Ketika X menjadi Ruang Debat Peran Ilmu

Bagikan Artikel

Oleh: Della Rosa Br. Sembiring

Baru-baru ini, di aplikasi X, muncul sebuah tangkapan layar dari platform beasiswa LPDP yang ramai diperbincangkan. Isinya adalah abstrak tesis bidang Ilmu Sosial Humaniora berjudul “Tribal Marketing: Swifties as the Free Marketing Tools for Taylor Swift.” Penelitian tersebut membahas bagaimana komunitas penggemar penyanyi Taylor Swift (Swifties) berfungsi sebagai online brand community yang secara tidak langsung menjadi alat pemasaran melalui loyalitas, keterikatan emosional, dan electronic word-of-mouth.

Namun yang kemudian viral bukanlah isi penelitian itu secara utuh. Yang menjadi sorotan adalah satu pertanyaan bernada sinis di salah satu base anonim, @sbmptnfess, ketika seseorang mengunggah komentar: “Apa impact dari penelitian ini buat masyarakat Indo?” Pertanyaan tersebut langsung memantik komentar lanjutan yang menganggap penelitian itu tidak berguna, tidak relevan, bahkan “sampah”.

Seperti biasa, reaksi publik mengalir cepat: ada yang setuju, ada yang menentang. Setiap kali ada penelitian humaniora bertema “remeh”, apalagi menyangkut budaya populer seperti Swifties, respons warganet hampir selalu sama: “Apa impact-nya buat masyarakat Indo?” Diikuti vonis kilat: tidak berguna, buang-buang dana, dan sebagainya.

Jika dicermati, pola ini menunjukkan kecenderungan manusia memberi penghakiman dalam waktu singkat. Secara psikologis, hal ini bukan hal baru. Riset dari psikolog Alexander Todorov yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa kita dapat menyimpulkan kompetensi atau kredibilitas seseorang hanya dalam hitungan milidetik. Di era digital, kecenderungan itu berubah menjadi kebiasaan menghakimi hanya lewat secuil tangkapan layar.

Kritik yang muncul sering kali tidak disertai upaya memahami metodologi, kerangka teori, atau relevansi fenomena yang diteliti. Tidak mempertimbangkan bahwa komunitas penggemar sebagai online brand community justru relevan dalam perekonomian digital—dunia yang bergerak melalui ekonomi atensi, fandom, komunitas daring, dan electronic word-of-mouth. Penelitian tentang Swifties mungkin terdengar ringan, tetapi sebenarnya ia membedah bagaimana loyalitas kolektif terbentuk, bagaimana solidaritas dibangun, dan bagaimana budaya ini dikapitalisasi menjadi kekuatan ekonomi.

Pertanyaan tentang “impact untuk Indonesia” juga kerap muncul dari asumsi bahwa dampak penelitian harus selalu langsung dan kasat mata—seolah penelitian hanya sah bila bisa segera menambal jalan berlubang atau menurunkan harga beras. Padahal banyak penelitian humaniora yang awalnya tampak nyeleneh justru menjadi pijakan penting dalam memahami perilaku konsumen, politik identitas, gerakan sosial, hingga strategi komunikasi.

Kemarahan pengunggah komentar tadi mungkin tak sepenuhnya soal tesis tersebut. Bisa jadi ada akumulasi frustrasi: merasa akademisi jauh dari realitas, merasa tidak merasakan manfaat langsung dari dana publik, atau lelah dengan ketimpangan sosial yang nyata sehari-hari. Akibatnya, tema yang terlihat “remeh” menjadi sasaran empuk. Masalahnya bukan pada pertanyaannya—mempertanyakan kontribusi penelitian adalah hal wajar. Namun ketika pertanyaan berubah menjadi ejekan sebelum diskusi dimulai, di situlah ruang berpikir mati bahkan sebelum tumbuh. Inilah yang memicu kontroversi panjang di base tersebut.

Pada saat yang sama, ini juga menjadi kritik bagi dunia ilmiah. Tidak semua orang terbiasa dengan ruang ilmiah yang tertata—ruang di mana aturan berbicara dan aturan berpikir berjalan beriringan. Sah saja jika X menjadi ruang baru untuk mencari “dampak”, tetapi dampak penelitian sering kali bekerja jauh sebelum publik menyadarinya: melalui perumusan kebijakan, wacana publik, dan dialog dengan para pengambil keputusan.

Apa boleh buat, dalam ekosistem media sosial hari ini, X pun bisa menjadi ruang debat pseudo-ilmiah—ruang yang gaduh, cepat, dan sering kali mengalahkan kedalaman berpikir.

Penulis adalah mahasiswi Prodi S1 Antropologi Sosial FISIP, Universitas Sumatera Utara.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *