MEDAN, BONARINEWS — Harapan warga Medan Polonia untuk memiliki akses penyeberangan yang aman akhirnya mulai menemukan titik terang. PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumatera Utara memastikan dukungan penuh terhadap rencana pembangunan kembali jembatan penghubung di kawasan Gang Damai, Jalan Adi Sucipto.
Kepala PT KAI Divre I Sumut, Sofan Hidayah, menyebut proses pembangunan saat ini telah memasuki tahap pembahasan teknis dan administratif sebelum realisasi proyek dilakukan.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan bersama Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, Kamis (21/5/2026), yang turut dihadiri unsur pimpinan DPRD Medan.
Pembangunan jembatan pengganti menjadi perhatian utama karena kondisi jembatan lama yang ambruk sejak tahun 2024 hingga kini belum juga tergantikan. Akibatnya, warga termasuk anak sekolah terpaksa melintasi Sungai Deli menggunakan pipa air dengan risiko tinggi yang oleh masyarakat setempat dijuluki sebagai “jembatan maut”.
Jembatan baru nantinya direncanakan dibangun di atas lintas nonaktif Medan–eks Pancur Batu yang masih tercatat sebagai aset resmi PT KAI. Karena itu, pelaksanaan proyek akan dilakukan melalui mekanisme kerja sama pengelolaan aset dengan tetap mengikuti aturan dan tata kelola perusahaan yang berlaku.
Langkah ini dinilai menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak masyarakat yang selama ini menginginkan akses penyeberangan yang aman dan layak untuk aktivitas sehari-hari.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Medan telah lebih dahulu mengirimkan surat resmi kepada PT KAI terkait permohonan pinjam pakai lahan dan aset di lokasi jembatan roboh tersebut. Surat itu ditandatangani langsung oleh Rico Tri Putra Bayu Waas sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur bagi warga.
Kepala Bappeda Kota Medan, Ferry Ichsan, juga menyebut penandatanganan surat tersebut menjadi langkah awal penting dalam proses pembangunan kembali jembatan yang dulunya merupakan bagian jalur rel kereta api lama.
Selain memiliki fungsi vital bagi mobilitas warga, kawasan jalur nonaktif tersebut juga menyimpan nilai sejarah sebagai bagian dari jaringan transportasi peninggalan kolonial yang dahulu berperan dalam distribusi komoditas di Kota Medan.
Dengan dimulainya proses pembangunan ini, masyarakat berharap tidak ada lagi warga yang harus mempertaruhkan nyawa saat menyeberangi Sungai Deli setiap hari.
Penulis: Dedy Hu