Oleh: Devilaria Damanik
Sejak kecil, Sakha mengenal suara tangisan bayi lebih baik daripada suara lagu.
Hampir setiap tahun, rumah kecil berdinding papan itu kembali dipenuhi suara tangis anak baru. Ibunya selalu tersenyum ketika menggendong bayi yang baru lahir, meski wajahnya terlihat semakin tua dan tubuhnya semakin kurus.
“Kita harus bersyukur,” kata ibunya setiap kali ada anak baru.
Sakha hanya diam.
Ia adalah anak pertama dari empat belas bersaudara. Tapi anehnya, ia tidak tumbuh bersama semua adiknya. Sebagian besar adiknya sudah dibawa pergi, tinggal bersama orang-orang yang disebut warga desa sebagai “tuan”.
Di desa mereka, ada aturan yang tidak pernah tertulis.
Ada yang lahir sebagai raja.
Ada yang lahir sebagai hamba.
Dan sejak lahir, nasib mereka seperti sudah ditentukan.
Sakha tidak pernah mengerti mengapa seseorang harus menjadi lebih tinggi hanya karena dilahirkan dari keluarga tertentu.
Namun, pertanyaan seperti itu tidak boleh keluar dari mulut seorang hamba.
Seorang hamba harus tahu diri.
Pekerjaan Sakha setiap hari adalah menjaga ternak, membersihkan rumah tuannya, membantu di kebun, dan melakukan apa pun yang diperintahkan. Jika hasil panen melimpah atau ternak terjual mahal, tuannya akan memberi sebagian.
Berapa pun jumlahnya, seorang hamba harus menerima dengan wajah bersyukur.
Tidak boleh bertanya.
Tidak boleh meminta lebih.
Bahkan untuk menikah pun, Sakha tidak sepenuhnya bebas. Di tempatnya, laki-laki harus membawa hewan sebagai tanda meminang.
Dan hewan itu biasanya diberikan oleh tuannya.
Karena bagi seorang hamba, bahkan cinta pun membutuhkan izin.
***
Kakek Sakha pernah berkata bahwa manusia seharusnya berjalan dengan kepala tegak.
Tapi kakeknya mati dengan kepala tertunduk.
Dulu, kakeknya pernah membuat kesalahan kecil saat menjalankan perintah tuannya. Entah karena salah dengar atau karena tubuhnya sudah terlalu lelah.
Tuan itu marah.
Kayu besar menghantam kepalanya.
Setelah kejadian itu, kakeknya berubah. Ia sering berjalan tanpa arah, masuk ke rumah orang, mengambil makanan karena pikirannya tidak lagi mengenal aturan.
Bukannya dibawa berobat, ia justru dipasung.
Hari demi hari berlalu.
Kaki kakeknya membusuk.
Sampai akhirnya ia meninggal sebagai seorang hamba yang dianggap gila.
Tidak lama setelah itu, tuan yang pernah memukulnya juga meninggal.
Tetapi kebiasaan buruk itu tidak ikut mati.
Anaknya mewarisi kekuasaan.
Dan juga kemarahan.
***
Sakha masih ingat ketika adiknya, Vise, pulang dengan wajah lebam.
Hari itu Vise menolak sebuah perintah yang menurutnya tidak masuk akal.
Sebagai balasan, tuannya memukul.
Sekali.
Dua kali.
Sampai Vise memutuskan lari.
Ia pergi tanpa membawa apa pun selain pakaian yang melekat di tubuhnya.
Ia tahu risikonya.
Seorang hamba yang pergi tanpa izin bisa dianggap melawan.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vise memilih takut kehilangan masa depan daripada takut kepada tuannya.
Ia berlindung di rumah tuan lama ibunya.
Di dunia mereka, seorang hamba hanya bisa berpindah dari satu perlindungan tuan ke perlindungan tuan lain.
Kebebasan bahkan terdengar seperti kata asing.
***
Suatu sore, datang seorang perempuan dari kota.
Ia datang karena pekerjaan, tetapi kehadirannya membuat desa kecil itu seperti mendapat angin baru.
Perempuan itu berbicara dengan banyak orang. Ia pandai menghargai orang lain, membuat mereka merasa dihormati.
Termasuk tuan Vise.
Mereka berbincang sampai matahari hilang dan bintang memenuhi langit.
Perempuan itu banyak bertanya.
Tentang desa.
Tentang kehidupan warga.
Tentang anak-anak yang berhenti sekolah.
Ketika mendengar kisah Sakha dan saudara-saudaranya, ia menggeleng pelan.
“Kasihan sekali,” katanya.
Lalu ia bertanya kepada tuan Vise.
“Kenapa orang yang hidup dalam kemiskinan tetap memiliki banyak anak?”
Tuan Vise tertawa kecil.
“Karena saya melarang mereka memakai cara itu.”
Perempuan itu terdiam.
Baru saat itu ia memahami sesuatu.
Kemiskinan di desa itu bukan hanya karena kekurangan uang.
Ada rantai yang tidak terlihat.
Dan rantai itu diwariskan dari generasi ke generasi.
***
Perempuan dari kota itu kemudian datang menemui anak-anak.
Ia bercerita bahwa pendidikan bisa membuka jalan.
Bahwa seseorang bisa mengubah hidupnya jika berani bermimpi.
Sakha mendengarnya dari kejauhan.
Ia ingin percaya.
Sangat ingin.
Namun mimpi terasa seperti sesuatu yang berbahaya.
Di kepalanya selalu ada suara:
“Kamu hanya hamba.”
“Kamu tidak boleh lebih tinggi.”
“Kamu tidak boleh lebih pintar.”
Di desa itu, sekolah tinggi bukan dianggap sebagai jalan keluar.
Melainkan ancaman.
Anak-anak hamba cukup tahu membaca dan berhitung.
Sebab seorang hamba yang terlalu pintar bisa mulai bertanya.
Dan pertanyaan adalah awal dari perubahan.
***
Malam itu, Sakha duduk di bawah pohon dekat rumah.
Ia melihat bukit-bukit yang mengelilingi desanya.
Selama ini ia mengira bukit itu hanya batas alam.
Ternyata bukan.
Bukit itu adalah ketakutan.
Ketakutan yang membuat orang tidak berani pergi.
Ketakutan yang membuat mereka percaya bahwa dunia hanya sebesar desa mereka.
Untuk pertama kalinya, Sakha bertanya kepada dirinya sendiri:
“Bagaimana jika selama ini aku bukan dilahirkan untuk menjadi hamba?”
Angin malam berembus.
Tidak ada yang menjawab.
Tapi di dalam dada Sakha, ada sesuatu yang mulai bergerak.
Sebuah keberanian kecil.
Sebuah keyakinan bahwa manusia tidak seharusnya diukur dari tempat ia dilahirkan.
Besok pagi, ia masih harus bekerja.
Masih harus membawa ternak.
Masih harus menghadapi tuannya.
Namun satu hal telah berubah.
Sakha mulai memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah diberikan siapa pun kepadanya.
Bukan makanan.
Bukan tempat tinggal.
Bukan hewan untuk menikah.
Melainkan sebuah mimpi.
Dan untuk pertama kalinya, ia berani menjaganya. (*)
Penulis adalah seorang cerpenis suka bertualang