Oleh Harida Stepina br Purba
Di era digital saat ini, suara warga Indonesia terdengar lebih lantang dari sebelumnya. Dari gang-gang kecil di kota hingga ibu kota provinsi, media sosial menjadi arena di mana masyarakat mengekspresikan pendapat, mempertanyakan kebijakan pemerintah, dan bahkan menggerakkan perubahan. Fenomena ini menunjukkan satu hal: demokrasi Indonesia tidak lagi diam—ia hidup, bergerak, dan diuji oleh cara baru warga berpartisipasi.
Kemajuan teknologi membuat informasi bergerak cepat. Warga bisa mendapatkan berita instan dan menyampaikan pendapat mereka tanpa menunggu saluran resmi. Namun, kecepatan ini juga membawa risiko. Hoaks menyebar, perbedaan pendapat sering memuncak menjadi konflik, dan kesalahpahaman dapat merusak rasa percaya antarwarga. Dengan kata lain, digitalisasi membawa tantangan baru bagi kualitas demokrasi kita.
Di sisi positif, meningkatnya partisipasi masyarakat menunjukkan kesadaran kewarganegaraan yang tumbuh. Generasi muda, khususnya, mulai berani bersuara tentang isu yang memengaruhi kehidupan mereka. Mereka tidak lagi pasif, melainkan aktif mengamati dan menilai jalannya pemerintahan—sebuah tanda bahwa demokrasi kita masih bernyawa.
Namun, derasnya arus informasi belum diimbangi literasi digital yang memadai. Banyak orang percaya dan menyebarkan berita tanpa mengecek fakta. Akibatnya, konflik sosial kerap muncul, dan persatuan masyarakat terancam. Kecepatan tanpa ketelitian bisa melemahkan rasa saling percaya dan nilai-nilai kebangsaan.
Selain itu, kemampuan menghadapi perbedaan pendapat secara dewasa menjadi kunci. Diskusi publik yang seharusnya membangun sering berubah menjadi saling serang dan menyinggung. Jika kondisi ini terus berlangsung, toleransi dan musyawarah—landasan demokrasi kita—dapat terkikis.
Untuk itu, peran pemerintah, pendidikan, dan masyarakat menjadi sangat penting. Pemerintah perlu menghadirkan informasi yang jelas dan transparan. Pendidikan harus menekankan literasi digital dan nilai-nilai kewarganegaraan. Sementara masyarakat diharapkan lebih bijak dalam menyaring informasi dan menghargai perbedaan.
Dinamika isu nasional saat ini bukan sekadar riuhnya opini, tetapi cermin bahwa demokrasi Indonesia sedang diuji dan berkembang. Tantangan yang muncul seharusnya menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas partisipasi warga. Dengan sikap kritis, bertanggung jawab, dan saling menghargai, kita dapat menjaga demokrasi yang kuat, sehat, dan berlandaskan Pancasila. Suara warga, kini lebih jelas terdengar—dan masa depan demokrasi ada di tangan kita bersama.
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Jakarta, Prodi Psikologi