Minggu lalu saya berkunjung ke Balige. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah suasana pendidikan di kota ini. Sekolah-sekolah unggulan terus tumbuh, dan saya melihat banyak anak SMA yang sudah memiliki orientasi yang cukup jelas tentang masa depan mereka.
Saya sempat berbincang dengan beberapa remaja. Mereka tahu jurusan apa yang ingin diambil, kampus mana yang ingin dituju, bahkan tahu apa yang perlu dilakukan untuk sampai ke sana. Bimbingan belajar pun terlihat ramai. Sepulang sekolah, mereka kembali belajar. Hari Sabtu pun sering diisi dengan kegiatan yang sama.
Ada semangat kompetitif yang kuat: mendapatkan nilai terbaik, masuk PTN favorit, dan memiliki masa depan yang baik.
Saya tentu tidak melihat semua itu sebagai sesuatu yang buruk. Justru sebaliknya. Memberikan pendidikan terbaik kepada anak adalah tanggung jawab penting orang tua. Anak perlu didukung untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya dan dipersiapkan menghadapi masa depan.
Namun, ada satu pertanyaan yang kemudian menggelisahkan saya:
Jangan-jangan, di tengah kesibukan kita mempersiapkan masa depan anak, ada sesuatu yang justru kita lupa persiapkan?
Perkembangan manusia tidak hanya menyangkut kemampuan kognitif. John W. Santrock, pakar psikologi perkembangan, dalam bukunya Life-Span Development, menjelaskan bahwa perkembangan manusia mencakup tiga aspek utama: biologis, kognitif, dan psikososial.
Kita cukup serius memperhatikan dua aspek pertama. Anak harus bertumbuh secara fisik dengan baik. Anak juga harus mendapatkan pendidikan yang baik, memperoleh nilai yang baik, bahkan diarahkan ke sekolah dan perguruan tinggi yang baik.
Tetapi bagaimana dengan perkembangan psikososialnya?
Aspek psikososial berkaitan dengan bagaimana anak membentuk kepribadian, mengelola emosi, membangun relasi, memahami dirinya, mengambil tanggung jawab, dan belajar hidup bersama orang lain.
Dan perkembangan ini tidak terutama terjadi di ruang kelas.
Ia tumbuh melalui relasi dan pengalaman sehari-hari.
Anak membutuhkan kesempatan untuk berbicara dengan orang tua. Mereka membutuhkan waktu untuk bermain, berdiskusi, mengalami konflik, belajar meminta maaf, menyelesaikan masalah, dan melihat bagaimana orang dewasa menjalani kehidupan.
Anak belajar tentang tanggung jawab bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui kesempatan untuk memikul tanggung jawab itu sendiri.
Kembali pada cerita anak-anak SMA yang saya temui. Senin sampai Jumat mereka berada di sekolah sejak pagi hingga sore. Sepulang sekolah, mereka mengikuti bimbingan belajar. Waktu yang tersisa kemudian diisi dengan tugas dan persiapan belajar. Hari Sabtu kembali digunakan untuk mengejar target pendidikan.
Kita mungkin sedang memberikan pendidikan yang sangat baik kepada mereka.
Tetapi, jangan-jangan kita juga sedang mengambil sesuatu yang tidak kalah penting: kesempatan untuk belajar menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, kita bisa menemukan orang dewasa yang sangat cerdas secara akademis, tetapi kesulitan mengelola emosi. Sangat terampil dalam pekerjaan, tetapi tidak mampu membangun relasi yang sehat. Memiliki gelar yang tinggi, tetapi tidak mampu mengurus kehidupan sehari-hari. Berprestasi, tetapi mudah runtuh ketika menghadapi kegagalan.
Lalu orang tua bertanya, “Mengapa anak saya menjadi seperti ini?”
Mungkin salah satu jawabannya adalah karena ada bagian dari perkembangan mereka yang selama ini kurang kita perhatikan.
Karena itu, kita perlu menolong anak bertumbuh dalam aspek psikososialnya. Salah satu cara yang sederhana adalah memberikan tanggung jawab melalui pekerjaan-pekerjaan rumah.
Anak perlu belajar membereskan kamarnya, mencuci piring, membantu pekerjaan rumah, mengurus barang-barangnya sendiri, mengatur waktu, menepati janji, dan menghadapi konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
Mereka juga perlu belajar bekerja sama dengan anggota keluarga.
Mereka perlu memahami bahwa rumah bukan hotel, dan orang tua bukan petugas pelayanan yang akan selalu menyelesaikan segala sesuatu untuk mereka.
Hal-hal sederhana seperti ini sering kali dianggap kurang penting dibandingkan les, kursus, bimbingan belajar, atau persiapan masuk perguruan tinggi.
Padahal, justru melalui tugas-tugas sederhana itulah anak belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.
Penelitian Riggio dkk. menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah dalam keluarga asal berkorelasi positif dengan self-efficacy pada masa dewasa muda. Self-efficacy secara sederhana dapat dipahami sebagai keyakinan bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu dan bertanggung jawab atas kehidupannya.
Ketika anak diberi tanggung jawab, ia mendapatkan kesempatan untuk mengalami sebuah proses sederhana:
Saya diberi tugas. Saya mengerjakannya. Sesuatu berhasil karena usaha saya. Saya ternyata mampu.
Pengalaman keberhasilan seperti ini penting dalam membangun self-efficacy. Dari sana, anak dapat belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, pengendalian diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kesediaan membantu orang lain. [1]
Kita tentu menginginkan anak yang masuk universitas terbaik.
Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa rumah adalah ruang pendidikan yang pertama.
Relasi dengan orang tua adalah salah satu ruang pembentukan yang sangat penting. Pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah juga merupakan bagian dari pendidikan.
Ketika kita begitu sibuk mempersiapkan anak untuk masa depan, kita perlu bertanya:
Apakah kita masih memberikan mereka cukup waktu untuk belajar hidup hari ini?
Anak-anak kita memang perlu dipersiapkan untuk masuk perguruan tinggi. Mereka perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan akademis yang baik.
Namun, lebih dari itu, mereka perlu dipersiapkan untuk menjadi manusia dewasa yang bertumbuh secara utuh: secara biologis, kognitif, dan psikososial.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan seorang anak bukan hanya tentang seberapa tinggi ia bisa mencapai pendidikan, tetapi juga tentang seberapa baik ia mampu menjalani kehidupan.
Penulis: Rigop Darmiko
Penulis adalah konselor Kristen yang tinggal di Rantauprapat. Pertanyaan dan topik seputar perkembangan dan kepribadian psikologis manusia dapat disampaikan di kolom komentar untuk dibahas, atau dikirim melalui email ke rigopsitorus@gmail.com. Topik yang dikirim melalui email akan dibahas tanpa menyebutkan identitas pengirim.
Catatan referensi
[1] Riggio, H. R., Valenzuela, A. M., & Weiser, D. A. (2010). Household responsibilities in the family of origin: Relations with self-efficacy in young adulthood. Personality and Individual Differences, 48(5), 568–573. https://doi.org/10.1016/j.paid.2009.12.008