JAKARTA, BONARINEWS — Penggunaan gawai pada anak usia dini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Di satu sisi, layar dapat membantu orang tua mengalihkan perhatian anak ketika harus bekerja atau menyelesaikan pekerjaan rumah. Di sisi lain, penggunaan layar yang berlebihan dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi, bermain, bergerak, dan beristirahat.
Karena itu, persoalannya bukan semata apakah anak boleh menggunakan gawai, melainkan bagaimana orang tua mengatur durasi, jenis tontonan, serta mendampingi anak ketika menggunakan layar.
Departemen Pendidikan Inggris merekomendasikan anak berusia di bawah dua tahun tidak terpapar layar, kecuali untuk aktivitas seperti video call bersama keluarga. Sementara anak usia dua hingga lima tahun disarankan menggunakan layar maksimal sekitar satu jam per hari.
Panduan tersebut sejalan dengan rekomendasi yang selama ini diberikan organisasi kesehatan anak dan kesehatan global mengenai pembatasan penggunaan layar pada anak usia dini.
Namun, durasi bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Cara anak menggunakan layar juga berpengaruh. Menonton bersama orang tua sambil berbicara mengenai apa yang dilihat anak dinilai lebih bermanfaat dibandingkan membiarkan anak menonton sendirian dalam waktu yang sama.
Pada usia dini, sebagian besar perkembangan otak berlangsung sangat cepat. Interaksi langsung dengan orang tua dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam perkembangan kemampuan bahasa, sosial, emosi, dan kemampuan anak memahami dunia.
Sebuah riset pemerintah Inggris mengenai anak-anak generasi 2020-an menemukan adanya perbedaan kemampuan kosakata pada anak berdasarkan durasi penggunaan layar. Anak dengan penggunaan layar sekitar lima jam sehari dilaporkan memiliki penguasaan kosakata lebih rendah dibandingkan anak yang menggunakan layar sekitar 44 menit sehari.
Kecepatan konten juga perlu diperhatikan. Video dengan pergantian adegan sangat cepat, seperti sejumlah konten pendek di media sosial, dapat membuat anak lebih sulit beralih ke kondisi tenang setelah menonton.
Karena itu, orang tua disarankan memilih tontonan yang sesuai dengan usia anak, memiliki tempo lebih lambat, struktur cerita yang jelas, serta tidak terus-menerus berganti adegan.
Mengatur screen time juga tidak harus dilakukan dengan larangan mendadak. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah co-viewing atau menemani anak saat menonton. Orang tua dapat mengajukan pertanyaan sederhana, seperti menanyakan warna benda, nama tokoh, atau apa yang sedang terjadi dalam cerita.
Cara tersebut membuat aktivitas menonton menjadi kesempatan untuk berkomunikasi dan memperkaya kosakata anak.
Orang tua juga dapat menetapkan waktu dan tempat bebas layar, terutama ketika makan dan menjelang tidur. Layar sebaiknya dikurangi setidaknya satu jam sebelum anak tidur agar waktu istirahat tidak terganggu.
Kebiasaan orang tua juga berperan. Anak belajar melalui pengamatan terhadap orang-orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua dapat memberikan contoh dengan menyimpan ponsel ketika sedang makan, bermain, atau berbicara bersama anak.
Fitur pengawasan orang tua juga dapat dimanfaatkan untuk membantu membatasi penggunaan perangkat. Perangkat berbasis iOS maupun Android menyediakan fitur yang memungkinkan orang tua mengatur durasi penggunaan serta membatasi akses terhadap aplikasi tertentu.
Selain membatasi layar, orang tua dianjurkan memperbanyak komunikasi dengan anak sejak bayi. Percakapan sederhana ketika memandikan, menjemur pakaian, bepergian, atau melakukan pekerjaan rumah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenal kata dan memahami lingkungan.
Untuk tontonan, orang tua sebaiknya memilih konten yang dibuat khusus untuk kelompok usia anak. Program dengan alur sederhana, tempo lambat, pengulangan yang wajar, serta cerita yang mudah diikuti dapat menjadi pilihan.
Sejumlah serial anak seperti Bluey, Puffin Rock, dan Omar dan Hana memiliki karakteristik tontonan yang relatif tenang dan dirancang untuk anak. Sebaliknya, kompilasi video yang berganti adegan setiap beberapa detik perlu lebih diperhatikan penggunaannya.
Meski demikian, kebutuhan setiap anak tidak selalu sama. Pada anak berkebutuhan khusus, perangkat digital dalam kondisi tertentu justru dapat membantu komunikasi, pembelajaran, atau memberikan dukungan ketika anak membutuhkan cara tertentu untuk menenangkan diri.
Dengan demikian, screen time tidak harus dipandang sebagai musuh. Yang perlu diperhatikan adalah agar penggunaan layar tidak menggantikan interaksi langsung, tidur, aktivitas fisik, bermain, dan komunikasi anak dengan orang-orang di sekitarnya.
Orang tua juga tidak perlu merasa gagal ketika sesekali memberikan gawai karena harus bekerja, mengikuti rapat, atau menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah itu, waktu dapat diganti dengan interaksi langsung seperti mengobrol, bermain, membaca buku, atau memberikan pelukan.
Keseimbangan menjadi kunci. Batas waktu tetap penting, tetapi kualitas interaksi anak dengan orang tua dan lingkungannya juga tidak kalah menentukan.
Penulis: Ahmad Amri Falah