KISARAN, BONARINEWS — Puluhan siswa MTsN 2 Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, mengalami keluhan mual, muntah, dan pusing setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (14/9/2026). Sebanyak 13 siswa masih menjalani perawatan hingga malam hari.
Peristiwa bermula ketika makanan MBG yang dipasok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Asahan tiba di sekolah menjelang waktu shalat Dzuhur. Ratusan porsi makanan kemudian dibagikan kepada para siswa.
Menu yang dibagikan terdiri dari nasi, ayam rendang, tempe sambal, acar, dan potongan semangka.
Sekitar pukul 12.00 WIB, siswa mulai menyantap makanan setelah shalat berjamaah. Tidak lama kemudian, seorang petugas piket berinisial RS mencium bau yang dinilai tidak sedap dari salah satu ompreng makanan.
RS kemudian melaporkan temuan tersebut kepada kepala sekolah. Pihak sekolah segera mengumumkan agar siswa menghentikan kegiatan makan.
Namun, sebagian siswa telah lebih dulu menyantap makanan. Beberapa siswa kemudian mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka.
UKS sekolah pun dipenuhi siswa yang mengalami berbagai keluhan. Sejumlah siswa disebut mengalami mual, muntah, pusing, dan sakit perut. Pihak sekolah kemudian mendata siswa yang mengalami gejala.
Jumlah siswa yang mengeluh sakit disebut mencapai 30 orang.
Sebagian siswa kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD H Abdul Manan Simatupang (HAMS), RSU Wira Husada, RS Setio Husodo, dan Rumah Sakit Tentara.
Plt Direktur RSUD Kisaran dr Eka Wilda Sari mengatakan kondisi pasien yang dirawat relatif stabil. Meski demikian, pasien tetap menjalani pemantauan untuk memastikan tidak terjadi kondisi yang lebih serius.
“Kondisi pasien stabil, tapi kami tetap observasi 24 jam,” kata Eka.
Sampel makanan diperiksa
Polres Asahan kemudian mendatangi sekolah untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil sampel makanan yang masih tersisa. Sampel tersebut, termasuk makanan yang dilaporkan memiliki bau tidak sedap, diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kasi Humas Polres Asahan AKP Herli Damanik mengatakan penyelidikan akan dilakukan terhadap rangkaian proses penyediaan makanan, termasuk dapur SPPG yang memasok makanan ke sekolah.
Hingga berita ini ditulis, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan belum keluar. Karena itu, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan.
Pada sore hingga malam hari, sejumlah orangtua mendatangi rumah sakit untuk memastikan kondisi anak mereka. Sebagian siswa yang kondisinya telah membaik diperbolehkan pulang, sementara 13 siswa masih menjalani rawat inap untuk observasi lanjutan.
Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orangtua siswa. Mereka meminta kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG benar-benar diperhatikan, mengingat makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.
Selain memastikan kondisi para siswa, pemeriksaan terhadap makanan dan proses distribusinya menjadi penting untuk mengetahui penyebab munculnya keluhan tersebut. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai ada atau tidaknya kontaminasi pada makanan yang dikonsumsi siswa.
Penulis: Dedy Hutajulu