Pematangsiantar, BONARINEWS – Di balik popularitasnya sebagai kuliner legendaris Kota Siantar, burung kareo padi ternyata menyimpan fakta ilmiah yang menarik. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengungkap bahwa cita rasa khas yang membuat daging burung ini banyak diburu wisatawan tidak lepas dari kandungan glutamat alami di dalamnya.
Burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus), yang juga dikenal sebagai ruak-ruak, telah lama menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Sumatera Utara. Namun kini, ketertarikan terhadapnya tidak hanya datang dari sisi budaya, tetapi juga dari perspektif ilmiah dan nutrisi.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan adanya kandungan asam glutamat yang cukup tinggi pada daging burung kareo padi. Senyawa ini dikenal sebagai salah satu pemicu rasa umami atau gurih yang kuat dalam makanan.
Selain glutamat, analisis juga menemukan komposisi asam lemak yang kompleks, termasuk palmitic, stearic, elaidic, dan linoleic. Dari total pengujian, teridentifikasi sekitar 33 jenis asam lemak yang berkontribusi terhadap karakteristik rasa dan tekstur daging.
Menariknya, jika dibandingkan dengan beberapa jenis unggas lain seperti ayam, puyuh, hingga burung pheasant, kareo padi menunjukkan profil asam lemak yang relatif tinggi pada beberapa komponen tertentu. Kondisi inilah yang diduga memperkuat cita rasa khas yang selama ini dikenal masyarakat.
Kandungan glutamat yang terdeteksi mencapai sekitar 0,48 persen, menjadikan daging burung ini memiliki sensasi gurih alami yang kuat tanpa perlu banyak tambahan bumbu.
Peneliti BRIN menilai temuan ini bukan hanya menjelaskan alasan popularitas kuliner tradisional tersebut, tetapi juga membuka peluang kajian lebih lanjut terkait potensi pangan fungsional berbasis sumber daya lokal.
Dengan pendekatan ilmiah, kuliner tradisional seperti kareo padi tidak lagi sekadar warisan rasa, tetapi juga bagian dari kekayaan biodiversitas pangan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi dan ilmiah yang lebih luas.
Penulis: Dedy Hu