Ziggy: Tulisan yang Baik Adalah Tulisan yang Selesai

Bagikan Artikel

Bonarinews.com, MEDAN – “Jangan takut menulis, tapi takutlah berhenti di tengah jalan.” Kalimat itu diucapkan pelan oleh penulis Ziggy, dan langsung disambut tepuk tangan peserta yang memenuhi Gedung Serbaguna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (11/10/2025).

Ziggy hadir bersama editornya, Teguh Afandi, dalam acara puncak Festival Sastra Akhir Pekan (FSAK) yang digelar oleh Komunitas Ngobrol Buku. Dalam sesi diskusi bertema Mari Pergi Lebih Jauh, mereka berbagi pengalaman tentang hal-hal sederhana namun penting dalam proses menulis.

Bagi Ziggy, kunci utama seorang penulis bukan pada ide besar atau kata-kata indah, melainkan pada kesabaran untuk menyelesaikan cerita. “Banyak orang punya ide bagus, tapi tidak semua bisa menyelesaikannya. Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai,” katanya.

Ia mengaku menulis novel Mari Pergi Lebih Jauh adalah proses panjang yang penuh tantangan. Novel itu merupakan lanjutan dari Kita Pergi Hari Ini yang sebelumnya mendapat penghargaan Buku Sastra Pilihan Tempo 2024. “Menulis sekuel berarti menjaga agar tokoh dan dunia yang sudah ada tetap hidup, tapi juga memberi mereka ruang untuk tumbuh,” ujar Ziggy.

Bagi Ziggy, kejujuran terhadap cerita juga menjadi hal penting. Ia sering menggunakan sudut pandang anak-anak dalam karyanya karena menurutnya, anak-anak memiliki cara pandang yang jujur dan tulus terhadap dunia. “Mereka bisa marah, kecewa, atau gembira dengan cara yang sederhana tapi dalam. Itu yang membuat saya selalu kembali ke dunia mereka,” tuturnya.

Sementara itu, editor Teguh Afandi menambahkan, penulis muda perlu belajar untuk tidak terburu-buru mengejar hasil. “Menulis itu proses. Jangan ingin cepat terkenal, tapi ingin terus belajar. Naskah yang baik bukan yang sempurna, tapi yang dikerjakan sampai tuntas,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa tugas editor bukan hanya memperbaiki tulisan, tapi juga menjaga agar karya penulis bisa sampai ke pembaca dengan utuh. “Editor itu seperti penjaga ritme. Kami memastikan cerita berjalan dengan pas dan tidak kehilangan ruhnya,” kata Teguh.

Diskusi berlangsung hangat dan penuh tawa. Banyak peserta mengaku terinspirasi oleh kesederhanaan pesan dari kedua narasumber. Bahwa menjadi penulis bukan soal cepat terbit, tapi tentang konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk terus menulis hingga akhir.

Festival Sastra Akhir Pekan kemudian ditutup dengan kejutan dari Ziggy dan Teguh: pengumuman empat judul buku baru karya Ziggy yang akan segera diterbitkan. Keempatnya adalah Kebangkitan Bulan Darah, Matahari Dunia Antara, Menanti Ledakan Bintang, dan Akhir Pusaran Dunia.

“Medan menjadi tempat pertama kami memperkenalkan proyek ini,” ujar Teguh, disambut sorakan dan tepuk tangan panjang dari ratusan peserta.

Lewat pesan sederhana yang disampaikan Ziggy dan Teguh sore itu, para peserta pulang membawa satu pelajaran penting: menulis bukan tentang cepat selesai, tapi tentang berani menuntaskan apa yang telah dimulai. (Lindung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *