Mengubah Kolong Rumah Jadi “Berkah”: Kisah Magang yang Membongkar Kebenaran Kelam Sampah Belawan

Bagikan Artikel

Belawan, Bonarinews.com – Pernah membaca berita tentang krisis sampah di kawasan pesisir? Dalam beberapa tahun terakhir, statistik dari Dinas Kebersihan Kota Medan menunjukkan bahwa Kecamatan Medan Belawan menghasilkan puluhan hingga ratusan ton sampah setiap hari. Sebagian besar tidak terkelola. Bahkan, ribuan ton di antaranya mengalir ke Sungai Deli dan berakhir di laut, menciptakan bencana ekologis dan sosial yang terus berulang di pesisir Medan.

Namun membaca berita ternyata tidak pernah sebanding dengan melihat kenyataan dari jarak satu meter. Itulah yang kami rasakan selama magang di wilayah ini bersama Bank Sampah Berkah, program binaan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Medan CDP. Apa yang selama ini hanya menjadi angka dan laporan, berubah menjadi pemandangan nyata yang nyaris tidak bisa kami lupa seumur hidup.

Ketika Kolong Rumah Berubah Jadi Tempat Sampah

Kami menyaksikan langsung bagaimana tumpukan sampah tidak hanya menutup jalan, halaman, atau bantaran sungai — tetapi juga memenuhi kolong rumah warga. Di kawasan pesisir Belawan, banyak rumah berbentuk rumah panggung, namun ruang kosong di bawah bangunan tidak lagi berfungsi sebagai sirkulasi udara. Sebaliknya, ruang itu telah berubah menjadi lokasi pembuangan sampah harian: plastik, sisa makanan, botol, kain, bahkan limbah rumah tangga lainnya.

Bayangkan hidup di atas tumpukan sampah yang membusuk. Bayangkan anak-anak yang bermain di lantai rumah sambil menghirup udara tercemar dari limbah yang menguap di bawah kaki mereka. Itulah kenyataan yang kami lihat — bukan lagi berita, bukan lagi asumsi.

Tumpukan sampah ini bukan hanya menciptakan bau tak sedap. Banyak warga mengeluhkan diare, penyakit kulit, dan gangguan pernapasan karena setiap hari mereka bersentuhan dengan lingkungan yang sudah tidak lagi layak huni. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi krisis kesehatan yang merusak masa depan generasi pesisir.

Krisis Sampah Pesisir yang Dipelihara oleh Keterbatasan

Kunjungan kami membuka mata, persoalan sampah di Belawan bukan hanya soal kebiasaan buruk atau kurangnya kesadaran. Ada keterbatasan fasilitas, kurangnya sarana pembuangan, minimnya sistem pemilahan rumah tangga, serta ketidakmampuan sebagian warga untuk mencari alternatif hidup.

Dengan kata lain, mereka bukan tidak peduli — mereka tidak punya pilihan.

Di sinilah Bank Sampah Berkah binaan GNI hadir sebagai terobosan yang tidak hanya membersihkan sampah lama, tetapi juga memutus rantai sampah baru agar tidak kembali menumpuk.

Peran GNI: Mengubah Kebiasaan, Bukan Menghakimi

Dalam banyak program lingkungan, warga sering kali hanya diminta membersihkan tanpa diberi solusi jangka panjang. Namun menurut Pak Anwar, Manager GNI Medan CDP, pendekatan itu sudah tidak relevan untuk wilayah seperti Belawan.

GNI memilih pendekatan yang lebih manusiawi: memulai perubahan dari kebiasaan warga. Bukan memaksa, tapi mengajak. Bukan sekadar membersihkan, tapi memberikan alternatif nyata.

Kami melihat langsung bagaimana GNI bekerja dengan penuh empati. Bagi organisasi ini, solusi sampah bukan hanya soal sapu dan karung; tetapi soal membangun kebiasaan yang bertahan.

Program yang Paling Membekas: Tukar Sampah, Dapat Sembako dan Layanan Kesehatan

Kegiatan paling mengesankan bagi kami adalah program penukaran sampah dengan sembako yang digabungkan dengan layanan kesehatan gratis.

Sejak pagi, warga membawa karung, kardus, dan botol plastik ke lokasi bank sampah. Sampah-sampah tersebut ditimbang dan langsung ditukar dengan beras, minyak, mie instan, dan kebutuhan pokok lainnya. Bahkan di saat kegiatan resmi sudah selesai, warga masih berdatangan dengan kantong sampah tambahan.

Yang mengejutkan adalah antusiasme warga yang terus bertanya:

“Program ini sampai kapan?”

Pertanyaan itu menunjukkan bagaimana besar harapan mereka. Ini bukan sekadar bantuan; ini adalah bentuk perhatian yang mungkin jarang mereka dapatkan sebelumnya.

Banyak dari mereka bahkan rela pulang-mengambil sampah tambahan demi mendapatkan pelayanan kesehatan. Bagi warga pesisir, sembako dan obat-obatan bukan hal mudah didapat. Program ini membuat mereka merasa dihargai, dilibatkan, dan dilihat sebagai bagian penting dari solusi lingkungan.

Program yang Mengubah Cara Pandang Warga

Yang membuat Bank Sampah Berkah berbeda adalah cara pendekatannya: warga tidak dianggap sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai pelaku perubahan.

Mereka belajar memilah sampah, menghargai nilai ekonomi dari botol plastik, dan mulai memahami bahwa sampah bukan sekadar beban, tetapi bisa menjadi sumber manfaat bagi keluarga.

Pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding sekadar memerintahkan masyarakat untuk membersihkan sampah tanpa memberi insentif atau edukasi.

Dua Minggu Magang yang Mengubah Cara Pandang Kami

Walau hanya dua minggu, perubahan kecil sudah terlihat. Sampah di kolong rumah memang belum hilang total — dan tentu tidak akan hilang dalam hitungan hari. Namun kami melihat tanda-tanda awal:

  • warga yang tadinya acuh kini mulai memilah sampah,
  • ibu-ibu yang dulu menganggap botol plastik sebagai beban mulai melihatnya sebagai peluang,
  • anak-anak mulai sadar bahwa membuang sampah sembarangan merugikan diri mereka sendiri.

Kami belajar bahwa perubahan besar dimulai dari perubahan kecil yang konsisten.

Harapan untuk Belawan: Pelan, Tapi Pasti Bisa Pulih

Perubahan lingkungan memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Belawan tidak akan langsung bersih hanya dengan satu program. Tapi setiap botol yang dikumpulkan warga, setiap karung sampah yang ditimbang, dan setiap layanan kesehatan yang diberikan, menjadi langkah kecil menuju pesisir yang lebih layak huni.

Jika program seperti Bank Sampah Berkah terus berjalan secara konsisten, Belawan bukan hanya bisa pulih — tapi bisa menjadi contoh bagaimana perubahan dimulai dari ruang sekecil kolong rumah.

Penulis adalah tim mahasiswa Universitas HKBP Nommensen, Medan yang magang di Kantor GNI Medan CDP.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *