Dari Liar ke Ternak, BRIN Dorong Domestikasi Burung Kareo Padi yang Jadi Incaran Kuliner Siantar

Bagikan Artikel

Pematangsiantar, BONARINEWS – Burung kareo padi yang selama ini dikenal hidup liar di kawasan lahan basah Indonesia kini mulai dilirik sebagai kandidat unggas produksi masa depan. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mendorong riset domestikasi burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) untuk mengungkap potensi ekonominya, terutama di sektor pangan dan kuliner.

Langkah ini muncul dari pertanyaan sederhana namun penting: apakah burung yang selama ini hidup bebas di rawa, sawah, dan tepian sungai bisa dikembangkan menjadi sumber produksi unggas yang berkelanjutan seperti halnya burung puyuh yang sudah lebih dulu berhasil didomestikasi.

Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Delicia Y. Rahman, menegaskan bahwa riset domestikasi ini merupakan bagian dari upaya memperluas inovasi pemanfaatan satwa lokal Indonesia. Menurutnya, kareo padi memiliki karakteristik unik yang layak diteliti lebih jauh sebagai model unggas produksi baru.

Forum riset seperti Zoopedia Series menjadi wadah penting untuk mempertemukan peneliti dari berbagai institusi, mempercepat pertukaran pengetahuan, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam pengembangan riset hewan tropis.

Peneliti BRIN, Widya Pintaka Bayu Putra, menjelaskan bahwa burung kareo padi memiliki siklus reproduksi yang cukup khas. Masa berkembang biaknya berlangsung antara April hingga Oktober, dengan jumlah telur sekitar dua hingga enam butir yang dierami selama kurang lebih 19 hingga 21 hari.

Burung ini dikenal adaptif di lingkungan perairan seperti rawa, sungai, dan persawahan, serta memiliki sebaran luas di berbagai negara Asia hingga kawasan kepulauan di Pasifik. Di Indonesia, salah satu wilayah yang sudah lama mengenal nilai ekonominya adalah Kota Siantar, Sumatera Utara, di mana dagingnya menjadi kuliner tradisional yang diburu masyarakat dan wisatawan.

Meski begitu, BRIN menekankan bahwa pengembangan domestikasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga pemahaman ilmiah tentang biologi, reproduksi, dan adaptasi spesies tersebut.

Dengan pendekatan riset yang terstruktur, burung kareo padi diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kuliner tradisional, tetapi juga berpotensi menjadi sumber unggas produksi baru yang lebih terkontrol dan berkelanjutan di masa depan.

Penulis : Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *