SAMARINDA, BONARINEWS.COM – Bentang Alam Wehea–Kelay di Kalimantan Timur kembali membuka tabir sebagai salah satu kantong keanekaragaman hayati terpenting di Indonesia. Riset kolaboratif berskala besar yang melibatkan Universitas Mulawarman (Unmul), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menemukan sedikitnya 1.618 spesies flora dan fauna yang hidup di kawasan seluas 532.143 hektare tersebut.
Temuan ini menegaskan bahwa wilayah utara Kalimantan Timur bukan sekadar hamparan hutan biasa, melainkan rumah bagi ribuan makhluk hidup, termasuk satwa langka dan terancam punah. Ironisnya, dari luas bentang alam Wehea–Kelay, hanya sekitar 19 persen yang berstatus kawasan lindung resmi. Selebihnya berada di area konsesi kehutanan, perkebunan, serta wilayah kelola masyarakat.
Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Abdunnur, menjelaskan bahwa data yang dihimpun menunjukkan proporsi keanekaragaman yang sangat signifikan dibandingkan total kekayaan hayati Kalimantan. Di antaranya mencakup 38 persen mamalia darat, 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, serta 70 persen amfibi. Selain itu, peneliti juga mencatat keberadaan 987 spesies tumbuhan hutan tropis serta 88 jenis serangga, termasuk kupu-kupu dan kumbang sungut.
Sejumlah satwa ikonik Kalimantan turut terdeteksi dalam penelitian ini, seperti Orangutan Kalimantan, Macan Dahan, Kucing Merah, Trenggiling, hingga Rangkong Gading yang dikenal sensitif terhadap gangguan habitat. Keberadaan spesies-spesies tersebut memperkuat posisi Wehea–Kelay sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati di tengah tekanan alih fungsi lahan.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, mengungkapkan bahwa jumlah spesies yang teridentifikasi meningkat signifikan dibandingkan inventarisasi terakhir pada 2016. Terdapat penambahan 275 jenis baru, yang berhasil terdeteksi berkat pemanfaatan teknologi pemantauan modern seperti camera trap untuk satwa liar yang sulit dijumpai serta teknologi bioakustik yang merekam suara fauna di dalam hutan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menekankan bahwa nilai strategis Wehea–Kelay tidak hanya terletak pada keanekaragaman hayatinya. Kawasan ini juga berperan sebagai wilayah tangkapan air utama dan menjadi hulu dua sungai besar di Kalimantan Timur, yakni Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Kedua sungai tersebut menjadi sumber kehidupan dan pasokan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Berau dan Kutai Timur.
Menurutnya, perlindungan Wehea–Kelay memerlukan pendekatan pengelolaan berbasis bentang alam yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat lokal. Upaya kolaboratif dinilai penting agar fungsi ekologis hutan tetap terjaga dan manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang. (Redaksi)
