Medan, BONARINEWS.com – Program pengelolaan sampah berbasis sekolah yang digelar Gugah Nurani Indonesia tak hanya melahirkan kreativitas siswa dalam ajang fashion show dan karya daur ulang, tetapi juga mulai mengubah budaya di lingkungan sekolah.
Salah satu sekolah yang merasakan dampak nyata program tersebut adalah SD Swasta Anugerah Harapan Bangsa di kawasan Marelan, Medan. Sekolah ini berhasil meraih Juara II kategori karya daur ulang sampah dan Juara Harapan I kategori Bank Sampah.
Kepala SD Swasta Anugerah Harapan Bangsa, Lina, mengatakan program bank sampah membuat siswa lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih kreatif memanfaatkan barang bekas.
Menurut Lina, pihak sekolah mengajak siswa agar sampah tidak dibuang sia-sia, melainkan dikumpulkan dan diolah menjadi karya prakarya.
“Kami mengajak anak-anak supaya sampah itu tidak dibuang sia-sia. Lebih bagus dikumpulkan untuk membuat prakarya seperti ini,” ujar Lina, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, bahan-bahan yang digunakan untuk karya daur ulang berasal dari sampah yang dikumpulkan siswa di sekolah. Salah satunya kertas angpao, bekas perayaan Imlek yang kemudian diolah kembali menjadi karya seni berupa lampion. Lampion-lampion ini kemudian dipajang di sekolah sebagai hiasan.
Selain itu, sekolah juga telah menjalankan program bank sampah rutin setiap Sabtu. Dalam kegiatan tersebut, siswa diajarkan memilah sampah organik dan anorganik.
“Setiap Sabtu anak-anak hadir untuk memilah sampah, mana organik dan mana anorganik,” katanya.
Tak hanya di sekolah, semangat pengelolaan sampah juga dibawa hingga ke rumah. Pihak sekolah membuat lomba antar kelas untuk mengumpulkan sampah terbanyak.
“Kalau kelas yang paling banyak mengumpulkan sampah, akan kami beri hadiah. Jadi anak-anak semangat,” ujarnya.
Lina mengakui pada awal program dijalankan sempat ada anggapan dari sebagian pihak bahwa kegiatan tersebut rumit. Namun seiring waktu, guru dan siswa mulai menerima karena manfaatnya terasa nyata.
“Awalnya memang ada yang merasa ini rumit, tapi lama-lama mereka menerima,” katanya.
Dampak yang paling terlihat, menurut Lina, adalah lingkungan sekolah yang semakin bersih dan meningkatnya kesadaran siswa terhadap kebersihan.
“Siswa jadi lebih aware, sekolah makin bersih. Dengan adanya bank sampah, sekolah kami jadi yang terbaiklah,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Medan, Syaiful Riza, menegaskan program bank sampah merupakan bagian dari pendidikan karakter dan pembelajaran berbasis pengalaman.
Sementara itu, Fasilitator Program GNI Medan CDP, Nelli Lumbanbatu, mengatakan program ini dirancang untuk membangun budaya pengelolaan sampah secara berkelanjutan di sekolah.
Melalui program ini, siswa tak hanya diajarkan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami nilai ekonomi dan kreativitas dari sampah yang dikelola dengan baik.
Penulis: Dedy Hu