Sikka, Bonarinews.com — Fenomena meningkatnya kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, penipuan, hingga eksploitasi di berbagai sektor menjadi tanda bahwa persoalan moral dalam kehidupan sosial semakin serius. Hal ini menjadi perhatian Wenseslaus Wege, S.Fil, melalui tulisannya berjudul “Cinta Uang Akar Kejahatan.”
Dalam tulisannya, Wenseslaus menilai bahwa uang memang memegang peran penting dalam kehidupan modern. Namun masalah muncul ketika uang ditempatkan sebagai tujuan utama hidup. Di titik itu, manusia mudah tergelincir pada tindakan tidak etis.
“Ketika manusia terlalu mencintai uang dan menempatkannya di atas segalanya, nilai moral pasti menjadi korban,” tulis Wenseslaus.
Keserakahan Melahirkan Tindakan Tidak Adil
Wenseslaus menilai bahwa banyak kejahatan terjadi karena dorongan mengejar uang tanpa batas. Ia menyinggung sejumlah tindakan yang kerap muncul akibat keserakahan, seperti korupsi, pencurian, manipulasi proyek, penguasaan tanah secara sewenang-wenang, hingga eksploitasi tenaga manusia dan alam.
“Ambisi mencari uang sebanyak-banyaknya telah membuat sebagian orang menghalalkan segala cara,” tulisnya.
Perspektif Filsuf dan Tokoh Dunia
Untuk memperkuat pandangannya, Wenseslaus merujuk pada sejumlah pemikiran para filsuf dan tokoh moral. Aristoteles, misalnya, memandang uang hanya sebagai sarana menuju kehidupan baik, bukan tujuan hidup. Adam Smith menegaskan bahwa kekayaan tidak keliru selama diarahkan untuk kebaikan bersama.
Wenseslaus juga mengutip pesan Mahatma Gandhi yang menyatakan bahwa bumi menyediakan cukup untuk kebutuhan semua orang, tetapi tidak untuk keserakahan. Ia menambahkan pandangan Paus Fransiskus yang menekankan bahwa uang harus melayani manusia, bukan sebaliknya.
Pandangan ini sejalan dengan pesan dalam Kitab Suci 1 Timotius 6:10 bahwa cinta uang adalah akar dari segala kejahatan.
Kajian Modern: Kekayaan Bisa Menggerus Empati
Tulisan ini juga memasukkan perspektif psikologi modern. Wenseslaus mengutip penelitian psikolog Paul Piff yang menemukan bahwa semakin tinggi status sosial seseorang, kecenderungan empati bisa menurun.
Orang yang merasa lebih kaya cenderung lebih mudah melakukan manipulasi, melanggar aturan, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Menurut Wenseslaus, hal ini memperlihatkan bahwa cinta uang yang berlebihan dapat memengaruhi karakter seseorang dan hubungan sosial dalam masyarakat.
Uang Menguasai Banyak Aspek Kehidupan
Wenseslaus menilai bahwa hampir semua bidang kehidupan saat ini menempatkan uang sebagai pusat. Tidak hanya untuk kebutuhan dasar seperti membangun rumah atau pendidikan, tetapi juga untuk urusan birokrasi, politik, hingga mempertahankan kekuasaan.
“Bangun rumah butuh uang, urus politik butuh uang, pendidikan butuh uang, belis butuh uang, bahkan untuk tetap berkuasa pun amplop uang harus melayang,” tulisnya.
Konsekuensi Sosial dan Turunnya Kepercayaan Publik
Ketika uang menjadi ukuran utama keberhasilan, menurut Wenseslaus, masyarakat akan terbiasa dengan ketidakadilan. Penguasaan tanah secara tidak etis, penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri, atau hilangnya kepekaan sosial adalah contoh nyata yang ia soroti.
Situasi ini dinilai tidak hanya merusak nilai kemanusiaan, tetapi juga menurunkan kepercayaan masyarakat dan melemahkan ketahanan moral dalam kehidupan bersama.
Ajakan untuk Kembali Meluruskan Sikap
Di akhir tulisannya, Wenseslaus mengajak masyarakat untuk menempatkan uang sesuai porsinya, yaitu sebagai alat hidup, bukan tujuan akhir. Ia menekankan pentingnya menjaga kesadaran moral dalam menjalani kehidupan.
“Semoga saya, Anda, dan kita semua tidak menjadi hamba uang dalam menapaki sisa perjalanan hidup ini,” tulisnya. (Faidin)
