Sumut di Tengah Bencana: 488 Kejadian, 147 Meninggal, 28 Ribu Mengungsi, Polisi dan Relawan Bergerak Tanpa Henti

Bagikan Artikel

Medan, Bonarinews.com – Sejak 24 November 2025, Sumatera Utara diterjang bencana bertubi-tubi. Tanah longsor, banjir, pohon tumbang, hingga angin puting beliung menghantam 21 kabupaten/kota, meninggalkan jejak luka, kehilangan, dan ribuan pengungsi. Dalam lima hari terakhir, tercatat 488 kejadian bencana, menelan 147 korban meninggal, 32 luka berat, 722 luka ringan, dan 174 orang masih dalam pencarian. Lebih dari 28 ribu warga harus meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan sementara.

Wilayah Tapanuli Tengah menjadi episentrum bencana. Dengan 56 kejadian tercatat, 691 warga terdampak, termasuk 47 meninggal dunia dan 51 masih dicari tim SAR. Kota Sibolga juga berduka, mencatat 33 korban meninggal dan 56 hilang. Daerah lain seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal tidak luput dari longsor dan banjir yang memaksa ribuan warga mengungsi.

Di tengah krisis itu, Polda Sumut menjadi garda terdepan penanganan bencana. Ribuan personel diterjunkan, total 3.553 orang, untuk melakukan evakuasi korban, membuka akses jalan, mendirikan posko logistik dan dapur umum, serta memberikan layanan kesehatan di lokasi terdampak. Kapolda Sumut, Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, memastikan seluruh upaya dilakukan dengan koordinasi lintas pihak: BNPB, Basarnas, TNI, pemerintah daerah, dan relawan.

Selain menurunkan personel, Polda Sumut juga menghadirkan teknologi untuk mempermudah komunikasi di wilayah terisolir. Lima unit Starlink, 60 HT Harris, mobil repeater, mobil komob, dan drone disiagakan agar masyarakat terdampak tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga dan tim SAR. Di Pandan, ibukota Tapteng, polisi menjadi tim pertama yang hadir untuk membuka akses dan memberikan bantuan.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Dr. Ferry Walintukan, menekankan bahwa prioritas utama adalah keselamatan jiwa dan percepatan pencarian korban. “Seluruh jajaran tetap siaga penuh. Cuaca masih berpotensi hujan, jadi kami harus bergerak cepat untuk menolong masyarakat,” ujarnya.

Di balik angka dan statistik, cerita manusia terselip di setiap titik bencana: keluarga yang menanti kabar orang tercinta, warga yang kehilangan rumah, dan anak-anak yang kedinginan di pengungsian. Namun, di tengah duka itu, kehadiran polisi, tim SAR, relawan, dan bantuan logistik menjadi secercah harapan. Mereka hadir bukan sekadar untuk menyalurkan bantuan, tetapi untuk menunjukkan bahwa warga Sumut tidak sendirian menghadapi musibah.

Bencana alam memang tak bisa diprediksi, tapi upaya penyelamatan, solidaritas, dan kerja tanpa henti menjadi bukti nyata bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah lumpur, derasnya hujan, dan puing reruntuhan. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *