Maggot Bisa Gantikan Protein Pakan Ternak, Limbah Jadi Emas

Bagikan Artikel

Yogyakarta, BONARINEWS — Larva Black Soldier Fly (BSF) bukan hanya pengurai sampah organik, tapi kini jadi sumber protein berkelanjutan untuk pakan ternak. Inovasi UGM ini bisa menekan impor bahan pakan sekaligus kelola sampah rumah tangga.

Maggot atau larva BSF, yang biasa dimanfaatkan untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos, kini dilirik sebagai solusi sumber protein baru untuk industri pakan ternak. Pasalnya, kebutuhan protein pakan nasional mencapai lebih dari 21 juta ton per tahun, sementara ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan utama.

Dr. Muhsin Al Anas, dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan, larva BSF tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan baku pakan, tetapi juga sebagai feed additive dan feed supplement yang membantu meningkatkan kesehatan pencernaan dan imunitas ternak.

“Dengan teknologi pelet pakan berbasis BSF, produktivitas ternak bisa meningkat sekaligus menekan ketergantungan impor bahan pakan,” ujarnya pada Workshop Pengolahan Sampah Batch 2 di Fakultas Peternakan UGM, tempo hari.

Selain sebagai sumber protein, inovasi maggot farming juga berperan dalam pengelolaan sampah terpadu. Limbah rumah tangga, industri unggas, hingga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) bisa dimanfaatkan sebagai media tumbuh larva. Produk turunan larva seperti tepung dan minyak kini telah dikembangkan sebagai pakan fungsional berbasis riset.

Rima Amalia Eka Widya, S.S., M.A., Koordinator Proyek CircuLife, menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah. “Partisipasi masyarakat menjadi kunci menciptakan solusi lingkungan berkelanjutan yang berdampak nyata,” ujarnya.

Workshop ini juga menampilkan sesi pengolahan limbah organik rumah tangga menjadi ecoenzyme, yang dibawakan Drs. Sarwa Sigid dari Komunitas Ecoenzyme Nusantara. Para peserta mendapatkan pemahaman praktis tentang cara memanfaatkan limbah organik menjadi produk ramah lingkungan yang bisa diterapkan di komunitas masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Peternakan UGM berharap peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan praktik pengelolaan sampah organik secara mandiri di lingkungan mereka. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *