BRIN Ngebut Revitalisasi Fasilitas Nuklir Serpong Stok Bahan Bakar Reaktor Terancam Habis 2026

Bagikan Artikel

SERPONG, Bonarinews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional mempercepat langkah besar untuk memastikan keberlanjutan operasional reaktor nuklir di Indonesia. Melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir, BRIN kini fokus merevitalisasi fasilitas fabrikasi bahan bakar nuklir di kawasan Serpong, Tangerang Selatan.

Upaya ini ditandai dengan inspeksi menyeluruh terhadap fasilitas di Gedung 60 Kawasan Sains dan Teknologi B J Habibie pada pertengahan Maret 2026. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi riil peralatan sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan dalam proses perbaikan dan pengoperasian kembali fasilitas.

Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, Maman Kartaman Ajiriyanto, menyebut langkah ini sangat krusial. Pemeriksaan dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari proses konversi bahan hingga fabrikasi elemen bakar reaktor berbasis U3Si2.

Hasil awal menunjukkan sebagian besar peralatan masih dalam kondisi layak pakai. Namun, sejumlah fasilitas penunjang seperti alat uji kualitas, mesin las, hingga sistem ventilasi membutuhkan pembaruan agar memenuhi standar keselamatan terbaru.

Fasilitas ini diketahui sudah tidak beroperasi sejak 2021, sehingga ditemukan beberapa kerusakan ringan. Meski begitu, para peneliti optimistis perbaikan dapat dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan keahlian dalam negeri.

Revitalisasi ini juga melibatkan banyak pihak, mulai dari BRIN, BAPETEN, PT Industri Nuklir Indonesia, hingga akademisi dari Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan fasilitas sekaligus penguatan teknologi nuklir nasional.

BRIN menegaskan langkah ini harus segera direalisasikan. Pasalnya, stok bahan bakar untuk Reaktor Serba Guna G A Siwabessy diperkirakan hanya cukup hingga tahun 2026. Tanpa percepatan revitalisasi, operasional reaktor berpotensi terganggu.

Proses revitalisasi akan dilakukan bertahap, dimulai dari perbaikan sistem keselamatan dan ventilasi, dilanjutkan dengan pemulihan peralatan produksi. Sementara itu, perangkat pengujian kualitas direncanakan diganti dengan teknologi baru yang lebih modern.

Selain menjaga operasional reaktor, proyek ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian Indonesia dalam penyediaan bahan bakar nuklir. Dukungan sumber daya manusia yang berpengalaman dinilai menjadi modal utama untuk menghidupkan kembali fasilitas tersebut.

Di sisi lain, kalangan akademisi turut mendorong modernisasi melalui digitalisasi teknologi. Sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi diharapkan mampu mempercepat transformasi sekaligus mencetak generasi baru di bidang teknologi nuklir. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *