Surabaya, Bonarinews.com – Kabar menggembirakan datang dari dunia riset maritim Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi kapal tangkap terbaru yang diklaim jauh lebih efisien dan ramah lingkungan. Langkah ini dianggap mampu meningkatkan daya saing jutaan nelayan tradisional di Indonesia.
Saat ini, 80% nelayan masih bergantung pada kapal berbahan bakar fosil, sehingga biaya operasional melonjak dan kualitas hasil tangkapan kerap tidak optimal. Masalah itu disorot Kepala Pusat Teknologi Proses BRIN Hens Saputra dalam webinar Energi Manufaktur (ENMA) Edisi 03, yang digelar oleh Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN.
Dengan mengusung tema penguatan teknologi kapal perikanan, Hens menegaskan perlunya kapal tangkap yang mengandalkan energi baru terbarukan dan sistem digital untuk memonitor hasil tangkapan. Menurutnya, inovasi hanya bisa terwujud melalui kolaborasi pentahelix: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas nelayan.
Kepala PRTH Teguh Muttaqie menambahkan, BRIN terus menjalin kerja sama dengan asosiasi dan mitra strategis untuk memahami kebutuhan teknologi lapangan, terutama terkait kapal yang lebih cepat, aman, dan ekonomis.
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah kapal hybrid layar untuk penangkapan rajungan, dipaparkan oleh Perekayasa Ahli Muda PRTH Nanang Setiyobudi. Kapal ini memadukan tenaga angin dan listrik, terinspirasi dari kearifan lokal nelayan Rembang, Jawa Tengah.
Nanang mengungkap tiga tantangan nelayan kecil:
– sulit menjangkau perairan dalam (maksimal 12 NM),
– ukuran rajungan yang tertangkap masih kecil,
– biaya operasional BBM yang mencapai 70% pengeluaran.
Solusi kapal hybrid ini disebut mampu beroperasi hingga 10 hari, membawa tangkapan 2 ton, dan menghemat BBM hingga 76%. Dengan jangkauan lebih jauh, nelayan bisa memperoleh rajungan berukuran besar yang bernilai ekonomi lebih tinggi.
Ketua Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia APRI (Asosiasi Pengelola Rajungan Indonesia), Kuncoro Catur Nugroho, menyambut baik pengembangan kapal efisien ini. Ia menekankan perlunya teknologi penyimpanan modern untuk menjaga kualitas rajungan, terlebih Jawa Timur menjadi sentra komoditas rajungan terbesar di Pulau Jawa.
Dari sisi keselamatan, Senior Lecturer Naval Architecture Newcastle University, Simon Benson, mengingatkan, banyak nelayan dunia masih memakai kapal terbuka tradisional sehingga inovasi kapal aman menjadi kebutuhan mendesak.
Perekayasa PRTH Ari Kuncoro menjelaskan, penggunaan PLTS pada kapal rajungan mampu menekan biaya operasional sekaligus menjaga kualitas hasil tangkap. Sementara itu, Endah Suwarni menyebut BRIN turut mengembangkan kapal ancak berbahan fiberglass untuk meningkatkan efisiensi pemanenan rumput laut.
Webinar ini pada akhirnya menggambarkan peluang besar Indonesia untuk masuk era kapal tangkap modern: hemat energi, aman, ramah lingkungan, dan mendukung ketahanan pangan nasional. Riset ini diharapkan mendorong industri kapal nasional kian mandiri serta meningkatkan kesejahteraan nelayan dari Sabang sampai Merauke. (Redaksi)
