Tjong A Fie, Sosok Tionghoa Medan yang Dermawan

Bagikan Artikel

Oleh Dedy Hutajulu

Secara fisik, ia memang hanya bangunan tua, namun sarat nilai sejarah. Tjong A Fie Mansion, berkisah tent
ang seorang dermawan asal Medan. Namanya harum karena kedermawanannya.

Lokasinya di jantung kota Medan. Tepatnya di pusat bisnis pertokoan, daerah Kesawan Square, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 105 Medan, Sumut. Di seberangnya berdiri restoran Tip Top yang legendaris, salah satu resto unggulan Kota Medan.

Rumah ini merupakan bekas peninggalan seorang saudagar kaya bernama Tjong A Fie. Hingga kini, rumah berukuran 8.000 meter persegi itu pada bagian belakangnya masih dihuni oleh beberapa keluarga dari cucu Tjong A Fie.

Tjong A Fie Mansion memiliki dua lantai dengan 35 ruangan di dalamnya. Rumah tua ini dirawat dengan baik oleh keluarganya. Bangunan ini diresmikan sebagai objek wisata museum mulai 2009. Dibuka untuk publik setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Jika berkunjung ke museum ini, kalian akan dibawa berkeliling ke setiap sudut ruangan oleh pemandu.

Pemandu begitu sabar memberikan penjelasan lengkap mengenai sejarah mansion tersebut. Di dalam Mansion ini, masih tersedia lengkap beragam barang-barang koleksi milik Tjong A Fie semasa hidupnya.

Siapa dia?

Tjong A Fie adalah orang Hakka, Provinsi Guangdong, Tiongkok. Lahir pada 1860 dari keluarga sederhana. Nama baptisnya Tjong Fung Nam. Semasa kecil, ia kerap meninggalkan bangku sekolah demi menjaga toko ayahnya. Meski pendidikan formalnya terbatas, Tjong A Fie berotak encer. Daya serapnya terhadap ilmu berdagang begitu cepat. Ia menguasai seni berdagang sehingga mampu memajukan usaha keluarganya.

Mendengar kakaknya, Tjong Yong Hian berhasil di Medan, Tjong A Fie muda memutuskan untuk menyusul kakaknya ke Medan (Sumut) pada 1875. Sebagai pebisnis yang tangguh dan pandai bergaul, Tjong A Fie tidak kesulitan dalam memulai bisnis. Ia memulai bisnis perkebunan tembakau. Ia amat piawai di bidang ekonomi dan politik. Sehingga tak butuh waktu lama baginya untuk menjulang sebagai pebisnis hebat. Bisnisnya meliputi perkebunan tembakau, pabrik minyak kelapa sawit, pabrik gula, bank dan perusahaan kereta api. Ia mempekerjakan 10 ribu karyawan di perkebunannya.

Sebagai sosok cerdas, Tjong A Fie kemudian dipercaya sebagai Kapitan atau pemimpin komunitas Tionghoa di Medan. Tjong A Fie juga menjadi teladan bagi anak muda karena ia anti narkotika, membenci judi, menjauhi minuman keras dan pelacuran. Watak kepemimpinannya begitu menonjol. Ia kemudian didaulat sebagai tangan kanan pemerintah Hindia Belanda. Dan dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota dewan kota dan dewan kebudayaan.

Di masa jayanya, pada 1886, Tjong A Fie kemudian membangun sebuah rumah yang megah di daerah Kesawan. Masa itu, Tjong A Fie paling sukses di Medan. Harta kekayaannya melimpah, sampai-sampai ia harus menyimpan duitnya di dalam sumur karena bank tidak sanggup menampung semua duitnya. Ia juga sukses karena menggenggam kekuatan politik dan ekonomi. Ia begitu dekat dengan Sultan Deli, Makmun Al Rasyid serta penjabat-penjabat Kolonial Belanda. Kedekatannya dengan Sultan Deli dan orang-orang Belanda membuatnya amat disegani semua orang.

Namun yang mengesani justru ketika Tjong A Fie sebagai saudagar kaya kerap berderma. Ia banyak membangun tempat ibadah seperti masjid, gereja dan klenteng. Masjid Raya Medan dan Masjid Lama Gang Bengkok menjadi saksi bisu kedermawanan Tjong A Fie. Ia juga membangun jembatan di Jalan Zainul Arifin. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Medan pada 1921 karena sakit pendarahan di otak. Sebelum meninggal, Tjong A Fie menyerahkan seluruh kekayaannya kepada Yayasan Toen Moek Tong untuk membantu pendidikan pemuda-pemudi berbakat di Medan.

Apa saja di dalam Tjong A Fie Mansion?

Di dalam ruang utama terpampang foto Tjong A Fie dalam ukuran raksasa. Ada juga beberapa barang pajangan yang tertata rapi. Ada pula foto saat perayaan dirgahayu 60 tahun Tjong A Fie (1920) bersama keluarganya mengenakan pakaian orang Tionghoa zaman lawas.

Di sudut yang lain, terdapat bilik pertemuan dengan Sultan Deli yang didesain interior khas Melayu. Ruangan itu didominasi warna kuning. Ruangan itu digunakan untuk menjamu sahabatnya, Sultan Deli. Sementara, di kamar tidur pribadinya, terdapat ranjang, kasur dan pakaian peninggalan Tjong A Fie juga lemari pakaian, mesin jahit serta meja rias istrinya. Di ruangan keluarga, terdapat buku-buku yang tersusun rapi di dalam rak.

 Di bagian lain, ada ruang makan. Ruang makan ini masih lengkap dengan perkakas dan peralatan makan yang kerap digunakan Tjong A Fie. Begitu juga dengan dapur masih lengkap dengan peralatan masak tradisional dan tempat mencuci kain.

Di lantai dua, terdapat sejumlah ruang pertemuan dan ruang keluarga. Dulunya, Tjong Fie ini senang menerima tamu yang berkunjung dan menginap di rumahnya. Tjong A Fie sangat ramah terhadap siapapun dan mencintai keluarganya.

Di surat wasiat yang terpajang di dinding pada sebuah ruangan, Tjong A Fie menegaskan agar Yayasan Toen Moek Tong memberi bantuan keuangan bagi pemuda yang tidak mampu dan berkelakuan baik dan pendidikannya terbatas tanpa pandang bulu, orang cacat, juga korban bencana alam. (*)

Tjong A Fie Mansion di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kesawan Square, Kota Medan, Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *