
SIKKA, BONARINEWS.COM – Penelitian genetika manusia yang telah berlangsung lebih dari dua dekade dan melibatkan lebih dari 130 populasi etnik di Nusantara mengungkap temuan penting terkait keunikan genetik etnis Bajo dan Sikka di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Informasi yang diterima wartawan, hasil penelitian tersebut akan dipaparkan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan daerah pada 2–3 Februari 2026 di Maumere.
Penelitian ini dilakukan oleh Kelompok Riset Keanekaragaman Genom dan Penyakit yang dipimpin Prof. dr. Herawati Sudoyo, PhD, Peneliti Utama dari Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).
Riset tersebut merupakan kelanjutan penelitian genetika manusia yang sebelumnya dilakukan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan kini dilanjutkan di MRIN.
Berdasarkan surat undangan resmi bernomor 004.00/UK-PHPP/MRIN/LGL/I/2026, MRIN mengundang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka untuk menghadiri kegiatan penyampaian hasil penelitian populasi etnik Sikka dan Bajo di Kabupaten Sikka.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara struktur populasi etnik, kesehatan masyarakat, serta sejarah migrasi nenek moyang dan kaitannya dengan penyakit. Populasi etnik Sikka dan Bajo di Kabupaten Sikka menjadi bagian dari penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2023.
Untuk etnik Bajo, penelitian berjudul Studi Keanekaragaman Genetik Manusia Indonesia dan Pencarian Varian Genetik Baru Terkait Penyakit dilaksanakan bekerja sama dengan RS St. Elisabeth Lela pada 28–31 Maret 2023 serta Klinik Utama Agradece pada 17–22 Juli 2023.

Sebagai tindak lanjut, tim peneliti akan kembali ke Maumere untuk menyampaikan hasil penelitian kesehatan secara langsung kepada masyarakat. Penyampaian hasil penelitian kepada masyarakat etnik Bajo dijadwalkan pada Senin, 2 Februari 2026, pukul 09.00 WITA, bertempat di Klinik Utama Agradece, Jalan Diponegoro–Waidoko, Maumere, dengan sasaran warga etnik Bajo Desa Wuring, Nangahure, dan Nangahale.
Sementara itu, penyampaian hasil penelitian kepada masyarakat etnik Sikka akan dilaksanakan pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 09.00 WITA, bertempat di Aula RS St. Elisabeth Lela, Jalan Dr. Sr. Conchita, Lela, Maumere.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Penanggung Jawab Klinik Utama Agradece dan local collaborator penelitian, dr. Asep Purnama, Sp.PD, FINASIM, menyampaikan bahwa penelitian genetika ini telah dilakukan selama sekitar 20 tahun dan saat ini masih terus berlanjut di berbagai wilayah Indonesia.
“Penelitian ini sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu, dan saat ini Prof. Herawati dan rekan-rekannya juga sedang melanjutkan penelitian serupa di Sulawesi,” ujar dr. Asep.
Ia menilai keterlibatan etnis Bajo dan Sikka dalam penelitian ini merupakan sebuah keberuntungan bagi masyarakat Kabupaten Sikka. Pasalnya, selain bernilai ilmiah tinggi, penelitian ini juga memberikan manfaat langsung bagi warga yang terlibat sebagai peserta penelitian.
Menurut dr. Asep, warga yang mengikuti penelitian mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium seperti darah dan urine, hingga pemeriksaan penunjang lainnya.
“Kalau dihitung, biaya pemeriksaan ini bernilai jutaan rupiah. Bahkan sebagian pemeriksaan tidak tersedia di Kabupaten Sikka, seperti pemeriksaan genetika,” paparnya.
Melalui pemeriksaan tersebut, berbagai penyakit dapat dideteksi sejak dini sehingga memungkinkan penanganan medis dilakukan lebih cepat dan tepat. Selain manfaat langsung bagi warga, data kesehatan yang dihasilkan juga memiliki nilai strategis bagi Pemerintah Daerah.
“Data-data kesehatan ini sangat penting bagi Pemda, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, sebagai dasar perencanaan kebijakan pencegahan dan penanggulangan penyakit yang lebih tepat sasaran,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Asep menambahkan bahwa salah satu tujuan utama penelitian ini adalah mengaitkan karakteristik genetik etnis tertentu dengan jenis penyakit tertentu. Temuan tersebut dinilai krusial dalam merumuskan strategi kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah.
“Menghubungkan genetik etnis tertentu dengan penyakit sangat penting. Ini bisa menjadi dasar strategi kebijakan kesehatan di daerah,” katanya.
Melalui kegiatan penyampaian hasil penelitian ini, tim MRIN berharap masyarakat dan pemerintah daerah tidak hanya memahami temuan ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga mampu memanfaatkan data tersebut untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta upaya pencegahan penyakit di Kabupaten Sikka.
Penulis : Faidin