Yogyakarta, BonariNews.com – Upaya mencari alternatif pengobatan diabetes yang lebih aman dan terjangkau terus dilakukan para ilmuwan Indonesia. Kali ini, tim peneliti dari BRIN menyoroti potensi besar kayu raru (Vatica perakensis)—tanaman yang sudah lama dipakai masyarakat Batak sebagai ramuan tradisional—sebagai kandidat kuat herbal antidiabetes berbasis kearifan lokal.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita diabetes global hingga hampir setengah miliar orang, kebutuhan terhadap solusi alami semakin mendesak. Hal inilah yang mendorong penelitian mendalam terhadap kayu raru, yang secara turun-temurun dipercaya bisa membantu menurunkan kadar gula darah.
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Agus Ismanto mengungkapkan, ekstrak kulit kayu raru memiliki aktivitas antioksidan sekaligus mampu menghambat enzim alfa-glukosidase—enzim yang memecah karbohidrat menjadi glukosa. Mekanisme inilah yang menjadi target banyak obat antidiabetes modern.
“Untuk meningkatkan performanya, kami memadukan ekstrak raru dengan karbon aktif dari mocaf sebagai carrier zat aktif,” jelas Agus. Karbon aktif ini dibuat melalui pemanasan khusus sehingga membentuk pori-pori halus yang memungkinkan penyerapan dan pelepasan senyawa biologis secara lebih optimal di dalam tubuh.
Uji Praklinis: Raru Turunkan Gula Darah hingga 21,94%
Penelitian bertajuk Efek Antidiabetik Ekstrak Kulit Kayu Raru dan Karbon Aktif Mocaf pada Tikus Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin dilakukan menggunakan tikus jantan yang dibuat dalam kondisi diabetes. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok perlakuan, mulai dari kontrol, pemberian ekstrak raru tunggal, hingga kombinasi ekstrak raru-karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasilnya memberikan harapan besar:
- Ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah 21,94%
- Kombinasi raru + karbon aktif rasio 75:25 menurunkan 18,85%
- Kombinasi ratu + karbon aktif rasio 50:50 menurunkan 14,97%
Meski karbon aktif tidak memberikan peningkatan signifikan, temuan ini menegaskan bahwa kayu raru sendiri memiliki kemampuan antidiabetes yang kuat.
Penelitian-penelitian sebelumnya bahkan menunjukkan ekstrak raru dapat menghambat enzim alfa-glukosidase lebih dari 90%, kemungkinan besar dipengaruhi kandungan senyawa fenoliknya.
Masih Tahap Awal, Tapi Potensi Besar
Agus menegaskan bahwa penelitian ini masih tahap awal. Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja biologis secara mendalam, hingga keamanan jangka panjang masih harus diuji sebelum bisa memasuki tahap uji klinis pada manusia.
Meski demikian, riset ini menjadi langkah penting untuk membawa kearifan lokal Batak ke ranah inovasi obat herbal modern.
“Selanjutnya kami akan memperdalam identifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperluas studi mekanisme kerja,” tambahnya.
Melalui penelitian seperti ini, BRIN memperlihatkan komitmen kuat dalam memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia sebagai fondasi inovasi kesehatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kayu raru kini menjadi salah satu kandidat menarik dalam upaya menemukan herbal antidiabetes yang aman, berbasis pengetahuan lokal, namun teruji secara ilmiah. (Redaksi)
