Jakarta, Bonarinews.com– Fakta baru mengemuka dalam kasus penyiraman air keras terhadap advokat HAM Andrie Yunus. Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menyebut serangan ini bukan aksi tunggal, melainkan diduga bagian dari operasi besar yang melibatkan banyak pelaku.
Dalam hasil investigasi independennya, TAUD menemukan bukti permulaan bahwa sedikitnya belasan orang terlibat dalam aksi yang disebut sebagai percobaan pembunuhan berencana tersebut. Bahkan, selain aktor lapangan, diduga ada keterlibatan pelaku dari kalangan sipil.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa serangan terhadap Andrie Yunus bukan kejahatan biasa. TAUD menilai pola yang muncul mengarah pada operasi terorganisir dengan perencanaan matang, yang berpotensi melibatkan jaringan lebih luas.
TAUD juga mencermati dinamika pernyataan di ruang publik, termasuk sikap resmi dari Prabowo Subianto. Menurut mereka, perbedaan narasi yang berkembang justru menimbulkan pertanyaan baru terkait transparansi pengungkapan kasus.
Sejauh ini, publik disuguhkan berbagai versi dari aparat penegak hukum, yang dinilai belum sepenuhnya menjawab siapa aktor utama di balik serangan tersebut. Kondisi ini memperkuat desakan agar dilakukan pengusutan secara menyeluruh dan independen.
TAUD menegaskan pentingnya membuka secara terang benderang seluruh rangkaian peristiwa, termasuk mengungkap aktor intelektual di balik dugaan operasi ini. Mereka juga mendorong pembentukan tim independen guna memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.
Kasus ini terus menjadi sorotan nasional karena menyangkut keselamatan pembela HAM serta integritas penegakan hukum di Indonesia. (Redaksi)