Jakarta, BONARINEWS – Ancaman gempa dan tsunami di sepanjang Sesar Weber semakin nyata, memaksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya kolaborasi antara tradisi lisan masyarakat dan riset geologi modern sebagai benteng pertama menghadapi bencana. Data sejarah dan naskah lokal yang selama ini tersimpan menjadi kunci untuk membaca tanda alam sekaligus mempersiapkan evakuasi dini.
Dalam webinar daring bertajuk “Menggali Pengetahuan Lokal dalam Membangun Ketangguhan Menghadapi Gempa dan Tsunami di Wilayah Sesar Weber”, Jumat (30/1), Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Sastri Sunarti, menegaskan bahwa intensitas bencana di Indonesia makin meningkat, diperparah kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia, termasuk pertambangan di Maluku Utara. “Integrasi tradisi lisan dengan ilmu geologi modern akan membuat masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana,” ujarnya.
Masyarakat Ambon, Seram, dan Amahai memiliki sistem peringatan dini berbasis budaya, dikenal sebagai Nanaku, yang memungkinkan mereka membaca perubahan perilaku hewan dan kondisi laut sebagai tanda bencana akan datang. Peneliti BRIN, Mu’jizah, menyarankan langkah-langkah strategis seperti pendokumentasian digital naskah, keterlibatan tokoh adat, edukasi teknologi kontekstual, dan penguatan kapasitas komunitas untuk memaksimalkan kesiapsiagaan.
Dari sisi geologi, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Purna Sulastya Putra, mengungkapkan bahwa longsoran bawah laut di Laut Banda menjadi pemicu utama gempa dan tsunami di wilayah tersebut. Temuan endapan paleo-tsunami di Banda Neira memperkuat catatan sejarah, termasuk tsunami besar pada 1629, yang tercatat dalam naskah lokal.
Ahli mitigasi bencana dari Universitas Indonesia, Irine Sondang Fitrinitia, menegaskan bahwa pengetahuan ilmiah saja tidak cukup. Kombinasi riset geologi modern dan kearifan lokal akan membangun komunitas pesisir yang lebih tangguh, serta mempermudah pemahaman dan respon masyarakat terhadap risiko bencana secara nyata.
Dengan sinergi ini, BRIN berharap pesan risiko gempa dan tsunami tidak hanya tersampaikan, tetapi juga diinternalisasi masyarakat sebagai tindakan preventif, bukan sekadar informasi belaka. (Redaksi)