Bawean, BONARINEWS – Di balik hamparan Laut Jawa, Pulau Bawean masih menyimpan denyut liar yang kini mulai langka ditemukan di banyak kawasan tropis Indonesia. Kabut tipis menggantung di lereng hutan, suara burung bersahutan sejak pagi, dan aroma tanah basah terus menguar dari lantai hutan yang masih terjaga.
Namun, keheningan Bawean bukan hanya tentang keindahan alam. Di balik rimbun pepohonan dan jalur sunyi kawasan konservasi, tersimpan cerita tentang keseimbangan ekosistem yang mulai diuji oleh aktivitas manusia dan tekanan lingkungan yang perlahan muncul ke permukaan.
Selama tujuh hari, mulai 8 hingga 14 Mei 2026, tim gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur bersama Resort Konservasi Wilayah 09 Gresik–Bawean dan Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari melakukan patroli dan monitoring intensif di kawasan konservasi Pulau Bawean.
Sebanyak 15 grid patroli disisir di kawasan Gunung Besar dan Payung-payung dengan cakupan sekitar 70 hektare hutan konservasi. Patroli dilakukan menggunakan GPS, kamera, dan aplikasi Smart Mobile untuk mencatat setiap temuan di lapangan secara sistematis.
Di langit Bawean, Elang Ular Bawean masih terlihat melayang di atas tajuk hutan. Kehadiran satwa ini menjadi indikator penting bahwa rantai makanan di kawasan tersebut masih berjalan baik.
Sementara di lantai hutan, jejak Babi Kutil Bawean ditemukan tercetak di tanah lembap. Kelompok monyet ekor panjang juga masih terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, menjaga jarak dari aktivitas manusia.
Menjelang senja, kelelawar besar keluar dari tempat bertenggernya untuk menjalankan peran penting sebagai penyebar biji alami di kawasan hutan tropis Bawean.
Keanekaragaman hayati di pulau ini juga diperkuat keberadaan vegetasi khas tropis seperti pohon pangopa, gondang, dan badung yang menjadi penyangga utama ekosistem sekaligus pelindung alami dari erosi.
Salah satu temuan menarik dalam monitoring tersebut adalah keberadaan sejumlah anggrek epifit yang tumbuh alami di batang pohon tua. Jenis seperti Phalaenopsis amabilis, Rhynchostylis retusa, hingga Cymbidium bicolor ditemukan berkembang di kawasan konservasi. Tim bahkan menemukan individu Dendrobium sp. yang diduga menjadi catatan baru bagi kawasan konservasi Bawean.
Meski masih menyimpan kekayaan hayati, tim patroli juga menemukan sejumlah ancaman yang mulai muncul. Di beberapa titik ditemukan area perambahan kecil yang telah dibuka dan ditanami rumput gajah serta ilalang.
Aktivitas pengambilan kayu kering dan pemasangan sarang lebah madu oleh masyarakat turut menjadi perhatian karena berpotensi berkembang menjadi tekanan ekologis jika tidak dikelola secara berkelanjutan.
Salah satu temuan yang paling menyita perhatian adalah bangkai Babi Kutil Bawean dalam kondisi membusuk di tengah kawasan hutan. Penyebab kematiannya belum diketahui, namun temuan itu menjadi sinyal penting dalam pemantauan kesehatan satwa liar dan kondisi lingkungan kawasan konservasi.
Di sisi lain, hutan Bawean juga terbukti menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Air dari kawasan konservasi dimanfaatkan warga melalui instalasi pipa sederhana untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut menunjukkan hubungan manusia dan hutan di Bawean tidak bisa dipisahkan. Karena itu, pendekatan konservasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penindakan, tetapi juga edukasi dan kolaborasi dengan masyarakat sekitar kawasan.
Tim patroli aktif memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi serta batas-batas pemanfaatan sumber daya alam agar tetap berkelanjutan.
Bawean hari ini masih menyimpan kehidupan. Burung masih bernyanyi di pagi hari, jejak satwa masih tertinggal di tanah basah, dan anggrek masih mekar di batang-batang tua hutan tropisnya.
Namun di balik semua itu, tersimpan pesan bahwa keseimbangan alam tidak pernah benar-benar aman. Hutan hanya membutuhkan ruang untuk tetap hidup, dan menjaga ruang itu menjadi tanggung jawab bersama.
Sumber: BKSDA Jawa Timur