Dari Karo untuk Karo, Donasi Warga Menyambung Harapan Korban Kebakaran Tanjung Barus

Bagikan Artikel

KARO, BONARINEWS — Kebakaran di Desa Tanjung Barus, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Karo, pada Jumat, 7 Agustus 2026, menyisakan kehilangan bagi warga yang terdampak. Namun, di tengah musibah itu, solidaritas warga bergerak lebih cepat daripada duka yang mereda.

Sepekan setelah kebakaran, sejumlah organisasi, komunitas, dan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) di Kabupaten Karo bergabung menggalang bantuan. Donasi yang terkumpul kemudian disalurkan langsung kepada warga terdampak pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Gerakan itu bukan sekadar pengumpulan bantuan. Ia memperlihatkan bagaimana jaringan sosial di tingkat lokal bekerja ketika warga menghadapi keadaan darurat: organisasi kepemudaan, komunitas sedekah, hingga pengurus masjid bergerak dalam satu tujuan.

Mereka yang terlibat antara lain Generasi Muda MT Zikir Al Haura Tanah Karo, Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) Kabupaten Karo, DPC PEMUKA Kecamatan Berastagi, BKM Masjid Lama 1902–1904 Lau Cimba Kabanjahe, BKM Masjid Raya 1928 Berastagi, dan BKM Masjid Baiturrahiim Gongsol.

Penyaluran bantuan berlangsung di Desa Tanjung Barus mulai pukul 15.00 WIB. Bantuan yang diberikan merupakan hasil donasi masyarakat dan para dermawan yang dititipkan kepada tim untuk diteruskan kepada korban kebakaran.

Bagi tim pelaksana, posisi mereka bukan sebagai pemilik bantuan. Mereka hanya menjadi penghubung antara orang yang memberi dan warga yang membutuhkan.

“Dari donatur, kami kumpulkan dan kami salurkan,” menjadi prinsip yang mereka pegang dalam kegiatan tersebut. Karena itu, setiap bantuan dipandang sebagai amanah yang harus disampaikan secara bertanggung jawab.

Koordinator Lapangan Giat Peduli Bencana Kebakaran Gabungan, Supartin Sembiring dan Muhammad Rifa’i Sembiring, menyampaikan apresiasi kepada para donatur, dermawan, organisasi, komunitas, BKM, serta pihak lain yang ikut membantu.

Menurut mereka, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa uang atau barang. Tenaga, pikiran, dan doa juga menjadi bagian dari gerakan solidaritas tersebut.

Kebakaran memang menghanguskan harta benda, tetapi musibah itu sekaligus memperlihatkan kekuatan lain yang masih tersisa: kepedulian antarwarga.

Dari berbagai tempat di Karo, bantuan bergerak menuju Tanjung Barus. Tidak semuanya datang dalam jumlah besar. Namun ketika dikumpulkan, bantuan itu menjadi berarti bagi warga yang sedang berusaha kembali menata kehidupan.

Gerakan tersebut juga membawa pesan sederhana: mereka yang sedang tertimpa musibah tidak harus menghadapi semuanya seorang diri.

“Dari Karo untuk Karo, dari kita untuk saudara kita.” Kalimat itu menjadi penutup sekaligus inti dari gerakan penggalangan bantuan tersebut.

Bagi para relawan dan donatur, membantu korban kebakaran bukan hanya soal meringankan kebutuhan sesaat. Ada harapan agar warga Tanjung Barus memiliki kekuatan untuk bangkit, menata kembali kehidupan, dan melewati masa sulit setelah api padam.

Musibah telah berlalu dari satu hari ke hari berikutnya. Tetapi bagi mereka yang kehilangan, proses untuk pulih masih panjang. Di situlah solidaritas menjadi penting: memastikan bahwa setelah api padam, kepedulian tidak ikut berhenti.

Penulis: Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *