BRIN Bongkar Misteri Arus Laut Selatan Jawa, Dampaknya Ternyata Bisa Ubah Curah Hujan hingga Hasil Perikanan

Bagikan Artikel

Yogyakarta, Bonarinews.com – BRIN mengungkap hasil riset besar terkait dampak Arus Pantai Selatan Jawa atau South Java Coastal Current (SJCC) terhadap pola curah hujan, perubahan iklim, hingga produktivitas perikanan di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan Pusat Riset Iklim dan Atmosfer bersama Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran ini merekonstruksi data selama 30 tahun, mulai 1993 hingga 2023.

Hasil riset tersebut menunjukkan arus laut di selatan Jawa memiliki peran penting dalam mengatur suhu permukaan laut, pola hujan, hingga potensi perikanan di wilayah selatan Indonesia.

Anggota tim peneliti BRIN, Yosef Prihanto menjelaskan, SJCC merupakan arus laut permukaan yang mengalir ke arah timur dari pantai barat Sumatra hingga selatan Jawa dan Pulau Sumba.

Arus tersebut membawa massa air hangat dari Samudra Hindia tropis yang sangat mempengaruhi dinamika cuaca regional.

“Secara umum arus ini terbentuk sepanjang tahun, namun kekuatan dan jangkauannya berubah drastis saat dipengaruhi fenomena iklim global seperti Indian Ocean Dipole dan El Niño-Southern Oscillation,” ujar Yosef, Senin (18/5/2026).

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Oceanologia itu menemukan, saat terjadi IOD Negatif dan La Niña, arus SJCC justru menguat signifikan di sepanjang selatan Jawa.

Sebaliknya, ketika fenomena IOD Positif dan El Niño terjadi, arus tersebut mengalami pelemahan bahkan tertekan secara drastis.

Riset ini juga menyoroti kondisi ekstrem pada tahun 2023 ketika IOD Positif dan El Niño muncul secara bersamaan. Dampaknya, arus SJCC mengalami pelemahan sangat kuat sejak September hingga Desember 2023.

Kondisi tersebut ikut menyebabkan penurunan tinggi muka laut atau Sea Level Anomaly hingga mencapai minus 16 sampai 17 sentimeter di wilayah selatan Jawa.

Menurut Yosef, hasil rekonstruksi data jangka panjang ini menjadi instrumen penting untuk meningkatkan akurasi prediksi iklim regional hingga memahami transfer panas laut di Indonesia.

Tak hanya untuk kebutuhan akademis, hasil penelitian ini juga dinilai penting bagi sektor riil seperti strategi adaptasi perubahan iklim di wilayah pesisir dan pengelolaan perikanan tangkap nasional.

Hal itu karena dinamika arus SJCC berkaitan erat dengan fenomena upwelling atau pengadukan massa air laut yang membawa nutrien tinggi dan menjadi lokasi berkumpulnya ikan.

Penulis: Lindung Silaban

Editor: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *