Jakarta, Bonarinews.com- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) kembali membuka peluang besar bagi para peneliti Indonesia melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi 2026.
Program pendanaan riset multiyears tersebut disosialisasikan secara daring pada Kamis (7/5/2026) dengan tujuan memperluas akses pendanaan penelitian berbasis dana abadi penelitian bagi para periset dan lembaga riset di seluruh Indonesia.
Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN, Agus Haryono, mengungkapkan antusiasme terhadap RIIM Kompetisi terus meningkat sejak pertama kali diluncurkan pada 2022. Hingga kini, lebih dari 2.000 proyek riset telah memperoleh pendanaan melalui program tersebut.
“RIIM Kompetisi merupakan pendanaan multiyears hingga tiga tahun. Ini peluang besar bagi peneliti untuk mengembangkan ide-ide riset yang berdampak,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, pembukaan proposal RIIM Kompetisi 2026 dilakukan dalam dua tahap. Batch pertama saat ini sedang memasuki proses evaluasi, sedangkan batch kedua dijadwalkan dibuka pada Juli 2026.
Selain pendanaan riset, BRIN juga membuka fasilitasi pengujian dan pengembangan produk inovasi guna mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar siap dimanfaatkan industri maupun masyarakat.
Agus turut mengingatkan para peneliti agar waspada terhadap pihak yang mengatasnamakan program RIIM. Menurutnya, BRIN tidak bekerja sama dengan pihak tertentu dalam penyusunan proposal maupun proses pengadaan program.
Sementara itu, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyebut dana abadi yang dikelola LPDP kini telah mencapai lebih dari Rp180,1 triliun. Dari jumlah tersebut, dana abadi khusus penelitian mencapai Rp13,99 triliun.
Menurut Ayom, kolaborasi BRIN dan LPDP sejauh ini telah mendukung lebih dari 10.000 riset di Indonesia. Khusus RIIM Kompetisi, rata-rata pendanaan tiap tahun mencapai Rp150 miliar dengan total akumulasi sekitar Rp792 miliar.
“Pemanfaatan dana abadi penelitian masih bisa terus ditingkatkan agar semakin banyak peneliti memperoleh akses pendanaan riset berkualitas,” kata Ayom.
Dalam sosialisasi tersebut, BRIN juga memaparkan sejumlah pembaruan pedoman RIIM Kompetisi 2026. Salah satunya, ketua pengusul minimal berpendidikan magister dan sedang menempuh program doktoral. Selain itu, satu periset maksimal dapat terlibat dalam tiga proposal dalam satu periode pendanaan.
Pendanaan RIIM menggunakan skema multiyears berbasis evaluasi tahunan. Selama kinerja riset dinilai baik oleh reviewer, penelitian dapat dilanjutkan hingga tiga tahun tanpa perlu mengajukan proposal baru.
Adapun luaran wajib dari program ini meliputi publikasi ilmiah bereputasi internasional minimal jurnal Q3 Scopus atau luaran kekayaan intelektual seperti paten dan perlindungan varietas tanaman.
BRIN juga memperkenalkan sistem digital pendanaan riset melalui platform RISNOV yang digunakan mulai dari pengajuan proposal hingga pengumuman hasil seleksi.
Melalui program ini, BRIN dan LPDP berharap semakin banyak inovasi dan riset strategis lahir dari para peneliti Indonesia untuk mendukung pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.