Viral! Dua Wartawan di Kupang Dianiaya dan Diteror Oknum Polisi, Dicekik hingga Motor Disita

Bagikan Artikel

KUPANG, Bonarinews.com – Dunia pers di Kupang, Nusa Tenggara Timur diguncang insiden serius. Dua wartawan media DeteksiNTT.com diduga mengalami intimidasi, penganiayaan, hingga teror dari seorang oknum polisi berinisial SDT pada Kamis (12/3/2026).

Kedua jurnalis tersebut yakni Deviandi Selan dan Nino Ninmusu. Mereka awalnya melakukan investigasi setelah menerima pengaduan dari seorang perempuan bernama Welmince yang mengaku sebagai istri dari Bripka SDT.

Dalam pengaduannya, Welmince menyebut dirinya bersama dua anaknya telah ditelantarkan selama kurang lebih delapan tahun. Ia juga menduga suaminya tinggal bersama perempuan lain di sebuah rumah di kawasan Terminal Oebufu, Kupang.

Investigasi Berujung Teror

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, kedua wartawan melakukan pengecekan langsung ke lokasi rumah yang dimaksud. Mereka datang bersama Welmince dan sepupunya yang bernama Marlin.

Setibanya di lokasi, mereka melihat sebuah sepeda motor Honda Beat berwarna hitam terparkir di depan rumah yang diduga kuat milik Bripka SDT. Motor tersebut dikenali dari tulisan “Alfa” pada plat kendaraan, yang disebut sebagai nama anak sulung pasangan tersebut.

Sebelum melakukan pengecekan lebih jauh, wartawan Nino sempat meminta Welmince agar tetap berada di dalam mobil untuk menghindari keributan.

Namun situasi berubah ketika sang istri diduga melakukan pelabrakan di lokasi rumah tersebut. Wartawan Deviandi Selan yang melihat keributan kemudian mencoba merekam kejadian menggunakan ponsel.

Wartawan Dipukul dan Dikejar Helm

Saat proses perekaman berlangsung, Bripka SDT tiba-tiba menghampiri Deviandi dan melontarkan pertanyaan bernada tinggi.

“Om video apa?” katanya sambil menghadang wartawan.

Meski sudah diberi tahu bahwa yang merekam adalah wartawan, situasi justru memanas. Deviandi Selan dilaporkan sempat dipukul hingga mengenai tangan kirinya. Tak berhenti di situ, oknum polisi tersebut bahkan mengambil helm dan mengejar wartawan tersebut.

Merasa terancam, Deviandi langsung berlari menyelamatkan diri ke arah permukiman warga di belakang Gereja Anak Darah Oebufu.

Wartawan Dicekik dan Diancam

Sementara itu, sekitar 15 menit kemudian, wartawan Nino Ninmusu yang menunggu di dekat motor tiba-tiba didatangi Bripka SDT.

Tanpa banyak bicara, ia langsung melontarkan ancaman sambil memukul Nino dua kali. Meski pukulan tersebut mengenai helm yang dikenakan, intimidasi tidak berhenti di situ.

Oknum polisi tersebut bahkan menyita identitas milik Nino berupa kartu BPJS, serta menanyakan asal daerah dan tempat tinggalnya.

Tidak hanya itu, Nino juga mengaku sempat dicekik dua kali sambil terus mendapat ancaman.

Basong mau cari masalah dengan beta? Beta tanda basong. Ini malam lu tunggu sampai pagi,” ancamnya.

Motor Wartawan Disita

Situasi semakin mencekam ketika Nino dipaksa mendorong motor milik rekannya menuju rumah perempuan yang diduga terkait dengan persoalan tersebut.

Di lokasi tersebut, Nino diminta masuk ke dalam rumah untuk memberikan penjelasan. Setelah itu ia akhirnya diperbolehkan pulang bersama seorang temannya.

Namun saat dalam perjalanan pulang, keduanya mengaku kembali dibuntuti oleh Bripka SDT hingga ke sebuah jalan buntu di kawasan Oebufu.

Ancaman kembali dilontarkan, bahkan oknum polisi tersebut menyebut siap berhenti dari institusi kepolisian jika masalah tersebut terus berlanjut.

“Untung tidak sampai tangkap. Kalau tidak, saya sudah banting kasih mati dia,” ancamnya.

Akibat kejadian tersebut, wartawan Nino Ninmusu mengalami luka cekikan di bagian leher. Hingga saat ini, motor milik Deviandi Selan serta kartu BPJS milik Nino masih dilaporkan berada dalam penguasaan Bripka SDT.

Kasus ini kini menjadi sorotan serius karena menyangkut keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.

Penulis: Arsen
Editor: Dedy Hu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *