Rico Waas Hidupkan Taman Budaya Medan, Festival Puisi “Kopi dan Kepo” Bikin Sastra Jadi Tren

Bagikan Artikel

Medan, BONARINEWS.com – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menunjukkan komitmennya dalam mendukung perkembangan seni dan sastra dengan menghadiri Festival Musikalisasi Puisi “Kopi dan Kepo” di Taman Budaya Medan, Sabtu (2/5/2026).

Kehadiran Rico Waas tidak sekadar simbolis, tetapi menjadi penegasan bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, melainkan juga harus menyentuh aspek budaya, kreativitas, dan ruang ekspresi masyarakat.

Festival yang digagas Medan Theater ini mengangkat karya dari buku “Kopi dan Kepo” karya Hasan Al Bana. Acara tersebut sukses menarik perhatian ratusan pengunjung dari kalangan seniman, akademisi, hingga pelajar.

Pertunjukan musikalisasi puisi yang disajikan menghadirkan perpaduan antara nada dan sastra yang harmonis, menciptakan suasana hangat dan penuh makna bagi para penonton.

Dalam sambutannya, Rico Waas mengungkapkan makna filosofis dari tema “kopi” dan “kepo”. Menurutnya, kopi melambangkan ruang jeda dan refleksi, sementara kepo mencerminkan rasa ingin tahu yang mendorong manusia untuk terus belajar dan memahami kehidupan.

“Kopi adalah jeda, kepo adalah dorongan untuk mencari makna. Keduanya adalah perpaduan rasa dan nalar yang penting dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebudayaan, intelektualitas, dan rasa dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Rico turut didampingi Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Laksamana Putra Siregar serta Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Amsar.

Rico juga menyoroti kekayaan sastra lokal, khususnya kemiripan pola puisi yang ditampilkan dengan tradisi sastra Melayu. Hal ini dinilai sebagai potensi besar yang harus terus dikembangkan oleh generasi muda.

“Membangun kota bukan hanya soal gedung dan infrastruktur. Seni dan budaya adalah jiwa dari sebuah kota,” tegasnya.

Sementara itu, Founder Medan Theater Ahmad Munawar Lubis menyebut festival ini sebagai ruang ekspresi rasa yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, karya-karya yang ditampilkan merupakan refleksi emosi manusia, mulai dari kegelisahan, kebahagiaan, hingga perenungan yang mendalam.

Festival ini juga dimeriahkan dengan penampilan musik dari grup 7 Keliling, yang semakin menghidupkan suasana panggung seni tersebut.

Dengan terselenggaranya Festival Musikalisasi Puisi “Kopi dan Kepo”, diharapkan ruang-ruang kreatif di Kota Medan semakin berkembang dan mampu menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri melalui seni dan sastra.

Penulis: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *