Yogyakarta, BonariNews.com – Sebuah studi terbaru dari BRIN mengungkap fakta mencengangkan tentang kebiasaan berpindah tempat tinggal di kalangan anak muda Indonesia. Lewat penelitian mendalam yang dilakukan Pusat Riset Kependudukan, mobilitas generasi usia 15–34 tahun ternyata sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.
Riset yang dikerjakan oleh peneliti Meirina Ayumi Malamassam ini memakai data longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 1–5. Pendekatan life-course digunakan untuk menelusuri perjalanan hidup responden—mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga pembentukan keluarga—dan bagaimana semua itu berkaitan dengan keputusan mereka untuk bermigrasi antardaerah.
Hasilnya cukup mengejutkan. Rata-rata pemuda Indonesia mengalami 0,86 kali perpindahan antarkabupaten/kota selama masa mudanya. Bahkan 40 persen di antaranya minimal pernah pindah satu kali. Lebih menarik lagi, bagi mereka yang sudah pernah migrasi, kecenderungan untuk pindah lagi sangat tinggi, mencapai rata-rata 2,14 kali perpindahan. Artinya, migrasi di usia muda bukan sekadar perpindahan tunggal, tetapi bersifat berulang.
Penelitian juga menemukan pola yang sangat jelas: semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar peluang mereka untuk melakukan migrasi dan migrasi berulang. Sebaliknya, kelompok berpendidikan rendah lebih cenderung tidak pernah berpindah sama sekali.
Ayumi menjelaskan, pemuda berpendidikan rendah biasanya memulai migrasi pertama di usia lebih muda, sementara mereka yang berpendidikan tinggi lebih aktif melakukan migrasi lanjutan di fase kehidupan berikutnya. Bahkan, mereka yang berpendidikan tinggi lebih mungkin menetap di tempat baru pada usia 34 tahun.
Interval perpindahan juga cukup cepat—umumnya hanya tiga tahun atau kurang—menggambarkan bahwa mobilitas generasi muda terjadi secara intens dan dinamis.
Ayumi menegaskan, pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk arah dan intensitas migrasi. Perbedaan tingkat pendidikan memengaruhi peluang, waktu pengambilan keputusan penting dalam hidup, hingga ke mana seseorang akan bermigrasi.
Studi berbasis data longitudinal ini memperkaya pemahaman mengenai dinamika mobilitas penduduk muda serta menjadi dasar empiris penting bagi pengembangan kebijakan terkait pembangunan dan pemerataan kualitas sumber daya manusia antarwilayah.
Sebagai lembaga riset nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional terus mendorong penelitian kependudukan yang berbasis bukti guna membaca transformasi sosial sekaligus memahami arah mobilitas pemuda Indonesia ke depan. (Redaksi)
