligus melengkapi edukasi yang diberikan kepada masyarakat.
Bagi masyarakat di Samosir, upaya pencegahan stunting pada akhirnya bukan hanya persoalan angka prevalensi. Di balik setiap angka terdapat anak yang sedang berada pada fase penting pertumbuhan dan keluarga yang membutuhkan pengetahuan serta dukungan untuk memastikan tumbuh kembangnya berjalan optimal.
Karena itu, perubahan dapat dimulai dari rumah: dari makanan yang diberikan kepada anak, kebiasaan memantau pertumbuhan, kebersihan, pola asuh, hingga keberanian orang tua untuk mencari informasi dan berkonsultasi ketika menemukan masalah.
Melalui Program Relawan Bakti BUMN 2026, edukasi tersebut diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh para ibu diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus dibagikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
Sebab, membangun generasi yang sehat tidak hanya membutuhkan intervensi ketika masalah sudah terjadi. Upaya itu dimulai jauh lebih awal—sejak 1.000 hari pertama kehidupan, dari keluarga, dan dari kepedulian terhadap hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.
“Generasi Samosir yang sehat dan cerdas tidak lahir secara kebetulan. Ia tumbuh dari keluarga yang peduli, masyarakat yang bergerak bersama, dan perhatian yang dimulai sejak 1.000 hari pertama kehidupan.”
Penulis: Pretty Luci Lumbanraja, Relawan Bakti BUMN Samosir 2026.