MERAUKE, BONARINEWS – Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo angkat bicara terkait film “Pesta Babi” yang belakangan menjadi perhatian publik. Menurutnya, ritual pesta babi yang diangkat dalam film tersebut bukan sekadar tradisi biasa, melainkan memiliki nilai filosofis, moral, dan budaya yang sangat mendalam bagi masyarakat Papua.
Apolo Safanpo menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami budaya Papua dengan bijak dan tidak melihatnya secara sepihak. Ia menjelaskan, ritual pesta babi hidup di berbagai suku dan etnis di Papua Selatan seperti Asmat, Mappi, Boven Digoel, hingga Merauke. Namun, setiap daerah memiliki makna dan konteks adat yang berbeda-beda.
“Walaupun tata cara ritualnya tampak mirip, tetapi makna budaya di setiap daerah bisa berbeda sesuai nilai adat masing-masing,” ujarnya.
Menurut Apolo, ritual tersebut menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kehidupan sosial masyarakat Papua. Karena itu, film “Pesta Babi” dinilai menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat luas, khususnya bagi warga di luar Papua yang belum pernah menyaksikan langsung upacara adat tersebut.
Ia juga menilai film tersebut membawa pesan moral dan budaya yang kuat tentang kebersamaan, penghormatan adat, dan identitas masyarakat Papua.
Terkait munculnya isu pelarangan penayangan film, Apolo Safanpo menegaskan bahwa pelarangan sebuah film tidak bisa dilakukan sembarangan. Ia merujuk pada pernyataan Menteri Hukum dan HAM yang menyebutkan bahwa pelarangan pemutaran film hanya dapat dilakukan melalui putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
“Film ini lebih ditujukan untuk masyarakat luar Papua agar memahami pesan budaya dan nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Pernyataan Gubernur Papua Selatan tersebut sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih terbuka memahami keberagaman budaya nusantara, termasuk tradisi-tradisi adat yang masih dijaga kuat oleh masyarakat Papua hingga saat ini.
Penulis: Ark