TANGERANG SELATAN, Bonarinews.com – Siapa sangka limbah kelapa sawit yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata bisa diubah menjadi bahan industri bernilai tinggi. Melalui inovasi terbaru bernama Inacell, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional berhasil mengolah limbah tandan kosong kelapa sawit menjadi mikrokristalin selulosa (Microcrystalline Cellulose/MCC) yang sangat dibutuhkan berbagai industri.
Inovasi ini bahkan disebut berpotensi besar mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan industri yang selama ini masih cukup tinggi.
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN, Holilah, menjelaskan bahwa MCC merupakan bahan penting yang digunakan dalam berbagai sektor industri modern.
“MCC banyak dimanfaatkan di industri farmasi, pangan, kosmetik, hingga bahan pelapis atau coating,” ujarnya dalam webinar Product Knowledge, Rabu (4/3).
Dari Limbah Jadi Produk Bernilai Tinggi
Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Namun di balik produksi besar tersebut, industri sawit juga menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar.
Data industri menunjukkan produksi Crude Palm Oil (CPO) Indonesia diperkirakan mencapai 48,5 hingga 51 juta ton pada 2026. Jumlah ini otomatis menghasilkan limbah tandan kosong sawit yang melimpah.
Selama ini limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat potensi besar tersebut, para peneliti BRIN mencoba mengubahnya menjadi produk bernilai tambah.
“Potensi limbah sawit sangat besar untuk dikonversi menjadi produk bernilai tinggi seperti MCC,” jelas Holilah.
Hasil Riset Mengejutkan
Dari proses pengolahan yang dilakukan, limbah tandan kosong sawit ternyata mampu menghasilkan kandungan selulosa yang sangat tinggi.
Setelah melalui proses pemurnian, kandungan selulosa yang dihasilkan mencapai 65,21 persen, sementara kadar lignin berhasil ditekan hingga hanya sekitar 1 persen.
Menariknya lagi, hasil pengujian menunjukkan Inacell memiliki performa lebih baik dibandingkan MCC komersial dalam beberapa aspek penting seperti:
- kemampuan menahan air
- kemampuan menyerap minyak
- tingkat pengembangan material
Hal ini membuka peluang besar bagi produk tersebut untuk bersaing di pasar industri.
Indonesia Masih Impor 4 Juta Kilogram Setiap Tahun
Fakta yang cukup mengejutkan, kebutuhan MCC di Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor.
Setiap tahun, Indonesia mengimpor sekitar 4 juta kilogram MCC untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi, pangan, hingga kosmetik.
Karena itu, inovasi Inacell dinilai sangat strategis untuk memperkuat kemandirian industri nasional.
Jika dikembangkan secara luas, produk ini tidak hanya mampu mengurangi impor, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi dari limbah sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Dipakai di Farmasi, Pangan, hingga Kosmetik
MCC merupakan bahan yang memiliki fungsi penting di berbagai industri.
Di sektor farmasi, bahan ini digunakan sebagai komponen tablet karena mudah terurai di dalam sistem pencernaan dan aman karena berasal dari tumbuhan.
Pada industri pangan, MCC berfungsi sebagai pengental dan penstabil tekstur, misalnya dalam pembuatan saus atau produk roti.
Selain itu, dalam industri kosmetik bahan ini digunakan sebagai penstabil krim, pengontrol minyak pada wajah, hingga bahan pembentuk tekstur produk kecantikan.
BRIN Siapkan Produksi Skala Industri
Tim peneliti BRIN juga telah memikirkan strategi agar inovasi ini dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang lebih efisien.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggunakan asam organik berbasis bahan kimia teknis agar biaya produksi dapat ditekan.
Kepala PRBB BRIN, Akbar Hanif Dawam, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan riset yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Inovasi seperti Inacell diharapkan mampu mendukung kemandirian kebutuhan dalam negeri, tidak hanya di sektor farmasi dan kesehatan tetapi juga berbagai industri lainnya,” ujarnya.
Jika dikembangkan secara luas, inovasi ini bukan hanya menyelesaikan persoalan limbah sawit, tetapi juga berpotensi menjadi sumber ekonomi baru bagi industri Indonesia di masa depan. (Redaksi)
